by

Moderasi Islam dan Etika Sosial

  • Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag., M.H., Kakan Kemenag Lingga

Kehadiran Islam di muka bumi adalah sebagai pedoman hidup manusia dan untuk memberikan solusi yang tegas terhadap berbagai persoalan kemanusiaan. Salah satu persoalan kemanusiaan yang perlu mendapat perhatian besar dari umat Islam adalah persoalan etika. Etika dan moralitas adalah puncak nilai keberagamaan seseorang muslim. Hal ini sejalan dengan Hadits Rasulullah saw, yang menyatakan bahwa Beliau diutus adalah untuk menyempurnakan ahklak di muka bumi. Ber-Islam yang tidak membuahkan akhlaq adalah sia-sia.

Menurut Raghib al-Isfahani, etika Islam berbentuk ethical individual social egoism dalam motivasi moral. Maksudnya, pengajaran perilaku moral individu tidak mesti mengorbankan perilaku moral etis social. Etika islam tidak hendak memasung otoritas individu untuk social sebagaimana faham komutarianisme atau pengorbanan social untuk individu sebagaimana faham universalisme. Etika Islam harus berlandaskan pada cita-cita keadilan dan kebebasan bagi individu untuk melakukan kebaikan social. Etika Islam adalah sebuah pandangan moralitas agama yang mengarahkan manusia untuk berbuat baik antar sesamanya agar tercipta masyarakat yang baik dan teratur ( Kahar Mansyur : 1995 ).

Dalam kehidupan social-plural, Islam mengajarkan umatnya untuk mengedepakan kesadaran kolektif agar dapat menjaga sikap yang saling menghormati dan menghargai. Islam sebagai agama sejak lama telah mengemban tanggungjawab dalam memperjuangkan nilai-nilai etika untuk kedamaian dan menghindari kekerasan. Secara sosiologis, cara-cara hidup yang mengedepankan toleransi dan kedamaian diyakini menjadi variable determinan bagi terciptanya integritas berbangsa dan bermasyarakat. Dalam konteks ini bagi umat Islam dituntut untuk mengembangkan sikap yang lebih dewasa ketika mengaktualisasikan keberagamannya. Sikap dewasa umat Islam ditunjukkan dengan mendekati ajaran agamanya dari yang paling dalam, hakiki, substansial, atau dicari fundamental idea-nya dari pada sekedar memperdebatkan hal-hal yang furu’yah atau instrumental.

Secara aksiologis muatan nilai yang terkandung dalam agama Islam terjalin dari nilai-nilai pokok, seperti iman, ihsan serta instrumental value ( nilai-nilai perangkat ) seperti tatacara bermasyarakat, berpolitik, berkomunikasi dan sebagainya. Nilai-nilai tersebut menjadi kesatuan nilai dalam tatanan kehidupan masyarakat yang dijadikan sumber etika pergaulan sehari-hari.

Disamping itu, agar manusia dalam kodratnya sebagai mahluk Tuhan dan makhluk sosial sekaligus dapat terjaga dari perilaku yang menyimpang yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan moralitas atau etika, maka diperlukan adanya keseimbangan dan keserasian dalam bertindak. Untuk itu melalui moderasi Islam dan etika sosial, tujuan itu dapat dilaksanakan melalui prinsip-prinsip sebagai berikut; yaitu, pertama prinsip sikap baik, yaitu kesadaran yang harus dimunculkan dan diperlukan dalam berhubungan dengan siapa saja dengan sikap positif dan baik. Sikap ini dilaksanakan secara kongkrit melalui sikap adil, jujur dan setia kepada orang lain.

Kedua, prinsip keadilan, yaitu, sikap dimana kita mesti memberikan kepada orang lain akan hak-haknya. Dalam prinsip ini terdapat tiga dasar yang menjadi tolok ukur yaitu, bijaksana/ hikmah, keberanian/syaja’ah, dan menjaga kesucian/ iffah ( Imam Sukardi, dkk : 2003 ).

Ketiga, prinsip hormat terhadap diri sendiri, yaitu memberlakukan diri sebagai sesuatu yang bernilai dengan dasar bahwa manusia adalah person, pusat berperhatian, kebebasan dan memiliki suara hati serta makhluk berakal budi. Keempat; Prinsip kebebasan dan bertanggungjawab, yaitu, meyakini bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kebebasan memilih, menentukan dan melaksanakan tanpa ada unsur ikatan yang mengikat ataupun paksaan, baik bebas secara individual maupun social. Dari prinsip ini maka manusia dituntut bertanggung jawab atas segala tindakannya dengan tidak mengorbankan hak-hak orang lain.

Dengan cara demikian kehidupan masyarakat akan mencerminkan etika sosial yang agamis dan kehidupan beragama yang sosialis. Inilah etika yang lahir dari moderasi yang kita inginkan , yang harus kita bangun di tengah-tengah pergaulan masyarakat global-plural saat ini. Mudah-mudahan , sebagai masyarakat multi kultur kita tetap mampu memperteguh tata kehidupan yang harmonis, rukun dan damai yang memiliki etika social yang tinggi dengan ber-moderasi yang tepat untuk kemajuan bangsa sa’at ini dan masa yang akan datang. Aamiin.***

News Feed