by

Saat Malaikat Menjemput

  • Oleh: H. Muhammad Nasir, S.Ag., M.H., Kakan Kemenag Lingga

Kehidupan dunia yang fana ini, kadang menyebabkan manusia terlena dengan fatamorgana yang menggoda. Bagaikan kicauan burung yang menyahut indah dengan lantunan suara yang merayu dan menggoda hati yang sedang duka.

Perjalanan manusia dalam kehidupan dunia adalah perjalanan menuju kematian. Siapa saja pasti akan mengalaminya, karena Allah SWT telah memberi petunjuk kepada manusia dalam QS Al-Anbiya: 35 , yang artinya: Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan serta kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu akan dikembalikan. (QS Al-Anbiya: 35).

Setelah seseorang meninggal dunia, sambil menunggu datangnya hari kiamat tiba, sebagian ulama berpendapat seluruh ruh manusia ditempatkan di alam barzakh. Menurut Dr.Abd al-Basith Muhammad (2004), bahwa tempat tinggal ruh yang paling indah adalah di al-mala’al-a’la sebuah tempat yang tinggi disisi Allah SWT.

Dalam sebuah karya yang sangat sufistik, Asghar Behmani dalam bukunya “Saat Malaikat Menjemputku” menjelaskan, setiap manusia akan mengalami dan menemui kehidupan gaib di alam barzah setelah kematiannya. Beliau mengatakan, alam barzah adalah potret dari alam hari kiamat. Manusia adalah makhluk terindah diciptakan Allah SWT yang memiliki tujuan yang amat muliya. Sehingga Imam Ali Bin Abi Thalib, RA, mengungkapkan; “Oh, ..,. alangkah sedikitnya bekal, jauhnya perjalanan, melelahkannya bepergian, alangkah agungnya tujuan” (Ali Bin Abi Thalib).

Ketika seseorang menginjak usia tua, sandiwara dunia dan hiruk pikuknya terasa tidak berarti, karena dunia dan segala isinya sudah kelihatan tipuannya. Sekiranya punggung bumi ini bisa berbicara kepada manusia, pastilah ia akan mengatakan bahwa ia tak sanggup lagi memilkul beban dosa tingkahlaku manusia yang sangat menjengkelkan. Namun, semua orang ingin dicatat selama berada di punggung bumi ini sebagai orang baik-baik, dan ia tidak mau dicatat sebagai biang kerok dalam hidup ini.

Allah SWT telah memberikan pilihan dalam hidup ini, apakah kita tercatat sebagai orang baik atau tidak tergantung bagaimana kita memandang dan melakoni hidup ini. Hidup kita sangat dipengaruhi oleh cara pandang dan prioritas tentang apa yang menjadi kebutuhan kita. Seseorang yang memandang kebutuhan hidupnya hanyalah apa yang berkaitan dengan kebendaan dunia, maka ia akan berusaha keras untuk memperolehnya. Sehingga seluruh orientasi hidupnya terpokus mengejar dunia dan segala isinya. Kebahagiaaannya baru akan hadir, seiring kehadiran hal-hal duniawi dalam hidupnya. Ia akan menghabiskan waktunya bahkan mengorbankan nyawanya, untuk apa yang ia butuhkan itu.

Bagi seorang mukmin, yang menyadari kedudukannya disisi Allah SWT, hal tersebut tidak akan terjadi pada dirinya. Meskipun Allah SWT dengan jelas mengisyaratkan bahwa dunia dan segala isinya, diciptakan untuk dinikmati dan dikelola oleh manusia. Oleh sebab itu, berhati-hatilah ketika masih berada di panggung sandiwara dunia ini. Jangan sampai beban dosa yang kita miliki lebih besar dari pahala yang kita amalkan.

Sebelum malaikat maut mengetuk pintu rumah kita, segeralah berpaling sedikit-demi sedikit dari mencintai dunia ini. Segeralah kita jemput cahaya Ilahi yang selalu kita lari darinya. Segeralah kita perbaiki ketaatan kita. Karena cahaya Allah SWT tampil dihadapan kita dalam bentuknya yang bereda-beda. Ia bisa hadir disebabkan oleh keta’atan kita kepadaNya. Ketekunan dalam ibadah, zikir dan do’a, adalah jendela cahaya-Nya.

Tetapi cahaya-Nya bisa pula hadir melalui cela-cela sempit. Misalnya, kita sering menyaksikan orang-orang yang baru menemukan cahaya-Nya saat melihat musibah menimpa orang lain. Ada pula orang-orang menemukan cahaya-Nya ketika bencana menimpa dirinya. Dalam keadaan apapun cahaya-Nya hadir, dan bila kita mendapatinya, maka kita akan mampu melewati berbagai kebingungan dan kebimbangan dalam menjalani hidup. Sebagian dari kita ada yang memang tidak tahu arah hidupnya, sebagian lagi telah lebih dulu salah arah, dan sebagian yang lain sedang terjebak dalam persimpangan jalan. Tetapi hidayah-Nya, yang terwujud dalam AlQur’an dan sunnah telah menunjukkan dengan jelas terang benderang cahaya-Nya. Dan mereka yang sungguh-sungguh pasti akan terliputi oleh cahaya-Nya (QS 24: 35-36 ). Bahkan dalam ayat lain Allah SWT secara tegas akan menganugerahkan cahaya-Nya kepada mereka yang mampu meneguhkan keyakinannya dan pemeliharaan diri, agar dengan cahaya tersebut perjalanan hidup mereka tertuntun (QS 57: 28).

Tentu dengan tertuntun cahaya-Nya, kita telah terbebas dari rasa takut dan cemas. Bukan saja ketakutan dan kecemasan akan sampai tidaknya kita ke tempat tujuan, tetapi juga terbebas dari gangguan dan hambatan yang merintangi perjalanan hidup kita. Hanya yang mendapati cahaya-Nya, yang dapat keluar dari lorong gelap kehidupan, menuju pintu kematian ketika malaikat maut menjemput. Maka kita semua berharap ketika Ia datang, kita berada dalam genggaman cahaya-Nya.

Kita sedang berada dalam tuntunan dan bimbingan-Nya , sehingga kita dapat menuju barzakh yang sangat indah menunggu kiamat yang dijanjikan. Aamiin. ***

News Feed