by

Theologi Virtual dan Makna Hidup

  • Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag. MH, Kakan Kemenag Lingga

Dalam khazanah keislaman, istilah theologi dikenal dengan berbagai istilah antara lain ilmu usuluddin, ilmu tauhid, ilmu kalam. Ketiga istilah tersebut merupakan ilmu yang menjelaskan pengetahuan tentang ketuhanan. Secara konsep, istilah theology virtual tidak dikenal dalam literature keislaman, tetapi yang dikenal diantaranya adalah theology lingkungan, theology kesehatan, theology kontemporer, theology Islam dan lainnya yang tidak kita sebutkan disini. Theologi virtual merupakan modifikasi dari theologi lingkungan dengan mengasumsikan beberapa faktor yang memiliki prediksi yang sama. Adapun prediksifikasi faktor yang sama adalah manusia sebagai individu, sebagai makhluk Tuhan, makhluk sosial dan kosmis ekologis (Dr. Mujiono Abdillah, MA : 2001).

‘Virtual’ memiliki arti dekat ( Sumber : https://www.smarteye.id/blog ). Istilah virtual yang kita maksudkan dalam artikel ini adalah bentuk komunikasi langsung tanpa bertemu secara nyata, tetapi mirip seperti nyata.
Dalam arti yang lebih konkret berarti hal-hal nyata yang kita alami dalam berkomunikasi dalam masyarakat dengan cara dekat. Dengan kata lain theologi virtual berarti komunikasi yang dilakukan manusia tanpa bertemu tetapi sama dengan bertemu atau mendekati kenyataan yang berkaitan dengan cara pandang ilmu ketuhanan. Dalam hal ini yang kita maksud adalah pandangan teologi Islam.

Dalam persfektif theologi Islam, komunikasi sosial merupakan bagian integral hubungan manusia dengan sesama makhluk Tuhan. Karena itu ada beberapa hubungan yang tak dapat dipisahkan yaitu hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan makhluk diluar manusia (alam kosmik) dan hubungan manusia dengan Tuhannya.

Kemajuan peradaban modern menyebabkan komunikasi dan hubungan antarmanusia dilakukan dalam alam virtual yaitu alam yang mendekati kenyataan. Komunikasi ini telah menyebabkan keakraban sosial dan personal yang bersifat nyata seakan-akan sirna. Dalam kondisi seperti ini tanpa disadari banyak nilai-nilai kemanusiaan dan sosial keagamaan yang terabaikan dan bahkan hilang. Makna kedekatan mengalami perubahan dan nilai-nilai yang mendasarinya pun juga ikut mengalami perubahan. Hubungan manusia berubah dari kedekatan nyata kepada kedekatan tidak nyata. Kehidupan sosial dibentuk dengan pseudo clasnes, yang dapat menipu dan bertentangan dengan prinsif alam nyata atau alam wujud. Sehingga terasa ada sesuatu yang hilang dalam hidup ini yaitu makna hidup. Karena itulah perlu direkonstruksi kembali dan di tata ulang makna kehidupan manusia dalam konsep theologi virtual yang akan kita jelaskan.

Salah satu makna hidup dalam hubungan kosmik kehidupan sosial adalah keakraban atau kedekatan. Keakraban merupakan hakikat kemanusiaan sebagai makhluk sosial. Manusia tidak bisa hidup tanpa ada orang lain disisinya. Hidup kita membutuhkan hubungan akrab yang nyata. Agama mengajarkan keakraban yang nyata merupakan bagian dari cinta kasih yang menjadi dambaan seluruh manusia. Pendek kata dalam kehidupan sosial tanpa keakraban hidup ini tidak bermakna. Hidup terasa hampa dan hidup terasa sia-sia. Dalam hidup ini kita membutuhkan kehadiran orang-orang yang kita cintai. Apalagi dalam kondisi tertentu , umpama saja dalam kondisi sakit, ketika sendirian, dalam kondisi umur tua, manusia membutuhkan kehadiran orang lain yang dicintai dengan akrab, dekat, dan nyata. Disamping itu diperlukan pula orang-orang tertentu sebagai sohabat yang dapat memberikan sentuhan nyata ketika kita mengalami derita. Keakraban ini sekaligus menjadi dukungan sosial dan moral yang menjadi pesan suci agama.

Dukungan sosial yang nyata akan memberikan makna hidup bagi manusia. Namun demikian, dukungan sosial saja tidak cukup, tetapi harus diperkuat dengan dukungan keimanan yang kuat pula. Keimanan yang kuat merupakan keyakinan bahwa Allah SWT selalu hadir dan dekat meberikan bimbingan dan perlindungannya dalam hidup. Dengan kata lain kehadiran orang-orang yang akrab yang dicintai serta diperkuat dengan keyakinan adanya kasih sayang Allah SWT yang menyertai akan semakin memperjelas dan nyata makna hidup kita. Kenyataan itulah yang menjadi fenomena Encounter atau pertemuan yang bermakna dalam hidup manusia (Crumbaugh: 1973). Dan pertemuan seperti itu merupakan salah satu sumber makna hidup yang hakiki. Sebab itu Allah SWT memberikan petunjuk sebagaimana dalam QS, Qaf : 16 , yang artinya: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. ‘ (QS. Qaf ayat 16).

Oleh sebab itu pertemuan nyata dalam theologi virtual mesti dikembangkan melalui cara yang tepat yaitu, pertama, mengembangkan penghayatan hidup bermakna dengan jalan menyadari dan mengaktualisasikan potensi kualitas insani yang diarahkan pada pemenuhan makna hidup yang nyata.

Kedua, mengembangkan kualitas insani secara terpadu dalam dimensi ragawi, dimensi personal, dimensi sosial, dimensi spiritual. Ketiga, mengembangkan potensi dan kualitas social berbasis theology virtual yang mengarah pada pemenuhan makna hidup. Keempat, mengembangkan rasa keimanan dengan dukungan hubungan sosial yang berbasis theologi virtual sebagai proses pengembangan hidup bermakna.
Dalam relasi social bebasis theologi virtual, manusia hendaknya memperhatikan indikator makna hidup dalam wujud sosial yang ideal yaitu, pertama, masyarakat maju dan modern, yaitu masyarakat yang memiliki makna hidup dalam arti, sejahtera lahir bathin dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi peradaban tinggi dan berkualitas sebgaimana yang disinyalir Allah SWT dalam QS. Ali Imran ayat 110, yang artinya : Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik ( berkualitas ) yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. (QS 3 : 110 ). Kedua, masyarakat mandiri, yaitu masyarakat yang memiliki kesadaran dan kemampuan swadaya menunjukkan potensi dirinya, mengaktualisasikan dirinya terbebas dari kungkungan ketergantungan hidup untuk menentukan hidup dan nasibnya. Ketiga, masyarakat bermoral atau beradab yaitu memiliki hati nurani, berkepribadian, berkebebasan dan bertanggungjawab baik kepada sesama manusia dalam kehidupan sosial, ataupun kepada Tuhannya sebagai hamba.

Dengan demikian theologi virtual, memiliki nilai yang dapat memberi makna hidup dalam kehidupan nyata, walaupun manusia hidup dan berada dalam virtual world population atau penduduk dunia maya.

Akhirnya kita berharap, manusia dan kehidupan ini dapat dipertahankan sebagai tempat berkarya dan berusaha untuk menimba pahala di sisi Allah Yang Maha Kuasa, sehingga kita dapat menikmati makna hidup dengan nyata. Aamiin.***

News Feed