by

Spiritual Menulis

  • Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH, Kakan Kemenag Lingga

Jika anda membuka halaman Fb alias Facebook, anda langsung ditanya dengan kalimat; “Apa yang anda pikirkan sekarang?” Pertanyaan ini adalah pertanyaan tunggal untuk siapa saja yang menggunakan Facebook. Setelah itu anda diminta menulis apa saja dengan kalimat “Tulis komentar sekarang“. Dengan tanpa banyak pikir pengguna Facebook langsung menuliskan sesuatu yang ada dalam pikirannya. Siapa saja yang membuka halaman ini , apakah sarjana atau bukan, apakah orang berpangkat atau tidak, yang jelas tidak terikat oleh status sosial dan tinggi rendahnya pendidikan, dengan cekatan dan cerdas pengguna Facebook mampu menuliskan sesuatu yang ada di pikirannya. Dan bahkan jika dikumpulkan seluruh pikiran yang kita tuangkan dalam halaman Facebook selama ini, sudah menjadi satu jilid buku yang dapat dibaca.

Budaya menulis sebenarnya sudah berkembang sejak lama. Apalagi sejak berkembangnya pengguna Facebook di dunia maya. Menulis merupakan kebiasaan masyarakat modern yang tak terdandingi. Artinya bahwa sa’at ini penduduk dunia maya telah sukses menjadi penulis yang handal. Dalam kondisi dan situasi apapun mereka mampu menuangkan pikirannya dalam bentuk tulisan. Tetapi dalam ertikel ini bukan itu yang kita maksud. Yang maksud tentunya adalah menulis yang memiliki nilai budaya yang dilandasi dengan keilmuan dan moralitas agama yang kuat, sehingga menjadi karya dan budaya yang dapat dicatat dalam sejarah peradaban manusia.

Lalu apa yang mesti kita lakukan? Suatu ketika Imam Al-Ghazali memanggil murit-muridnya lalu berkata: “Jika engkau bukan anak raja dan juga bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. Pesan ini singkat tetapi memiliki visi peradaban yang sangat besar. Karena kita bukan siapa-siapa, maka wajar jika ungkapan sang Mujaddid ini kita jadikan motivasi dalam kehidupan ini. Jadikan menulis sebagai aktivitas yang dicintai dan kurangi menulis komentar di halaman Fb.

Menulis adalah komunikasi. Berbeda dengan berbicara, menulis mempunyai sifat keabadian, apa yang ditulis akan abadi. Tirulah para ulama dan ilmuan yang rajin menulis. Pemikirannya tidak akan layu sepanjang sejarah peradaban manusia. Bukunya adalah warisan budaya yang paling abadi. Lewat bukunya, manusia belajar, mempelajari teori dan pemikiran masa lampau, serta mengembangkannya sesuai dengan tuntunan zaman. Bahkan Allah SWT, bersumpah dalam QS Al-Qalam yang artinya : “Nun, demi Qalam (pena) dan apa yang mereka tulis” ( QS. Al-Qalam : 1 ). Hal ini juga mengisyaratkan pentingnya budaya menulis. Menulis merupakan perintah agama. Perintah menulis bertujuan untuk membangun kesalehan dan kepribadian manusia.

Menurut Prof. Dr. Qadri Azizy, MA, menulis dapat mendidik kepribadian yang baik. Tulisan yang indah dan sopan dapat mencerminkan kepribadian seseorang (Qadri Azizy: 2002). Sebab itulah Zaenal Arifin Thoha, seorang budayawan Yokyakarta, menggambarkan manfaat besar manulis dalam ungkapan kata-katanya: “ Dengan menulis aku ada, dengan menulis aku hidup, dengan menulis aku membaca, dengan menulis aku dibaca, dengan menulis aku mengetahui, dengan mnulis aku diketahui, dengan menulis aku mengerti, dengan menulis aku dimengerti, dengan menulis aku menghargai, dengan mwnulis aku dihargai, dengan menulis aku berubah, dengan menulis aku mengubah, dengan menulis aku beribadah, dengan menulis aku berda’wah, dengan menulis aku bersaudara, dengan menulis aku mengabdi, dengan menulis aku menjadi diri sendiri ( Zainal Arifin Thoha: 2005).

Menulis termasuk aktivitas ibadah yang sangat penting. Dalam Islam banyak amalan yang membutuhkan tulisan ataupun catatan. Umpamanya dalam ibadah zakat, infak, sodaqah dan waqaf adalah ibadah yang membutuhkan keahlian mnulis atau mencatat. Sebab itu kegiatan menulis merupakan perintah Allah swt yang sangat penting. Menulis memiliki nilai suci di hadapan Allah SWT. Kalau bukan karena menulis sampai hari ini kita tidak mengenal mushab Al-quran, Kitab Hadits, dan kitab-kitab para ulama besar terdahulu.

Karena menulis merupakan ibadah, maka perbuatan menulis memiliki nilai spiritual yang yang tinggi yang dapat meningkatkan derajad manusia di hadapan Tuhannya. Dalam kontek ini, menulis memiliki makna, pertama: menghidupkan, yakni menghidupkan hukum-hukum Tuhan dalam ibadah yang diperintahkan. Kedua: memiliki nilai-nilai kesucian yakni, menulis tidak hanya bernilai material yang profane, tetapi juga non material yang sakral, seperti menulis yang diniatkan sebagai mematuhi perintah Allah SWT dan Rasul (menulis Al-Quran dan Hadits untuk dakwah).

Ketiga: terkait dengan Allah SWT, sebagai causa prima kehidupan. Hidup ini anugerah Allah SWT yang mesti dijalani dengan benar. Karena makna hidup ada pada ilmu pengetahuan, terutama pengetahuan tentang Dia Yang Maha Ahad. Dialah penyebab segala sesatu . Dialah Allah yang mangajarkan manusia dengan pena. Karena itu pula Imam Ali RA mengatakan ; “Ikatlah ilmu dengan menulis.”

Menulis sangat membutuhkan keuletan, semangat yang tinggi, dan kegigihan. Sebab dalam prakteknya, tidak sedikit kendala yang harus dihadapi, apalagi bagi para pemula umpamanya saja ; sulit mendapatkan ide, kesulitan menentukan tema, kesulitan membuat judul. sulit memulai atau membuat Lead, sulit menjabarkan atau mengambangkan tulisan.

Untuk dapat melewati berbagai kendala dalam menulis, teruslah berlatih. Teruslah berlatih menulis apa saja, praktikan semua teori yang telah dipelajari. Sebab menulis ibarat berenang, atau main kungfu, seribu teori dipelajari, dikaji, tetapi jika tidak dipraktikan, maka tidak akan berhasil (Habiburrahman el-Syirazi : 2006 ).

Menulis ibarat anak kecil latihan jalan, atau latihan naik sepeda, yang penting mencoba, mencoba, dan terus mencoba. Meskipunn jatuh, berdarah tetapi tidak dihiraukan, ia terus berlatih , memperbaiki kesalahan, memperlancar dan tiada hari tanpa berlatih. Kalau sudah lancar berjalan atau naik sepeda, ia jadikan kebiasaan dan kebutuhan sehari-hari, tiada hari tanpa berjalan dan naik sepeda.

Oleh sebab itu mulai sekarang berlatihlah menulis dengan baik. Jangan putus asa, semua mulai dari nol, tidak ada yang langsung bisa manulis, berproses dari nol adalah kenikmatan yang akan dirasakan di tengah dan akhir perjalanan. Tidak ada kata terlambat, sepanjang hayat dikandung badan, mari berlatih menulis sebagai peninggalan untuk anak cucu kita nanti. Aamiin.***

News Feed