by

Memetik Hikmah Musibah Jatuhnya Pesawat

  • Oleh : H. Muhammad Nasir.S.Ag.MH, Kakan Kemenag Lingga

Peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 Boeing 737-500 menuju Pontianak Kalimantan Barat, telah menimbulkan duka yang sangat dalam. Berbagai pihak menyampaikan ucapan duka atas musibah tersebut.

Pada dasarnya, peristiwa apapun yang terjadi di jagat bumi ini merupakan kehendak Allah Yang Maha Kuasa. Argumentasi ini adalah faham Qadariyah. Berbeda dengan argumentasi Jabbariyah, mereka mendahulukan argumentasi rasional, mengapa dan apa penyebab pesawat tersebut jatuh. Faham ini akan selalu mencari penyebab sampai ke titik temu dengan berdasarkan alasan rasional secara tehnologis. Karena itulah setiap peristiwa kecelakaan pesawat terjadi selalu mengamankan kotak hitam ( black box ) untuk mencari penyebab utama kecelakaan. Namun sayangnya, kalaupun ditemukan penyebab utama kecelakaan pesawat tersebut secara teknologi, jarang yang menyandarkan penyebab itu kepada kekuasaan dan kehendak Allah SWT. Padahal penyebab dari segala sebab tidak lain adalah takdir Allah Yang Maha Kuasa. Argumentasi yang terakhir ini adalah golongan Asya’riyah. Nah, kita tidak mempertentangkan dan menjelaskan ketiga argumentasi tersebut karena pesawat itu telah jatuh.

Pesawat itu terbang membawa total penumpang 50 orang yang terdiri dari 40 orang dewasa, tujuh anak-anak dan tiga bayi ditambah 12 kru,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, seperti dikutip dari laman Antara News (2021). Mereka adalah penumpang yang memiliki tujuan yang sama, namun mereka tidak mengetahui apakah penerbangan mereka selamat atau tidak. Mereka tidak mengetahui bahwa pesawat itu akan mengantarkan mereka kepada alam keabadian.

Seandainya mereka mengetahui bahwa pesawat itu punya destinasi alam kubur, pastilah penumpang itu akan menggagalkan keberangkatannya. Tetapi tubuh-tubuh itu tunduk pada titah dan firman-Nya : “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” (QS. Qaf : 19 ).

Andai mereka tahu, pastilah mereka semua menangis saat menaiki pesawat itu dan sedikit tertawa. Andai mereka tahu pastilah mereka menyempurnakan ibadah mereka sebelum lepas landas. Andai mereka tahu pastilah tidak ada koper yang mereka bawa dan hanya amal saleh yang menjadi bekal yang mereka siapkan. Andai mereka tahu pastilah mereka tidak akan membawa anak-anak mereka. Andai keluarga mereka tahu pastilah semua mereka melepas kepergian mereka dengan derai air mata. Andai orang tuanya tahu, pastilah mereka tak mengizinkan puterinya menjadi pramugari.

Itulah kematian, ia nasehat yang diam namun pasti hadirnya. Itulah ajal, ia penghalang kelezatan. Itulah maut, ia pemisah mereka yang amat kita cintai. Itulah akhir kehidupan, ia punya tempat dan waktunya, kita akan mendatangi lokasi tempat malaikat maut menjemput. Prof. Dr, Buya Hamka berkata, banyak orang yang takut naik pesawat karena takut mati. Padahal kematian banyak terjadi diatas tempat tidur.

Imam Syafii mengingatkan kita dalam syairnya: “ Berbekallah dengan ketaqwaan, karena engkau tidak tahu jika malam datang apakah engkau masih hidup esok hari. ”Betapa banyak pengantin yang dihias untuk pasangannya, sedangkan arwahnya telah dicabut pada malam yang mulia, berapa banyak anak-anak kecil yang diharapkan panjang umurnya, dan jasadnya telah dibenamkan dalam gelapnya kubur. Betapa banyak orang sehat mati tanpa sakit, betapa banyak orang sakit hidup berkepanjangan. Betapa banyak anak muda ketika sore dan pagi tertawa, sedang kain kafan ditenun untuknya. Betapa banyak orang yang tinggal di istana saat pagi, sorenya ia tinggal di alam kubur.”

Karena kematian sudah merupakan kepastian, dan kematian merupakan peristiwa menakutkan, maka orang lebih memilih tidak memikirkannya dan berusaha menghindarinya agar bisa merasakan kebahagiaan setiap saat yang dilaluinya ( Dr. Komaruddin Hidayad : 2009 ). Tetapi bagi mereka yang hati dan fikirannya selalu merasa terikat dan memperoleh bimbingan Tuhan, kematian sama sekali tidak menakutkan karena dengan berakhirnya episode kehidupan duniawi berarti seseorang telah beranjak lebih dekat dengan Tuhannya yang selalu di cintai dan dirindukan.

Untuk itu, kita tidak perlu meratapi kematian, tetapi yang sangat penting dibalik itu adalah merenungkan kematian. Kita harus mengambil pelajaran dari semua peristiwa itu, kita mesti mampu memberi makna setiap peristiwa kematian yang terjadi, apakah karena kecelakaan pesawat maupun tidak. Yang jelas, kita tidak boleh pasif dengan adanya kematiaan. Justru kita mesti lebih serius menjalani hidup ini, mengingat jatah umur yang teramat pendek. Boleh saja orang merasa dirinya sukses dan berjaya dalam prestasi hidup, apakah dalam bidang ekonomi, politik, popularitas , kecerdasan dan banyak prestasi lainnya , namun ingat semua itu tidak memiliki arti apa-apa jika tidak disyukuri dan dimanfa’atkan sesuai petunjuk Yang Maha Kuasa. Sungguh manusia akan merugi karenanya, kecuali mereka yang berpegang teguh pada tali Allah swt dan mengisi hari-harinya dengan amal kebajikan.

Mari bersama kita doakan para syahid dan syahidah yang telah wafat itu. Semoga surga telah menanti kedatangan mereka. Kepada seluruh keluarga yang ditinggalkan semoga sabar dalam menghadapi musibah, karena dibalik musibah itu ada hadiah yang terindah dari Allah SWT. Aamiin.***

News Feed