by

Teknologi dan Theologi

  • Oleh: H. Muhammad Nasir, S.Ag., MH., Kakan Kemenag Lingga

Tak dapat dipungkiri bahwa teknologi sebagai supremasi produk kreativitas rasio manusia merupakan piranti mutakhir yang merajai pentas peradaban modern saat ini. Hampir sektor kehidupan dapat dipastikan memanfaatkan jasa teknologi mulai dari peralatan rumahtangga sampai kebutuhan dunia kerja.

Menurut kamus wikipedia bahasa Indonesia, Internet (interconnected network) adalah sistem jaringan komputer yang saling terhubung secara global dengan menggunakan paket protokol internet (TCP/IP) untuk menghubungkan perangkat di seluruh dunia. Internet membawa beragam sumber daya dan layanan informasi, seperti dokumen hiperteks yang saling terkait dan aplikasi World Wide Web (WWW), surat elektronik, telepon, dan sebagainya.
Sebagai produk kreativitas manusia, internet telah menguasai hampir seluruh aktivitas manusia, baik yang bersifat pribadi, sosial bahkan dalam aktivitas antarnegara. Perkembangan teknologi internet yang begitu pesat dan spektakuler merupakan fenomena yang tak dapat diabaikan. Karena dominasi teknologi internet dalam kehidupan manusia telah menimbulkan implikasi yang amat luas dalam kehidupan saat ini termasuk dalam kehidupan beragama.

Sebagai mahkluk religius, manusia memiliki keyakinan bahwa dalam hidup ini manusia wajib tunduk dan patuh kepada Tuhan semesta alam. Meyakini bahwa Allah SWT adalah satu-satunya zat yang wajib ditaati dan dipatuhi. Dalam Islam ketundukan manusia kepada Allah SWT adalah ajaran suci yang tak dapat diubah ataupun dikalahkan dengan ketundukan kepada yang lain. Namun, fenomena yang kita saksikan di belahan dunia manapun atau dalam lingkup dunia kecil kita saat ini, manusia semakin menundukkan dirinya terhadap teknologi internet dengan segala tuntutannya. Teknologi menjadi raja dalam kehidupan, tanpa teknologi internet manusia seakan-akan tak berdaya dan hina. Maka cukup beralasan jika To Ti Anh (1982), seorang ahli teknologi mempertanyakan, mengapa teknologi yang telah menyinari dan meningkatkan eksistensi manusia dalam kehidupannya, pada waktu yang bersamaan dapat merendahkan martabat manusia itu sendiri (Imam Sukardi dkk : 2003 ). Melihat kenyataan saat ini ternyata ada benarnya. Banyak diantara orang modern yang terperangkap dan terlalu tunduk kepada teknologi tanpa daya.

Menyadari pesatnya perkembangan dan pengaruh teknologi internet dewasa ini, masyarakat dituntut untuk bijak menghadapi kehidupan global yang serba maju dan modern. Karena bisa jadi pengaruh teknologi yang maju dan modern itu dapat merendahkan martabat dan kesadaran moral serta ketaatan manusia kepada Tuhannya. Untuk itu kita dituntut memperkuat kesadaran agama secara maksimal akan bahaya teknologi internet yang sangat dahsyat tersebut, mulai dari tingkat kesadaran ilmiah yang bersifat individual, sosial-komunal, sampai kepada kesadaran religius. Kesadaran inilah yang kemudian kita sebut sebagai theology internet.

Theologi internet merupakan theologi yang dikembangkan atas premis-premis pemikiran pragmatik, rasionalistik, dan positifistik untuk itu sangat perlu ditinjau dan difahami dari perspektif moralitas agama secara komprehensif. Theologi internet merupakan theologi kesadaran akan pengaruh internet yang dipahami melalui pendekatan agama (baca: Islam).

Terdapat dua dimensi utama yang sangat mendasar dalam hal ini yaitu dimensi theology itu sendiri (aqidah) dan dimensi syari’ah. Dimensi theology menyadari pengaruh internet melalui system keyakinan Islam, sedangkan dimensi syariah menyadari pengaruh internet melalui system operasional hidup dengan bingkai norma dan nilai hukum wajib, haram, mubah , makruh dan sunnah. Dari dua dimensi ini, diharapkan lahirnya kesadaran baru dan memperkokoh sikap dan pandangan manusia terhadap bahaya teknologi. Untuk itu sekurang-kurang terdapat empat sikap yang harus dihindari sebagaimana yang diungkapkan Drengson ( Alan R.Drengsong : 1984 ) yaitu: pertama, Anarki teknologi, yaitu memandang bahwa semua teknologi dan pengetahuan teknis adalah baik dan perlu dikejar. Apapun yang mungkin dilakukan harus dikerjakan, Kedua: Teknophilia, yaitu cinta berlebihan kepada teknologi sehingga mabuk kepayang dan barang-barangnya menjadi obyek cinta, Ketiga: Teknophobia, yaitu suatu kekecewaan sekaligus menakutkan yang dapat membahayakan manusia . Takut yang berlebihan kepada teknologi tidaklah mendidik, namun kekhawatiran dan waspada sangatlah penting, dan Keempat : Teknologi tepat guna, yaitu tingkat menyadari secara seimbang akibat teknologi terhadap manusia dan lingkungan serta merenungi nilai-nilai kebaikan dan keburukan untuk kemudian digunakan dalam aktivitas manusia. Yang terakhir ini, nilai-nilai manusiawi dan non manusiawi menjadi pertimbangan yang matang dalam penggunaannya. (Ismu Widodo:1994 ).

Teknologi internet telah mampu membebaskan manusia dari kungkungan dan jerih payah kerja fisik. Dan bahkan manusia telah mampu melintasi batas cakrawala jelajah ruang dan waktu dengan jaringan singkat dan cepat. Memang disatu sisi keberhasilan ini merupakan prestasi gemilang manusia dan bahkan dikatakan telah mengangkat ketinggian derajat kebudayaan kepada peradaban maju dan modern. Namun, dibalik itu semua sudah berapa banyak manusia terhina dan terdampar dalam kemelut kenistaan dan dosa yang melanggar hukum Tuhan akibat pengaruh Internet. Memang tidak kita tunjukkan data di sini, tetapi kita dapat menyaksikan berapa banyaknya anak-anak di usia pelajar, mahasiswa, orang tua dan anak-anak muda hanyut dalam dosa akibat pelecehan seksual dan kenakalan remaja akibat penggunaan internet tanpa diawasi dan dibatasi dengan kesadaran agama (baca: Islam). Bukankah ini merupakan penganiayaan baru (new persecution ) yang terselubung dari efek negative pengaruh internet. Padahal jauh sebelum teknologi internet berkembang pesat Allah SWT telah mengingatkan manusia dalam QS. An-Nahal ayat 33 yang artinya: Allah tak pernah menganiaya mereka, sebaliknya merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri (An-Nahal : 33 ).

Islam memberikan panduan dengan jelas, bahwa teknologi internet yang dapat merusak perilaku manusia merupakan pelanggaran syariat dan hukum yang telah ditetapkan. Akibat pelanggaran ini manusia akan mengalami kesengsaraan. Dan pengalaman menunjukkan bahwa kemajuan teknologi internet selama ini tidak dengan sendirinya bersifat mengangkat derajat kemanusiaan, tetapi juga dapat membahayakan kelangsungan hidup manusia. Artinya, teknologi internet yang ada di tangan manusia dan dengan segala kekuatan dan kedahsyatannya dapat dipakai untuk membangun peradaban dan sekaligus juga dapat menghancurkan peradaban manusia.

Disinilah kita butuh kesadaran dan tuntunan bahwa hidup di dunia maya melalui teknologi internet, membawa implikasi negative dalam dunia nyata apabila tidak di dukung oleh kesadaran ber-theologi yang kuat. Hal ini dapat dilakukan melalui beberapa kesadaran diantaranya yaitu ; kesadaran dengan berhati nurani, kesadaran dalam berkepribadian, kesadaran dalam berkebebasan dan bertanggung jawab ( Prof. Dr. Mujiyono Abdillah, MA : 2005 ). Disamping itu juga memiliki jati diri yang kuat dan utuh sebagai makhluk Allah SWT yang bertanggung jawab terhadap perbuatannya. Pada akhirnya kita berharap dengan ber-theologi dan kesadaran agama yang kuat kita bisa menjadikan teknologi hanya untuk sekedar alat mempermudah kehidupan, bukan menjadikan hidup ini tunduk sepenuhnya kepada teknologi dalam kehidupan, Aamiin.***

News Feed