by

Mewaspadai Liberalisme Kultural

  • Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH., Kakan Kemenag Lingga

Berkembangnya zaman berimplikasi kepada kekuatan psikologis masyarakat dalam tatanan dunia baru saat ini. Peradaban manusia menjadi pilihan masa depan yang menjanjikan kesuksesan dan kenikmatan hidup bagi setiap orang. Pilihan manusia untuk menjadi masyarakat yang baik adalah menjadi pilihan bersama dalam kultur yang berbeda. Dalam kultur yang berbeda itu peradaban manusia tumbuh seiring dengan laju dan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tak terbendungi yang esensinya berwujud dalam peradaban milenial.

Yang sangat penting dari prospeksi global tersebut adalah kekhawatiran kita terhadap perkembangan dan rekonstruksi peradaban baru yang liar dan sulit untuk dikendalikan. Rekonstruksi peradaban pada dasarnya merupakan elaborasi pandangan dunia terhadap agama. Secara umum, berbagai peradaban telah dikaji berdasarkan unsur-unsur sejarah yang luas. Misalnya, dalam A Study of History, A, J. Thinbee (1960) menyebutkan 21 jenis peradaban dalam sejarah dunia, yang masing-masing memiliki karakteristik berbeda, namun dengan kesamaan ciri atau kualitas yang memungkinkan, mereka dikenal sebagian dari kategori yang sama. Para sosiolog pun ikut berbicara tentang peradaban modern, dalam pengertian masyarakat perkotaan kontemporer atau masyarakat industri. Sebab itulah peradaban menjadi entitas historis dengan masa hidup yang terbatas. Untuk itu Ibnu Khaldum mengingatkan kita bahwa peradaban itu hanyalah sebuah pandangan tentang sejarah yang berulang-ulang (Ibnu Khaldum: 1967).

Tiap langkah menuju masa depan peradaban, menuntut sebuah elaborasi tentang pandangan dunia (world view). Karena itu dalam kultur global, peradaban harus dibatasi dalam system pandangan yang dinamis yang berorientasi kepada nilai dan eksistensi manusia sebagai makhluk Tuhan yang termulia (God’s greatest creature). Memaknai kehidupan manusia berawal dari cara pandang terhadap kultur dimana manusia hidup dan berkembang. Sementara kultur itu merupakan representasi kehidupan dan cara pandang yang dihasilkan oleh manusia itu sendiri. Itulah yang akan menghasilkan kultur atau budaya masyarakat. Perkembangan kultur atau budaya masyarakat tidak dapat dilakukan dengan bebas tanpa tujuan. Perkembangan budaya tanpa tujuan itu akan menyebabkan lahirnya liberalisme kultural.

Liberalisme kultural adalah budaya yang mengekspresikan dimensi sosial liberalisme dan hal ini sering disebut liberalisme sosial. Ekspresi liberalime sosial sering berwujud dalam bentuk kebebasan absolut tanpa terikat oleh norma budaya lainnya, termasuk norma agama. Maka kondisi seperti ini yang mesti kita khawatirkan dan waspadai. Untuk itu perlu kita tekankan bahwa perkembangan budaya manusia, bagaimanapun maju dan modernnya suatu budaya jangan sampai dicemari oleh liberalisme kultural yang dapat mengancam nilai-nilai kultur yang sudah ada.

Liberalisme kultural adalah pandangan masyarakat liberal yang menekankan pada kebebasan individu dari norma budaya dan dalam kata-kata Henry David Thoreau sering diungkapkan sebagai hak untuk “berbaris mengikuti irama drummer yang berbeda”, line up to the beat of the different drummers . (Thoreau, Henry David (1854). Dalam konteks budaya Indonesia tentu sangat berbeda dengan kontek budaya lain seperti di Amerika atau benua lainnya. Perbedaannya adalah terletak pada kultur masyarakat yang berada di wilayah dimana budaya itu tumbuh dan berkembang. Perkembangan budaya di Indonesia sangat ketat dan diikat oleh kearifan lokal yang selama ini telah diikat dan dipersatukan oleh dasar dan falsafah bangsa yaitu Pancasila. Oleh sebab itu kita tentu tidak ingin kultur bangsa yang berfalsafah Pancasila terganggu oleh liberalisme kultural peradaban modern yang sedang berkembang.

Kita perlu mencari alternatif lain untuk menghindari liberalisme kultural yang dapat mengancam tata kultur masyarakat yang telah ada. Kita butuh pandagan kontemporer sebagai pandangan baru dalam menuju perubahan kultur budaya saat ini. Tentu diantara pandangan baru yang kita butuhkan adalah filterisasi terhadap peradaban sekuer global yang sedang menuju pada penciptaan sebuah dunia pluralistik yang multiperadaban. Adapun langkah-langkah yang dapat kita tawarkan adalah: Pertama, Mengembangkan kultur non sekuler dengan tunduk pada seperangkt aturan normatif yang dianut bangsa secara ketat. Kedua, Melakukan integrasi kultur dengan mempedomani ajaran suci agama masing-masing dengan tidak mempertentangkan dengan pandangan dunia masing-masing kultur sosial agama yang ada. Ketiga, Membagun hubungan etis dengan mempedomani nilai suci agama melalui beberapa syarat utama bagi setiap komunitas (umat beragama).

Umat beragama harus mengembangkan kultur melalui keyakinan terhadap eksistensi Tuhan sebagai wujud transenden yang benar-benar sempurna, Mengakui dan menjadikan kitab suci sebagai pedoman , meyakini dan menerima ajaran para nabi sebagai panutan perilaku etis dan moral dalam kehidupannya.

Dengan langkah demikian setidaknya pandangan liberalisme kultural dapat dikurangi dalam tatanan kehidupan yang multi peradaban saat ini. Tentu yang lebih utama adalah dengan menjadikan nilai suci agama sebagai standar yang memiliki peringkat tertinggi dari nilai budaya yang ada. Dengan demikian dapat kita yakini bahwa kultur bangsa Indonesia akan berkembang menjadi kultur agamis, religious culture, yang tidak dapat digantikan dengan kultur masyarakat modern manapun.

Akhirnya kita berharap masyarakat Indonesia memiliki kultur yang kuat dengan keyakinan dan sistem nilai ketuhanan (agama) yang dianut di negeri ini sebagaimana yang dipatrikan dalam Pancasila pada sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. ***

News Feed