by

Teknologisasi Kehidupan dan Reformasi Keagamaan

  • Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag.MH, Kakan Kemenag Lingga

Di tengah pesatnya kemajuan dan perkembangan peradaban manusia sebagai akibat kecanggihan teknologi dan ilmu pengetahuan, telah menggiring manusia kepada sikap hidup yang berlebihan dengan membanggakan dan memanjakan kehidupan dengan perangkat teknologi maju dan modern. Manusia seakan lupa bahwa dibalik itu semua ada tantangan besar yang akan menghadang tata nilai hidup beragama.

Tantangan besar yang sedang dihadapi itu adalah teknologisasi kehidupan. Seluruh tatanan kehidupan tunduk kepada teknologi, padahal perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan itu hanya merupakan budaya manusia yang sangat terbatas yang jauh dari kesempurnaan. Walaupun tak dapat dipungkiri bahwa budaya manusia yang serba modern itu, telah menjadikan kehidupan ini menjadi mudah dan sistematis. Tetapi, banyak orang yang salah dalam memahami, menggunakan dan memaknai teknologi. Teknologi dijadikan segalanya dalam hidup. Padahal itu hanyalah alat untuk memudahkan kehidupan.

Kesanggupan manusia melebihi makhluk lainnya dalam mengubah dan menciptakan teknologi telah teruji dalam sejarah peradaban manusia. Hal ini dapat dibuktikan bahwa sampai hari ini hewan sebagai binatang hidup tetap sama dalam menghadapi dunianya. Walaupun manusia kadang mampu melakukan inovasi kehidupan hewan melalui teknologi biotik mengubah cara hidup hewan dari tempat semula di hutan ke tempat ramai di luar hutan atau yang sering kita sebut dengan kebun binatang.

Meluasnya dampak teknologi bagi kehidupan manusia, menyebabkan kajian tentang filosofi kehidupan semakin erat dan melekat dengan simbol-simbol teknologi yang berkembang. Umpamanya simbol teknologi dalam informasi dan komunikasi, yang kedua ini menjadi kebutuhan publik yang tak dapat ditawar-tawar. Sehingga tanpa informasi manusia tidak memiliki daya saing dalam percaturan sosial. Untuk itu manusia mesti mengejar apa yang namaya informasi (pursue information).

Teknologi membawa manusia kepada tindakan yang penuh maksud untuk menghasilkan benda-benda artefak tenologi. Manusia merekadaya benda-benda atau obyek agar berfungsi mendatangkan manfaat secara praktikal bagi kepentingan manusia. Inilah kemudian yang kita sebut dengan teknologisasi kehidupan. Teknologisasi kehidupan merupakan bentuk dan gaya hidup yang sistimatis, baik dalam arti artifisial maupun dalam arti aktivitas. Dengan kata lain manusia dalam melakoni hidupnya seakan-akan menjadi bayang-bayang kehendak teknologi.

Dalam kehidupan ini manusia tidak bisa lepas dari nilai-nilai yang dianutnya. Nilai kehidupan ini terpatri dalam ajaran suci agama, keyakinan, dan falsafah hidup lainnya. Sebab itu, manusia jangan sampai kehilangan nilai suci agama akibat melakoni hidup dan aktivitas yang cederung bersifat tehnologisasi. Manusia jangan tertipu dengan kecanggihan ciptaanya, tetapi harus mampu mengendalikan hidup dalam tatanan teknologi ciptaannya.

Seorang psikolog sekaligus pemilik Center for Internet and Technology Addiction di Hartford, Amerika Serikat David Greenfield, PhD menyebut langkah awal untuk mengatasi kecanduan teknologi yakni dengan mengubah gaya hidup sang pengguna teknologi. Untuk itu kita perlu menyadari bahwa ajaran Islam yang fleksibel dan luwes, harus diperkuat kembali dalam inflikasi atau pengaruh teknologi yang sangat kuat. Diantara langkah-langkah yang tepat adalah dengan rekonstruksi moral dan nilai Islam ke dalam teknologisasi kehidupan.

Menurut Hasan Hanafi dalam bukunya Islam in The Modern World (2004) masyarakat muslim mesti kembali menghidupkan nilai-nilai pasif kepada nilai-nilai aktif. Diantara nilai-nilai itu adalah taubat, kesabaran, syukur, kemiskinan, ascetisisme atau zuhud, ketergantungan atau tawakkal, kerelaan atau ridha, penyembahan atau ubudiyah, penyerahan diri atau taslim, Eros atau mahabbah. Nilai-nilai tersebut telah menjadi nilai pasif dibawah pengaruh teknologi . Untuk itu harus dikembalikan atau ditempatkan dalam tatanan perilaku kehidupan secara aktif. Nilai-nilai inilah yang akan menyeimbangkan antara pola hidup modern yang serba canggih dengan kesadaran agama (baca: Islam) dalam masyarakat. Pola hidup inilah kemudian yang kita sebut sebagai reformasi keagamaan.

Pertama kali yang mencetuskan reformasi keaagamaan adalah Ibnu Thaimiyah (1262-1327) dengan tujuan untuk memurnikan Islam dan deviasi mistis, stagnasi theologis dan formalism hukum ( Hasan Hanafi: 2004 ). Selanjutnya reformasi keagamaan dilancarkan oleh gerakan sosio-keagamaan dan gerakan politik. Pada awalnya yang melaksanakan gerakan ini adalah mereka yang berasal dari kelompok tradisional, salafiyah. Gerakan Wahabi di Hijaz yang didirikan oleh Muhammad Bin Abdul Wahab (1703-1792). Di Indonesia gerakan keagamaan dilancarkan oleh Dr.Nur Khalish Madjid dkk.

Gerakan keagamaan pada awalnya adalah usaha memperbaharui diri dan dan memperbaiki kemurnian sejarahnya, aliran reformis lainnya lebih terbuka untuk bercermin ke Barat. Tetapi orientasi tersebut tidak dapat menjawab tantangan yang dihadapi sehingga harus kembali berorientasi kepada reformasi keagamaan.

Reformasi keagamaan merupakan tata kehidupan beragama secara terpadu menyatu dengan pola hidup baru yang dilahirkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Ber-Islam atau beragama tidak sebatas melaksanakan rukun Islam. Pelaksanaan ritual formal hanyalah awal dari pengamalan, bukan tujuan dan akhir dari ibadah. Dimensi etika, moral, adab dan maslahat harus terpancar dalam kehidupan. Bertauhid tidak hanya terbatas pada persoalan meng Esakan Allah swt, tetapi bagaimana keimanan yang teguh menjelma dalam sikap dan perbuatan yang luhur ( al-Akhlaqul Karimah ).

Dengan demikian reformasi keagamaan, menjadikan Iman dan amal sholeh sebagai dua hal yang tidaak dapat dipisahkan. Secara metaforis, Toshihiko Izusu dalam Ethoco Religious Concepts in The Qur’an ( 1966 ) menyebut hubungan antara iman dengan amal soleh seperti benda dengan bayangannya. Amal sholeh adalah proyeksi iman ( Abdul Mu’ti : 2004 ). Oleh sebab itu kehidupan yang serba sistimatis akibat tehologisasi kehidupan harus dikendalikan secara seimbang dengan cara beragama yang lebih baik pula. Yaitu dengan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai penopang dan penyanggah kehidupan yang serba modern ini. Pada akhirnya nilai agama tidak hanya sekedar pelarian akibat kegersangan kehidupan tetapi menjadi petunjuk untuk menjalani kehidupan. Aamiin. **

News Feed