by

Ada Inovasi Pemberian Vaksin Covid-19 Tanpa Disuntik

Di tengah pandemi, para ilmuwan di berbagai penjuru dunia terus berjibaku melakukan penelitian yang diharapkan bisa menghasilkan sesuatu yang bisa digunakan untuk mengatasi pandemi Covid-19.

Salah satu contohnya, para ilmuwan dari Swansea University, Wales, Inggris ini. Mengutip Unilad, para ilmuwan di Swansea diberitakan berusaha untuk mengembangkan patch pintar atau smart patch vaksin virus corona pertama di dunia.

Patch tersebut akan menggunakan microneedle untuk memasukkan vaksin Covid-19 dan sekaligus memantau kemanjurannya di tubuh pasien dengan melacak respon imun tubuh.

Dengan menggunakan polikarbonat ( microneedles silikon sepanjang satu milimiter) smart patch bisa penetrasi atau menembus kulit untuk menyalurkan vaksin. Smart patch ini dikakatakn bisa dipegang dengan bantuan tali atau lem selotip hingga 24 jam, nah selama kurun waktu itu akan diukur respons inflamasi pada pasien terhadap pemberian vaksin dengan memantau biomarker di kulit.

Setelah vaksin diberikan, perangkat lalu dipindai untuk menghasilkan data yang bisa dibaca. Data inilah yang memberikan pemahaman tentang kemanjuran vaksin dan respons tubuh terhadap vaksin Covid-19 itu sendiri.

Tim peneliti berencana untuk mengembangkan prototype dari smart patch ini pada akhir Maret mendatang. Dengan harapan ke depannya bisa diajukan untuk uji klinis dan bisa dirilis ke masyarakat umum, sebagai bagian upaya dari penanggulangan pandemi virus corona SARS-CoV-2.

Mengembangkan smart patch vaksin Covid-19 pertama di dunia ini, para ilmuwan di pusat penelitian IMPACT Swansea berharap mereka bisa melakukan studi klinis pada manusia, lewat kerjasama dengan Imperial College London, dengan tujuan bisa membuat perangkat canggih ini bisa tersedia secara komersial dalam kurun waktu tiga tahun.

Terkait smart patch tersebut, dosen teknik medis, Dr Sanjiv Sharma mengatakan para ilmuwan berharap bisa melihat produksi imunoglobulin. Yakni antibodi yang membentuk bagian penting dari pertahanan kekebalan tubuh manusia, ini adalah suatu tanda yang baik’ untuk menunjukkan kemanjuran vaksinasi tersebut, sebagai respons terhadap penggunaan perangkat itu sendiri.

“Perangkat vaksin dengan biaya rendah ini, akan memastikan bisa kembali bekerja dengan aman dan tentang manajemen wabah Covid-19 berikutnya,” katanya.

“Di luar pandemi, ini bisa diperluas untuk diterapkan pada penyakit menular lainnya. Sebab sifat platformnya memungkinkan bisa terjadinya adaptasi cepat ke berbagai penyakit menular,” jelas Dr Sanjiv.

Sejauh ini, memang belum ada perangkat yang tersedia secara komersial di pasaran, yang bisa menyediakan vaksin dengan cara ini. Dr Sanjiv mengatakan, patch atau tambalan ini sebetulnya mirip dengan sensor pemantau glukosa berkelanjutan yang biasanya digunakan oleh pengidap diabetes.

Ke depannya jika memang sudah bisa diedarkan ke publik. Pemberian vaksin virus corona lewat smart patch ini akan jadi alternatif cara vaksinasi yang lebih menyenangkan bagi orang-orang yang takut akan jarum suntik.

Mengingat, disebutkan bahwa patch ini tidak menembus kulit sedalam seperti jarum suntik, ditambah soal harga patch yang lebih murah dibandingkan harga jarum suntik. Ini artinya, patch mungkin bisa berguna di negara-negara yang kesulitan sumber daya untuk vaksinasi. *

(sumber: okezone.com)

News Feed