by

Meng-Amal Bhaktikan Diri Lewat Kanal Media

  • Oleh : Zaid,ST, Pranata Humas Kemenag Lingga & Mahasiswa Pascasarjana Administrasi Publik UT

Kementerian Agama Republik Indonesia telah memasuki usia 75 tahun. Keberadaan Kementerian yang lahir dari perjuangan para pendiri bangsa tentu harus dirawat dan dijaga dengan baik. Eksistensi Kementerian Agama harus tampak dan hadir menjawab berbagai persoalan di tengah masyarakat yang plural. Di usia yang terbilang sudah matang bahkan tua, Kementerian Agama terus mengalami berbagai cobaan dan tantangan seiring dengan perkembangan zaman.

Perubahan dan perbaikan sistem manajemen tidak hanya dari sisi internal, tapi juga dari sisi eksternal. Hal ini dilakukan tentu berdasarkan kebutuhan untuk menjawab tantangan zaman. Bagaimana pola rekruitmen, manajemen sumber daya manusia, pengelolaan keuangan dan anggaran hingga upaya pencegahan tindak pidana korupsi. Semua upaya itu dilakukan dalam rangka memberikan keyakinan kepada publik terhadap tanggung jawab yang diamanahkan kepada Kementerian Agama.

Pola pengawasan dan pembinaan yang diterapkan di kalangan internal terus berjalan secara efektif. Audit internal terus dilakukan secara berkala oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Agama. Hal ini bertujuan untuk memastikan agar seluruh layanan publik berjalan dengan penuh integritas sesuai dengan motto lima budaya kerja Kementerian Agama.
Dijadikan beberapa satuan kerja menjadi pilot project pembangunan zona integritas menambah sederet upaya untuk melakukan bersih-bersih dari dalam. Tentu sekaligus melakukan perbaikan dan memicu semangat dan memotivasi ASN di Kementerian Agama untuk bekerja lebih baik lagi.

Di era keterbukaan informasi, setiap orang bisa mengakses informasi secara cepat. Terkadang informasi tersebut tidak perlu dicari, bahkan datang sendiri dan singgah di gawai kita masing-masing. Inilah era dimana setiap orang bebas mengakses informasi publik. Sebenarnya kondisi ini memiliki dua sisi, yakni sisi peluang dan sisi ancaman.
Dari sisi peluang, tentu memberikan kemudahan bagi Kementerian/ Lembaga untuk menyebarkan informasi secara cepat. Bagi mereka yang berfikir waras dan logis, tentu kemudahan dan keterbukaan ini akan memberikan informasi berupa pengetahuan. Tidak perlu repot mencari sumber informasi yang valid dan sahih. Cukup mengunjungi website resmi lembaga atau instansi yang dimaksud.

Dari sisi ancaman, era keterbukaan informasi ini akan dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggungjawab untuk memanaskan bahkan mengacaukan situasi. Membolak-balikkan fakta bukan perkara sulit bagi mereka yang berniat tidak baik.

Melihat dua kondisi di atas, sebuah kementerian/ lembaga harus siap menghadapi hal ini. Edukasi adalah kata kunci yang tepat untuk menjawab. Bagaimana kementerian/ lembaga menyiapkan sumber daya manusia yang mumpuni untuk mengolah, mengawal dan menjaga informasi agar tidak bias. Diperlukan tim solid untuk bekerja dalam menjaga reputasi dan citra lembaganya. Artinya, selain mengedukasi para pranata di internal lembaga, tentu mengedukasi masyarakat dengan informasi yang jelas adalah keharusan.

Pranata humas sebagai salah satu unsur dari kelompok SDM di Kementerian Agama harus melakukan berbagai teknik atau menyusun strategi komunikasi. Hal ini, selain berguna membangun sinergitas baik antar lembaga tentu juga memberikan layanan terbaik kepada publik.

Menurut Arifin (1994), terdapat beberapa teknik yang dapat digunakan dalam strategi komunikasi, yaitu:
Redundancy (Repetition). Teknik redundancy atau repetition adalah cara mempengaruhi khalayak dengan jalan mengulang-ulang pesan kepada khalayak. Dengan teknik ini sekalian banyak manfaat yang dapat di tarik darinya. Manfaat itu antara lain bahwa khalayak akan lebih memperhatikan pesan itu, karena justru kontras dengan pesan yang tidak diulang-ulang, sehingga ia akan lebih banyak mengikat perhatian.

Canalizing. Teknik canalizing adalah memahami dan meneliti pengaruh kelompok terhadap individu atau khalayak. Untuk berhasilnya komunikasi ini, maka harus dimulai dari memenuhi nilai-nilai dan standard kelompok dan masyarakat dan secara berangsur-angsur mengubahnya ke arah yang dikehendaki. Akan tetapi bila hal ini kemudian ternyata tidak mungkin, maka kelompok tersebut secara perlahan-lahan dipecahkan, sehingga anggota-anggota kelompok itu sudah tidak memiliki lagi hubungan yang ketat. Dengan demikian pengaruh kelompok akan menipis dan akhirnya akan hilang sama sekali. Dalam keadaan demikian itulah pesan-pesan akan mudah diterima oleh komunikan.

Informatif. Teknik informatif adalah suatu bentuk isi pesan, yang bertujuan mempengaruhi khalayak dengan jalan memberikan penerangan. Penerangan berarti menyampaikan sesuatu apa adanya, apa sesungguhnya, di atas fakta-fakta dan data-data yang benar serta pendapat-pendapat yang benar pula. Teknik informatif ini, lebih ditujukan pada penggunaan akal pikiran khalayak, dan dilakukan dalam bentuk pernyataan berupa keterangan, penerangan, berita dan sebagainya.

Persuasif. Teknik persuasif adalah mempengaruhi dengan jalan membujuk. Dalam hal ini khalayak digugah baik pikirannya, maupun dan terutama perasaannya. Perlu diketahui, bahwa situasi mudah terkena sugesti ditentukan oleh kecakapan untuk mengsugestikan atau menyarankan sesuatu kepada komunikan (suggestivitas), dan mereka itu sendiri diliputi oleh keadaan mudah untuk menerima pengaruh (suggestibilitas).

Edukatif. Teknik edukatif merupakan salah satu usaha mempengaruhi khalayak dari suatu pernyataan umum yang dilontarkan, dapat diwujudkan dalam bentuk pesan yang akan berisi pendapat-pendapat, fakta-fakta, dan pengalaman-pengalaman. Mendidik berarti memberikan sesuatu ide kepada khalayak apa sesungguhnya, di atas fakta-fakta, pendapat dan pengalaman yang dapat dipertanggungjawabkan dari segi kebenaran, dengan disengaja, teratur dan berencana, dengan tujuan mengubah tingkah laku manusia ke arah yang diinginkan.

Koersif. Teknik koersif adalah mempengaruhi khalayak dengan jalan memaksa. Teknik koersif ini biasanya dimanifestasikan dalam bentuk peraturan-peraturan, perintah-perintah dan intimidasi-intimidasi. Untuk pelaksanaannya yang lebih lancar biasanya di belakangnya berdiri suatu kekuatan yang cukup tangguh.

Rasanya, melalui strategi komunikasi yang dikemukan di atas, tentu akan memberikan gambaran secara nyata dan jelas bagi pelaku kehumasan untuk terus bekerja dengan semangat. Membangun komunikasi baik secara inter personal di dalam hingga ke pihak luar atau hubungan antar lembaga. Upgrade skill adalah harga mati dan merupakan keharusan bagi pelaku kehumasan. Mengembangkan sayap dengan terus membangun koordinasi dengan kalangan media elektronik dan media massa.

Khusus untuk media sosial, pranata humas tentu harus membuat akun instansi/ lembaga. Namun, seiring berjalannya waktu, pranata humas hampir sebagian besar mewakafkan akun pribadinya untuk diseminasi informasi tempat instansi/ lembaga ia bernaung. Di satu sisi mungkin lebih mudah dalam mengelola konten yang ada. Di sisi lain, anggapan orang terhadap kinerjanya memang sudah diketahui atau bahkan lebih mudah dalam membangun personal branding.

Dalam bekerja di media sosial, tentu banyak sekali rambu-rambu yang harus menjadi perhatian. Salah satunya adalah wajib membuat konten yang bijak dan bermanfaat.

Terlepas dari semua itu, pengabdian adalah niat utama. Ketika diamanahkan di kementerian dengan motto ikhlas beramal, sejatinya setiap ASN harus menanamkan niat dan bekerja secara totalitas. Memegang satu prinsip, bekerja adalah ibadah. Ini yang harus terus dan selalu kita ingatkan dalam diri kita masing-masing. Semoga segala lelah kita semua menjadi lillah.

Hidup adalah dialektika antara tantangan dan tanggapan. Bagaimana kita menjawab tantangan sekaligus memberikan tanggapan. Semuanya akan mengalir sesuai jalan pilihan yang telah kita pilih. Kehadiran pranata humas harus semakin menyempitkan lebar jarak hubungan berbagai pihak. Tentu semuanya perlu upaya dan kerja keras serta dedikasi yang tinggi.

Pengabdian melalui kanal media adalah salah satu bentuk implementasi dari penyebaran informasi. Terus membangun komunuikasi dengan berbagai kalangan. Esensi dari komunikasi adalah merubah perilaku publik kearah yang lebih baik. Bagaimana terus mengabdi menjadi ASN yang luar biasa.

Meng-amalbhaktikan diri melalui kanal media adalah upaya mulia dari pranata humas untuk bersama-sama mewujudkan Indonesia Rukun. Selamat Hari Amal Bhakti ke-75 Kementerian Agama. Wallahualam bissawab. ***

News Feed