by

Membangkitkan Peran Guru Menjadi Guru Efektif di Masa Pandemi

  • Oleh: Sofia Napitupulu, S.Pd.,M.M., Guru SMP Negeri 31 Batam

Sudah sepuluh bulan dunia pendidikan di Indonesia pada satuan pendidikan mulai dari tingkat TK, SD, SMP, SMA, SMK memasuki masa pembelajaran daring/online di masa pandemi ini. Kegiatan pembelajaran daring ini dilakukan karena situasi yang belum kondusif akibat dampak covid 19 yang merebak di seluruh daerah di tanah air.

Seiring perjalanan waktu, bagaimana proses pembelajaran daring ini dialami siswa? Apakah efektif? Atau berdampakah bagi kemajuan belajar siswa? Jawabannya sudah pasti, ya. Agar dampak yang terasa tidak melebar, maka perlu untuk mencoba membangkitkan peran guru di masa pandemi ini. Peran aktif guru sangat dibutuhkan dalam memantau perkembangan dan kemajuan pembelajaran siswa melalui evaluasi dan observasi. Salah satunya adalah menjadi ‘guru yang efektif’.

Dahulu istilah ‘guru yang baik‘ lebih banyak digunakan. Namun, sejalan dengan perkembangan zaman apalagi di masa pandemi ini menjadi ‘guru yang efektif” sifatnya lebih terukur. Pengertian “guru yang baik” lebih bersifat sebagai kemampuan personal seorang guru dalam melaksanakan proses pembelajaran dan pengajaran. Sementara, pengertian ‘guru efektif” lebih bersifat sebagai kemampuan profesional.

Prof. Dr. S. Nasution, M.A. dalam bukunya ‘Dikdatik Asas Asas Mengajar’ mengungkapkan, terdapat sepuluh ciri guru yang baik, yakni, 1. Memahami dan menghormati murid. 2. Menguasai bahan pelajaran yang diberikan 3. Menyesuaikan metode mengajar dengan bahan pelajaran 4. Menyesuaikan bahan pelajaran dengan kesanggupan individu murid. 5. Mengaktifkan murid dalam hal belajar. 6. Memberi pengertian dan bukan dengan kata kata belaka 7. Menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan murid. 8. Mempunyai tujuan tertentu dengan bahan pelajaran yang diberjkan. 9. Jangan terikat dengan satu buku pelajaran dan terakhir 10. Tidak hanya mengajar dalam arti menyampaikan pengetahuan saja kepada murid, tetapi senantiasa mengembangkan pribadi anak.

Guru efektif mempunyai seperangkat karakteristik atau ciri-ciri tertentu. Untuk menggambarkan guru profesional, Dedi Supriadi mengutip laporan dari satu jurnal bertajuk ‘Educational Leadership’ yang menjelaskan bahwa guru profesional dituntut untuk memiliki lima kompetensi sebagai berikut: pertama, Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya. Ini berarti komitmen tertinggi guru adalah kepentingan siswa. Kedua. Guru menguasai secara mendalam bahan atau materi pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarkannya kepada siswa. Bagi guru hal ini merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan .

Sementara poin ketiga, guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi, mulai cara pengamatan dalam perilaku siswa sampai test hasil belajar. Keempat, Guru mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya, dan belajar dari pengalamannya. Kelima, Guru seyogianya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya, misalnya di PGRI maupun di organisasi profesi lainnya.

Apabila guru memiliki kelima kompetensi tersebut, maka sesorang guru telah dapat disebut sebagai tenaga pendidik yang sudah menjalankan tugasnya secara profesional terutama terkait dengan statusnya sebagai tenaga fungsional. Karakteristik guru menjadi faktor yang sangat penting yakni guru yang memiliki harapan yang tinggi untuk mau dan mampu meningkatkan mutu hasil belajar siswa. Harapan yang tinggi ini akan dilihat dari semangat dan kinerja guru dalam melaksanakan tugasnya. Guru efektif berada pada kuadran yang optimal dari aspek kemampuan dan kemauannya yakni kemampuan tinggi, kemauan tinggi.

Kembali menilik dari tulisan Prof. Dr. S. Nasution, M.A. dalam bukunya ‘Dikdatik Asas Asas Mengajar’ terdapat tulisan bertajuk ‘The Teacher as a Decision Maker’ Cooper menyarankan bahwa seorang guru yang terlatih harus mempersiapkan empat bidang kompetensi agar ia menjadi seorang guru yang efektif.

Keempat bidang kompetensi tersebut harus memiliki kemampuan sebagai berikut, diantaranya 1. Menguasai pengetahuan teoretikal tentang pembelajaran dan tingkah laku manusia. 2. Menunjukkan sikap yang menunjang proses pembelajaran dan hubungan antar manusia secara murni. 3. Menguasai pengetahuan dalam mata pelajaran yang diajarkan dan, 4. Memiliki kemampuan kecakapan teknikal tentang pembelajaran yang mempermudah siswa untuk belajar.

Sementara Leo R. Sandy dalam tulisannya bertajuk ‘The Effective Teacher’ telah menguraikan dua belas dimensi pengetahuan dan sikap yang membentuk karakteristik guru efektif diantaranya yang sangat penting dan relevan untuk meningkatkan kualitas dan hasil belajar siswa saat ini adalah guru sebagai pembelajar, guru efektif harus memiliki kemampuan dan kemauan belajar dari proses interaksi edukatif dengan para siswanya. Bahan ajar yang diberikan pada siswa juga merupakan bahan ajar bagi guru efektif.

Artinya guru efektif harus sanggup menjadikan dirinya sebagai siswa yang harus mau dan mampu untuk terus belajar dari pengalamannya sebagai guru dan kemudian dapat menggunakannya untuk memperbaiki kinerjanya dari waktu ke waktu. Dan guru efektif juga dapat memperbaiki kinerjanya misalnya dengan melalui kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) atau dengan yang disebut Lesson Study (kajian yang mendalam tentang proses pembelajaran), yang secara berkelanjutan dapat digunakan untuk memperbaiki kinerja guru dalam proses pembelajaran.

Dalam konteks ini pula, guru efektif harus mampu mengubah paradigma pembelajaran dari ‘ berpusat pada guru’ menjadi pembelajaran yang ‘berpusat pada siswa‘. Guru sebagai pemimpin, guru efektif harus memiliki standar standar dan harapan yang tinggi kepada siswa. Caranya dengan memberikan dorongan, dukungan, bantuan, ajakan, dan keluwesan untuk mengusahakan yang terbaik untuk peserta didik tanpa terkecuali.

Karakteristik berikutnya adalah Guru sebagai penggerak, guru efektif sering mengajukan pertanyaan yang menggelitik tujuannya merangsang respon para siswa. Pertanyaan yang diajukan tidak hanya pertanyaan tentang apa, siapa, dan dimana, tetapi lebih banyak menggunakan pertanyaan yang mengarahkan siswa ke cara berpikir tingkat tinggi (HOTS) seperti pertanyaan yang diawali mengapa (Why) atau bagaimana (How.)

Salah satu ciri penting guru efektif adalah tidak hanya memberikan informasi, tetapi lebih banyak mengemukakan permasalahan (problem) kepada siswa, siswa diajar bukan hanya menerima informasi tanpa harus berusaha untuk mencarinya. Guru efektif mengajak siswa untuk memecahkan permasalahan, dan membangun semangat untuk memiliki keingintahuan (curiosity) yang tinggi.

Semoga guru di Indonesia dapat mewujudkan dirinya sebagai guru efektif (effective teacher) di masa sekarang maupun di masa mendatang. Mari sama-sama kita membangkitkan kembali peran guru menjadi guru efektif di masa pandemi. ***

News Feed