by

Titik Jenuh Kehidupan

  • Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH, Kakan Kemenag Lingga

“Siapa saja yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar dari semua masalah hidupnya dan memberinya rejeki dari arah yang tidak diduga.” (Ath – Thalaq (65) : 2 – 3)

Setiap orang memiliki persepsi tentang kehidupan. Seorang seniman mempersepsi hidup ini dengan keindahan, seorang filosof mempersepsi hidup ini dengan pertimbangan rasional dan agamawan mempersepsi hidup ini dengan petunjuk Tuhan.

Maha Bijaksana Allah SWT yang telah meanugerahkan kehidupan ini bagi segenab makhluk-Nya. Dalam hidup ini tidak ada orang yang mau susah, tidak ada yang mau sakit, baik sakit fisik maupun sakit hati. Jika dia rakyat biasa, ia tidak mau ditindas, ditipu, dan dilecehkan oleh orang lain. Jika ia seorang pemimpin atau pejabat, ia tidak mau jabatannya hilang begitu saja apapun alasannya. Tidak ada orang yang mau berdesakan dan berjubel-jubel di tempat-tempat halte bus, kereta api dan pelabuhan setiap pagi ketika ingin berangkat ke tempat tugas untuk bekerja. Tidak ada yang mau rumahnya digusur, rumahnya tenggelamkan banjir, rumahnya hancur disapu puting beliung dan sederetan peristiwa lainnya dalam hidup ini.

Semua manusia mendambakan yang baik-baik saja, yang enak-enak dan pas dihati. Maunya hidup ini mulus saja, gaji lancar, kartu kredit masih bisa digesek, di dompet selalu ada belasan lembar atau ribuan lembar uang nominal besar. Kalau perlu bisa meniru gaya hidup orang kaya di metropolitan, sarapan pagi di restoran, masuk salon setiap minggu, punya mobil yang serba bisa di-knop-knop dan bisa ambil kredit bank dimana saja sesuka hati.

Tapi, dunia ini kulitnya saja yang memukau. Bisanya dapat mematikan ya mematikan kemuliaan hidup manusia. Setiap kali kita mengejar isi dunia ini, sekali itu pula kita tertipu dan terhina. Berulang kali kita mencoba mengejar keindahan dunia berlang kali pula kita di tipu dan terpedaya. Hidup ini berulang-ulang. Kita melakukan aktivitas setiap hari itu ke itu. Kita tidak merasa bahwa kita di tipu. Dari bangun sampai tidur kembali kita melakukan aktivitas yang sama setiap hari. Kita pergi dari rumah untuk sesuatu urusan dan kembali ke rumah, kita berpakaian, pakaian kita cuci, digosok dan dipakai kembali bersulang-ulang tanpa terasa.

Kita makan, kenyang , lapar, makan lagi begitu seterusnya. Dan bahkan tubuh kita ini adalah desain berulang-ulang tanpa dirasakan. Kita lahir, bayi, kecil, dewasa, tua , lalu mati , kemudian lahir kembali dan begitu selanjutnya.

Di berbagai media, televisi, koran, di kampus, di kantor, di kantin, ada saja kabar berita yang tidak pas di hati orang. Apa hendak dikata kebutuhan hidup sehari-hari terasa sulit. Lapangan pekerjaan semakin menyempit, pendidikan tidak lagi berjalan secara normal, dimana-mana terdengar keluhan dan tarikan nafas panjang yang melelahkan. Apalagi di pelabuhan, para pekerja pelabuhan mencucurkan keringat demi sesuap nasi, tukang ojek yang berebut penumpang untuk mengejar setoran. Sememtara para pejabat dengan seenaknya menggunakan uang rakyat untuk keperluan peribadi alias korupsi , di tengah rakyat sedang menjerit kelaparan karena susahnya mengais rezeki di tengah pandemi yang tak kunjung berhenti.

Sebagian orang sudah malas berfikir. Di Amerika, seorang senator yang pintar, memutuskan menggugat Tuhan ke pengadilan. Hakim yang menerima gugatan itu, sedikit kesal. Tuhan tak punya alamat surat, katanya, dan karena itu tak bisa dihadirkan di persidangan. Itu di Amerika. Di belahan bumi lain, sebagian orang memilih pasrah, percaya bahwa semua yang terjadi di alam ini adalah takdir. Kalau mati ya, mati, kaya ya, kaya, jatuh ya, jatuh. Yang lain karena pusing, dengan begitu banyak hal yang tak mengenakan dalam hidup, memilih berlari ke tukang ramal, karena saat ini “tukang ramal” yang tercanggih adalah Google, maka mereka dengan intim, bersahabat dan akrab, bertanya dengan google forecast (ramalan goole) untuk sesuatu yang sulit dalam hidup ini.

Ada juga yang memilih duduk berjam-jam memelototi televisi dan HP android menelusuri acara atau informasi pembangkit motivasi, hiburan, dan acara lainnya tanpa bosan.

Mengapa hidup ini sedemikian? Bosankah manusia? Sebenarnya manusia sedang mengalami saturation point of life, manusia sedang mengalami titik jenuh kehidupan tanpa sadar. Perasaan manusia sedang dikendalikan oleh enjoyment of technology, kenikmatan teknologi telah mengubah kebiasaan lambat tapi pasti menjadi cepat dan instan, kebiasan lama menjadi baru, hubungan panjang menjadi singkat, kelihatan biasa menjadi luar biasa dan seterusnya.

Manusia ditidurkan oleh teknologi. Manusia didikte oleh tehnologi. Pendeknya manusia dan jiwa raganya berada dalam genggaman teknologi, walaupun sering dikatakan bahwa tehologi ada dalam genggaman manusia. Tapi kenyatannya tidak, teknologilah yang mengendalikan manusia. Manusia tunduk dengan teknologi, teknologi menjadi tuhan baru bagi mereka yang tidak menyadarinya.

Dalam kondisi seperti ini, jika ingin selamat dari jeratan tipu daya dunia, menuju keselamatan abadi, kita harus bangkit dan lari dari rayuan indahnya, karena bisa-nya akan menyakitkan. Manusia harus berpaling dari titik jenuh kehidupan ini, Untuk itu kita butuh kehadiran Allah SWT dalam hidup ini. Kita butuh anugerah kehalusan tangan Tuhan yang memandu hidup ini. Kita butuh safa’at Rasulullah SAW untuk penyejuk batin yang gersang.

Kita butuh petuah bijak yang menyejukkan dari para ulama dan guru-guru kita untuk menyadarkan hati yang terpecah dan berderai. Kita harus mengganti titik jenuh kehidupan ini dengan titik sentuh kesadaran akan kasih sayang Allah SWT. Kita harus mengubah dan mengembalikan titik sentuh teknologi yang sedang bersarang dan menguasai hati dengan titik sentuh Rahmat Allah SWT yang tak terbatas. Aamiin.***

News Feed