by

Menuju Moderasi Sosial Spiritual

  • Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag.MH, Kakan Kemenag Lingga

Di tengah proses bergulirnya pola kehidupan baru dan mencermati kondisi sosial politik, ekomomi dan hankam di belahan dunia, khususnya Indonesia saat ini, banyak para pakar memprediksi bahwa masyarakat Indonesia hari ini sedang dilanda krisis ketakutan dan kecemasan atau yang kita sebut sebagai kegundahan sosial. Hal ini ditunjukan oleh kehidupan sosial yang semakin hari semakin terasa tidak santun, tidak akrab dan tidak bersahaja dan selalu dibayangi dengan ancaman dis-integrasi social yang melelahkan. Mulai dari krisis ketakutan dan keadilan sampai krisis beragama dan berdemokrasi. Untuk itu, diantara alternatif solusi yang dapat ditawarkan untuk menjadi penyejuk dalam kondisi sosial seperti itu adalah membangun dan memperkokoh moderasi sosial spiritual.

Moderasi sosial-spiritual adalah moderasi yang didasari oleh nilai sosial spiritual (agama) secara terpadu. Inti dari nilai tersebut adalah nilai suci agama yang dianut masyarakat. Dalam artikel ini yang kita maksudkan adalah agama Islam. Ini penting, agar agama (baca: Islam) tidak hanya berhenti pada tataran simbol dan ritual yang bersifat personal, melainkan juga menyentuh wilayah publik yang lebih plural.

Dalam masyarakat majemuk atau plural seperti Indonesia, di dalamnya hidup berbagai suku, bangsa, ras dan agama . Maka, sangat penting untuk meletakkan kembali dasar dan prinsip moderasi sebagai perekat keharmonisan dan kedamaian dalam kehidupan sosial. Dalam prinsip moderasi kelompok satu dengan yang lain harus mengambil sikap adil dan seimbang dalam bersikap untuk bertindak dalam pergaulannya. Kemajemukan adalah kekayaan, yang dijadikan modal memperkuat tatanan sosial. Di samping itu, harus diperkuat pula dengan sikap saling percaya dan saling menghargai antara sesama warga masyarakat.

Sebenarnya dalam masyarakat seperti Indonesia telah lama sikap ini dikembangkan. Namun, belum menyentuh secara substansi dalam kehidupan sosial. Dalam kehidupan bernegara, Indonesia meletakan dasar kebersamaan melalui prinsip-prinsip demokrasi. Dibawah prinsip demokrasi bangsa Indonesia meletakkan sikap menerima kenyataan dalam masyarakat, bahwa keinginan seseorang tidak mungkin semuanya diterima oleh semua orang untuk dilaksanakan. Sebab, salah satu azas demokrasi adalah “partial functioning of ideas”, berlakunya hanya sebagian dari ide-ide, karena selebihnya datang dari orang lain sesama masyarakat. (Dr.Nurcholish Madjid.MA : 2003).

Menerima kenyataan merupakan sikap adaptif yang fleksibel, luas dan sangat dijunjung tinggi oleh moral Islam. Tentu dengan batasan tertentu dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai suci ajaran agama itu sendiri. Pendek kata, seluruh aspek kehidupan sosial harus dikendalikan dengan norma-norma dan semangat spiritual agama secara komprehensif dan seimbang. Karena hal itu akan mendorong tegaknya kedamaian dan keadilan social bagi seluruh masyarakat. Prinsip-prinsip inilah kemudian yang kita perkuat dengan cita-cita demokrasi menuju moderasi sosial spiritual.

Secara normatif, Islam mempunyai konsen yang sangat mendasar terhadap perdamaian, keadilan, dan kemaslahatan. Dalam hal ini terdapat dua corak yang ditawarkan yaitu, pertama, perdamaian, keadilan dan kemaslahatan dengan corak pasif, yaitu setiap muslim sejatinya menginternalisasikan sikap kedamaian, keadilan dan kemaslahatan dalam jiwanya. Adanya kedamaian, keadilan dan keselamatan dalam setiap individu menjadi modal untuk menghayati dimensi kemanusiaan. Biasanya kedamaian, keadilan dan keselamatan dalam jiwa, tumbuh melalui proses ritualisme dan praktik-praktik peribadatan yang akan memperkukuh komitmen dan visi bahwa setiap manusia dihadapan Tuhan adalah sama, setara dan sejajar. Ketakberdayaan makhluk membuktikan keharusan untuk menghargai orang lain secara manusiawi dan adil (moderat). Apapun perbedaan agama, ras dan suku semestinya tidak merobohkan dimensi kemanusiaan yang telah tertancap dalam jati diri masing-masing.

Kedua perdamaian, keadilan dan kemaslahatan yang bercorak aktif. Yaitu, setiap muslim sejatinya dapat menebarkan kedamaian, keadilan dan kemaslahatan dalam kehidupan sosial yang pluralistik. Perdamaian, keadilan dan kemaslahatan tidak hanya milik personal, tetapi juga milik sosial yang bersifat inpersonal dan transpersonal. Sebab itu kehadiran agama (baca: Islam) semestinya bisa mendamaikan diantara dua persengketaan dengan adil atau moderat. Islam juga memberikan resep dan tekanan bahwa dalam melakukan upaya keselamatan, perdamaian dan keadilan mesti mempedomani spiritualitas (ajaran suci) agama sebagai ukuran utamanya.

Kesinilah arah yang kita tuju, yaitu menuju moderasi sosial-spiritual, yang menegakkan sendi-sendi keadilan, kedamaian dan kemaslahatan bersama secara seimbang dan demokratis sebagai inti agama. Inti keberagamaan adalah kemampuan menunjukkan wasathiyah (moderasi) dalam setiap perilaku sosial secara seimbang dan utuh sehingga melahirkan wajah-wajah kehidupan sosial yang damai, menebarkan rahmat pada semesta alam, serta menebarkan nilai kemanusiaan dalam fitrah yang sebenarnya.

Nah , sekali lagi dalam kondisi sosial seperti diatas, moderasi sosial-plural sangat penting dan tepat. Karena dalam menghadapi tantangan yang cukup serius demikian, diantaranya gejala kekerasan sosial, perang dan konflik yang menghiasi kehidupan berbangsa dan beragama serta ketidak adilan dan diskriminasi sosial yang secara nyata mengatasnamakan demokrasi bahkan agama, moderasi sosial-spiritual tampil sebagai solusi dan cara pandang baru terhadap tantangan yang sedang dihadapi. Moderasi sosial-spiritual akan memberikan solusi dari kesenjangan yang terjadi, antara nilai-nilai universal yang idealistik dengan praktek kehidupan sehari-hari yang bersifat partikularistik.
Untuk itu kehidupan sosial yang moderat perlu diperkokoh agar kehidupan berbangsa dan beragama tetap sejalan dalam sistem demokrasi bangsa yang sedang giatnya membangun masa depan. Aamiin.***

News Feed