by

Moderasi Beragama dan Kebhinekaan

  • Oleh: H. Muhammad Nasir, S.Ag., MH, Kakan Kemenag Lingga

Menguatnya suhu politik komunalitas di Indonesia saat ini sebagai akibat pandemik global yang merambah masuk ke dalam system sosial ekonomi dan system demokrasi, menyebabkan ketimpangan dan pertikaian pendapat di kalangan elit politik. Orgumen dan sentimen menjadi santapan publik dalam pemberitaan di berbagai media, sehingga seakan-akan antara kekuasaan dan keadilan tak dapat disatukan dalam cita-cita bersama. Padahal kita telah sepakat mengakui Indonesia adalah bangsa yang majemuk dan demokratis. Indonesia telah dikonsepsikan dan dibangun sebagai multicultural nation-state dalam kontek negara kebangsaan Indonesia modern, bukan sebagai mono cultural nation-state. Hal itu dapat dicermati dari dinamika praksis kehidupan bernegara sejak Indonesia merdeka tahun 1945 sampai saat ini. Artinya bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural dengan beraneka ragam suku, bahasa dan agama.

Bangsa Indonesia telah diikat kuat dengan ke-Bhinnekaan, dan menjadi wawasan nasional pemersatu bangsa. Sejak awal berdirinya bangsa Indonesia telah menetapkan secara konstitusional bahwa pluraritas bangsa harus diteguhkan dalam ke-Bhinnekaan yang dituangkan dalam dasar-dasar demokrasi dengan menghargai perbedaan dalam keragaman, yang mana secara formal institusional menjadi jiwa bangsa yang sangat kuat. Sehingga ditetapkanlah wawasan kebangsaan Indonesia itu dalam konsepsi Bhinneka Tunggal Ika.

Di tengah kondisi bangsa Indonesia sedang berjuang melawan pandemic yang tak kunjung berakhir, banyak diantara masyarakat yang memandang bahwa kemajemukan dan ke-Bhinnekaan bangsa Indonesia seakan-akan terusik dan bahkan menjadi ancaman bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Ditambah lagi dengan menurunnya kesehatan masyarakat dunia yang semakin mengkhawatirkan akibat virus covid-19 yang terus mewabah tanpa henti. Kondisi ini menyebabkan terbukanya peluang politik kotor dalam berdemokrasi, sehingga nilai-nilai demokrasi yang dibangun selama ini seakan-akan terasa menurun drastis dalam kehidupan berbangsa.

Kita tidak ingin bangsa ini tercabik-cabik oleh kekuatan opini publik yang berkembang, dan kita juga tidak mau milai-nilai demokrasi bangsa ini pudar akibat politisasi kepentingan. Apalagi jika hanya disebabkan perbedaan pendapat dan opini yang dibangun diatas politisasi pandemic global yang dihadapi. Oleh sebab itu kita harus kembali membangun opini public dan keyakinan politik yang adil dan demokratis. Maka persoalannya sekarang adalah dapatkah agama hadir sebagai penengah dan penyejuk di tengah bangsa menghadapi kondisi seperti itu?

Sebagai bangsa yang majemuk, Indonesia memiliki dasar yang kuat dalam mempertahankan kesatuan dan persatuan yaitu Bninneka Tunggal Ika. Namun karena resonansi politik berbagsa sadang mempertahankan kebijakan ekonomi yang menjadi tulangpunggung pembangunan, maka mengakibatkan melemahnya ketahanan dan keutuhan bangsa dengan saling mempertahankan pendapat dalam berdemokrasi. Disinilah agama ( baca : Islam ) harus hadir, menyampaikan pesan-pesan demokratis yang moderat. Agama harus tampil memberikan solusi dan aksi. Maka sudah saatnya moderasi beragama hadir dalam tata kehidupan bernegara.

Moderasi beragama pada prinsipnya bukan hal yang baru dikalangan masyarakat apalagi di tengah-tengah maraknya istilah pluralitas umat beragama sa’at ini yang semakin hari semakin sering diperbincangkan oleh banyak kalangan. Pada dasarnya moderasi merupakan identitas dan entitas umat Islam yang dalam bahasa agama di sebut sebagai Wasathiyyah. Yaitu karakter, sikap dan jatidiri umat islam sebagaimana Al-Quran menyebutnya dengan ‘ummatan wasathan’ ( QS.Al-Baqarah : 143 ). Artinya : Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi MahaPenyayang ( Qs. Al-Baqarah; 143 ).

Dalam ayat tersebut Allah SWT memberikan petunjuk bahwa Islam dan umatnya adalah umat yang adil dan pilihan yang memiliki karekter adil, terbaik, pertengahan atau moderat. Dalam bahasa arab wasathiyah berasal dari kata wasath yang bermakna adil, baik, tengah dan seimbang. Sebab itu wasathiyah berlawanan dengan sifat at-Tarruf / tatharruf (ekstrimisme) atau ghuluw / berlebihan, sebagaimana yang dijelaskan Allah SWT dalam Qs-Al-Maidah; 77 ). Artinya : Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” ( Qs. Al-Maidah 77 ).

At-Taghluw adalah sikap beragama yang berlebihan. Sikap ini diantaranya menunjukkan fanatisme yang berlebihan. Fanatik yang berlebihan mengakibatkan seseorang menutup diri dari pandangan lain dan mengangap pandangan yang berbeda dengannya sebagai pandangan yang sesat. Fanatisme akan lebih berbahaya lagi jika disertai dengan pemaksaan pendapat kepada orang lain. Sifat ghuluw atau tatarruf ( ekstrimisme ) merupakan sikap yang tercela dalam perilaku beragama ( baca : Islam ). Oleh sebab itu sikap yang lebih bijak dan santun sebagaimana yang di ajarkan Islam baik melalui Al-Quran maupun sunnah Nabi saw, adalah sikap beragama (ber-Islam ) dengan sikap Moderasi / Wasathiyah ( sikap pertengahan ). Sikap wasathiyah adalah memahami agama dengan ciri-ciri sebagai berikut ; ( 1 ); Memahami realitas dengan benar. Sebagai yang kita maklum, bahwa kehidupan manusia selalu berubah dan berkembang tiada batas. Karena itu ajaran Islam ber-isikan ketentuan-ketentuan yang tsawabit ( tetap ) dan hal-hal yang memungkinkan untuk berubah sesuai dengan perkembangan ruang dan waktu ( mutaghayyirat ). Hal-hal yang tetap hanya sedikit, yaitu berupa prinsif-prinsif aqidah, ibadah, muamalah, dan akhlaq. Sedangkan selebihnya bersifat elastis dan fleksibel ( murunah ) dan dimungkinkan untuk difahami sesuai perkembangan zaman ( mutaghayyirat ). Bagaimanapun segala tindakan hendaknya diperhitungkan maslahat dan madharatnya secara realistis sehingga keinginan melakukan kemaslahatan jangan sampai mendatangkan mudharrat yang lebih besar. ( 2 ); Memahami hal-hal prioritas dalam beragama. Di dalam Islam perintah dan larangan di tentukan bertingkat-tingkat. Misalnya saja perintah yang bersifat anjuran ( sunnah ), dibolehkan ( mubah ), ditekankan untuk dilaksanakan ( sunnah muakkadah ), wajib dan fardhu ( ‘ain dan kifayah ). Sedangkan larangan ada yang bersifat dibenci bila dilakukan ( makruh ) dan ada ajaran Islam yang bersifat ushul ( pokok-pokok/prinsip ) dan ada yang bersifat furu’ (cabang).

Sikap Wasathiyyah / moderat menuntut seseorang untuk tidak mendahulukan hal-hal yang bersifat sunnah dan meninggalkan yang wajib.Mengulang-ulang ibadah haji adalah sunnah, sementara membantu saudara muslim yang kesusahan adalah sebuah keharusan apabila ingin mencapai kesempurnaan iman. Demikian pula penentuan hilal puasa dan idhul fitri adalah persoalan furu’iyyah yang tidak boleh mengalahkan dan mengorbankan sesuatu yang prinsif dalam ajaran agama yaitu persatuan umat. ( 3 ); Memahami sunnatullah dalam penciptaan.Yang kita maksudkan dengan sunnatullah disini adalah pentahapan ( tadarruj ) dalam segala ketentuan hukum alam dan agama. Langit dan bumi diciptakan oleh Allah dalam enam masa ( fi sittati ayyam ), pada hal sangat mungkin bagi Allah untuk menciptakannya sekali jadi dengan “kun fayakun”.

Dan demikian pula penciptaan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan yang dilakukan secara bertahap. Seperti halnya alam raya, ajaran agama pun diturunkan secara bertahap. Sunnatullah yang berbentuk tadarruj ini perlu mendapat perhatian serius dari para ulama, juru da’wah, pemikir, aktivis, politisi dan sebagainya..( 4 ); Memahami teks keagamaan secara komprehensif. Syari’at Islam akan dapat difahami dengan baik jika al-Quran dan Hadits difahami secara komprehensif dan tidak sepotong-sepotong.Ayat-ayat Al-Quran, begitupula dengan hadits-hadits Nabi, harus difahami secara utuh sebab hubungan antara satu dengan yang lainnya saling menafsirkan ( al-Quran yufassiru ba’dhuhu ba’dhan ).

Misalnya dengan membaca ayat-ayat Al-Quran secara utuh akan dapat disimpulkan bahwa kata jihad dalam Al-Quran tidak selalu berarti perang, tetapi dapat bermakna jihad melawan hawa nafsu dan setan. ( 5); Mengedepankan dialog, toleransi dan terbuka dalam beragama. Sikap Wasathiyyah / Moderat Islam ditunjukkan melalui keterbukaan dengan pihak-pihak lain yang berbeda pandangan. Sikap ini didasari pada kenyataan bahwa perbedaan di kalangan umat manusia adalah sebuah keniscayaan. Hal ini dapat kita baca dalam Al-Quran Surat ( al-Kahfi ; 29 ): Artinya : Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.( Qs. Al-Kahfi : 29 ).

Ungkapan “tapi mereka senantiasa berselisih pendapat”, menunjukkan bahwa Allah SWT tidak menghendaki manusia satu pandangan , satu pendapat dan satu prinsif, karena perbedaan diantara manusia akan terus terjadi sepanjang kehidupan. Karena itu pemaksaan kehendak kepada mereka yang berbeda pandangan, baik dalam satu umat, maupun dengan umat lain, tidak sejalan dengan semangat moderasi dalam beragama.

Dengan demikian, dalam menghadapi persoalan bangsa Indonesia seperti saat ini, semangat moderasi beragama menjadi pilihan yang tepat. Kita jadikan perbedaan menjadi modal kekuatan, yang dirakit dengan semangat kebersamaan. Bhinneka Tunggal Ika sebagai filar berbangsa diikat dengan sikap moderat yang kuat. Dan pada akhirnya kita berharap moderasi beragama dapat menjadi semangat persatuan dalam perbedaan untuk mewujudkan pembangunan bangsa Indonesia yang maju dan modern. Aamiin.***

News Feed