by

Kesadaran Baru Human Real Source Perspektif Tasawuf

  • Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH, Kakan Kemenag Lingga

Membaca hasil penelitian Dr.Moehammad Reza Arfiansyah, S.Sos,M.M,CPC, baru-baru ini, khususnya di lingkungan Kementerian Agama RI, telah mengundang banyak perhatian dari berbagai kalangan. Penelitian tersebut adalah tentang perspektif baru peningkatan prilaku kerja organisasi yang meneliti 5 nilai budaya kerja di Kementerian Agama yaitu: Integritas, Profesionalitas, Inovasi, Tanggung Jawab. dan Keteladanan. Prilaku budaya kerja yang dikembangkan di Kementerian Agama sejak 2014 hingga kini, merupakan cita-cita besar Kementerian Agama untuk mengembalikan citra Kementerian Agama di mata publik.

Lalu apakah 5 Nilai Budaya kerja tersebut sudah dapat terwujud dan berhasil dilaksanakan dengan baik di lingkungan Kementerian Agama? Itulah yang diuji secara ilmiah melalui penelitian tersebut. Perspektif baru yang dikemukakan dalam penelitian ini dituangkan dalam teori yang dinamakannya sebagai managemen sumber daya manusia melalui Human Real source ( HRs ).

HRs merupakan managemen Sumber Daya Manusia dalam perspektif baru yang mengemukakan tentang konsep diri manusia yang paling dalam ( the real inner strength ). Dalam penelitian ini, prilaku manusia sangat ditentukan oleh dirinya, yang mana pada diri manusia yang paling dalam ada faktor niat. Dan niat itu bersemayam di hati setiap orang. Manusia tidak sanggup mengendalikan hatinya itu tetapi hatilah yang mengendalikan prilaku manusia. Pengendalian inilah yang kemudian akan melahirkan kesadaran yaitu kesadaran akan kebenaran Tuhan yang wajib diyakini dan dilaksanakan dalam setiap langkah aktivitas kehidupan manusia. Kesadaran itu muncul dari lubuk hati yang paling dalam. Karena hati adalah sesuatu yang sangat abstrak, sehingga banyak orang mengatakan siapa tahu apa yang ada di hatiku, dan aku tak tahu apa yang ada di hatimu.

Selama ini hati dipahami sebagai sebuah entitas halus (lathifah) yang menjadi sumber kesadaran dan tempat pengetahuan spiritual. Sehingga diketahui bahwa ada tarik menarik antara yang materil dan spiritual. Jika yang pertama yang kuat maka manusia tunduk kepada keserakahan, arogansi dan berbagai watak buruk lainnya dan sebaliknya jika yang kedua yang kuat maka manusia akan terangkat pada kedekatan dan kehadiran Tuhan dalam dirinya. Dari persepsi ini, HRs hadir menawarkan persfektif baru tentang konsep hati manusia.

Dalam perspektif tasawuf, hati adalah tempat bersemayamnya nur (cahaya Ilahi ). Hatilah yang menguasai dan mengendalikan manusia. Manurut Imam Al-Ghazali, hati memiliki dua pengertian yaitu, pertama: Hati dalam arti fisik yaitu daging yang berbentuk buah shanubar yang berada sebelah kiri dari dada manusia. Kedua; Hati dalam arti non fisik dan disebut juga dengan qalbu, yaitu sesuatu yang abstrak dan halus, bersifat Rabbaniyah (ketuhanan), Ruhaniyah (kerohanian). Hati yang halus itulah hakikat kemanusiaan. Dialah yang mengetahui dan yang mengerti serta mengenal dari manusia. Dialah yang diajak bicara, yang disiksa, yang dicela dan dituntut. ( Ihya’Ulumuddin : 1978 ).

Hati atau Qalbu adalah wahana cinta Ilahi yang suci ( fitrah ).Tugas manusia adalah untuk mempertahankan kesucian dirinya untuk terus menerus melakukan riyadhah ( ibadah ), sehingga kualitas dirinya semakin meningkat. Bila hati tidak dibersihkan, niscaya firus-firus syaithaniyah akan menjadi penyakit yang kronis yang sulit disembuhkan. Zikir dan berbagai pelatihan spiritual merupakan cara efektif untuk vitamin bathin sebagai obat penyembuhnya (syifa’ al-quluub ). Bila qalbu ini sakit, maka sakitlah seluruh potensi dirinya. Begitupun sebaliknya jika qalbu sehat maka sehatlah seluruh potensi dirinya. Dari qalbu yang sehat inilah lahirnya kesadaran yang menjadi motivasi penggerak seluruh aktivitas manusia dalam hidupnya.

Orang-orang yang memiliki kesadaran tinggi dan memiliki cahaya qalbu atau hati, akan selalu merasakan kedekatan diri kepada Allah SWT, mereka jauh dari hati yang berpaling (musharrifal Qulub ) dari Allah SWT. Karena itu orang yang hatinya di sinari oleh Nur Ilahi, mereka menjalani hidup dan menghadapi problematika kehidupan ini dengan optimis, mereka menghampiri Allah swt dengan ibadah-ibadah sunnah setelah yang wajib disempurnakan. Mereka melakukan audiensi dengan kekasihnya (Allah SWT) melalui sholat dan ibadah lainnya, dia melafazkan pujian kepada-Nya untuk mengetuk nuraninya terus menerus. Semuanya dilakukan dalam kesadaran yang diikuti oleh hati yang berharap, sehingga kekhusu’an ibadah memancar dalam bathinnya yang selalu dekat dan bahkan dia berada dalam dekapan-Nya yang Maha Pengampun.

Mereka yang memiliki cahaya qalbu atau hati, selalu berada dalam suasana bathin yang merindu, berharap dan penuh khusu’, dan meraka terus mengisi qalbunya dengan Nur Ilahi Rabbi, yang mana ia tenggelam bertawajjuh merasakan makna kehidupan ini. Dia gelisah dalam kedamaian, gelisah karena merasa betapa tidak berarti dirinya di hadapan Allah SWT. Dia resah karena potensi ruhaninya ( iman ) dalam dirinya dirasakan kurang karena itu dia selalu ingin berdialog dan beraudiensi dengan Tuhannya yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ketika itulah manusia mendapatkan ketenangan dan kedamaian. Jiwa dan raganya tentram, karena di dalam bathinnya ada Dia Yang Maha Damai.

Hal ini dinyatakan Allah SWT dalam surat Al-Raad ayat 28: Yang artinya : “Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah SWT, Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram “(Qs. Ar-Raad ; 28 ).

Cahaya Ilahi yang bersemayang di hati menjadi petunjuk bagi manusia ( inner guide ), yang selanjutnya menimbulkan kesadaran murni ( higher self ) bagi seseorang untuk mengikuti kebenaran dalam setiap langkah dan aktivitasnya. Kesadaran itu terjadi karena karunia dan anugerah Allah Yang Maha memberi petunjuk. Kebenaran itu dari yang Maha Benar bukan dari manusia, oleh sebab itu Allah lah yang menunjukkan kebenaran itu.

Dalam teori HRs, yang mengatur prilaku manusia adalah kebenaran dan kesadaran yang ada di hati. Kebenaranlah yang menggerakkan aktivitas manusia, bukan fikiran atau pengaruh yang muncul dari luar diri manusia. Cahaya kebenaran ( ruh manusia ) tak dapat difikirkan melainkan dirasakan. Dialah al-Haq , yang mengendalikan ruh itu, dan Dialah yang menetapkan cahaya kebenaran itu. Manusia tidak mampu menginterpensi kebenaran tersebut.
Ketika kita menyadari bahwa hanya Allah swt yang mempu mengendalikan hati manusia, maka sekali lagi sebagaimana ditegaskan di atas, bahwa tugas manusia adalah membersihkan hati itu melalui proses muhasabah (ibadah, zikir dan do’a ) agar hati itu tetap cemerlang dan bercahaya sehingga jalan kebenaran akan tanpak dalam setiap aktivitas yang dilakukan. Ketika kesadaran itu muncul, maka seluruh aktivitas manusia digerakkan oleh energi ruhaninya berupa ketaqwaan dan keimanan yang membaja dalam bentuk perilaku siddig, tabligh, amanah dan fathonah yang akan mengalahkan sifat-sifat kebinatangan dan sifat rendahan lainnya, seperti dengki, iri hati, malas, dendam dan sederet sifat tercela lainnya.

Oleh sebab itu manusia harus mampu mengendalikan kesadaran dan niatnya agar hati tetap bercahaya. Dari niat seluruh aktivitas manusia berawal dan berakhir. Niat yang tidak lurus akan melahirkan aktivitas yang liar dan sulit dikendalikan, ia akan bertentangan dengan prinsif-prinsif kebenaran.

Dengan demikian, kesadaran yang dilahirkan oleh niat yang tulus dan lurus akan membimbing perilaku manusia dalam aktivitas hidupnya. Kesadaran inilah yang kita tuju, yaitu kesadaran esensial yang dianugerahkan Allah SWT kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dengan kesadaran inilah lahirnya manusia-manusia muliya ( insan kamil ), yaitu sumberdaya manusia nyata ( human real source ) yang dikehendaki oleh setiap manusia dan bangsa manapun. Akhirnya kita berharap, perilaku budaya kerja organisasi kementerian dan lembaga di Indonesia kaya dengan orang-orang yang berkesadaran tinggi, memiliki niat yang ikhlas dan lurus, sebagai pengendali seluruh perilaku dan aktivitas hidupnya. Aamiin.***

News Feed