by

Ini Alasan WHO Larang Remdesivir untuk Pengobatan Covid-19?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menyebut remdesivir tidak boleh digunakan sebagai pengobatan untuk pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit. Keputusan ini dikeluarkan sebulan setelah Food and Drug Administration (FDA), menyetujui obat tersebut untuk mengobati pasien berusia Covid-19 di atas 12 tahun yang dirawat di rumah sakit.

Remdesivir yang juga dikenal sebagai Veklury, dan steroid deksametason adalah satu-satunya obat yang diizinkan untuk mengobati pasien Covid-19. Tetapi penelitian global baru-baru ini, menyelidiki tentang keefektifan remdesivir, yang dijalankan oleh WHO.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa remdesivir memiliki sedikit atau tidak ada dampak pada pasien yang dirawat di rumah sakit. Hail penelitian ini tentu bertentangan dengan uji coba sebelumnya.

“Remdesivir tidak memiliki efek yang berarti pada kematian atau pada hasil penting lainnya untuk pasien, seperti kebutuhan ventilasi mekanis atau waktu untuk perbaikan klinis,” ucap para ahli dari Kelompok Pengembangan Panduan WHO yang dipublikasikan di jurnal medis The BMJ, sebagaimana dilansir NBC News, Jumat (20/11/2020).

Presiden dari European Society of Intensive Care Medicine, Jozef Kesecioglu mengatakan hasil sementara dari uji coba WHO mencakup data dari lebih dari 11.200 orang di 30 negara. Kini remdesivir diklasifikasikan sebagai obat yang tidak boleh Anda gunakan secara rutin pada pasien Covid-19.

Gilead Sciences, yang membuat remdesivir, telah mempertanyakan temuan WHO. Dalam pernyataan yang dikirim melalui email.

“Kami yakin bahwa dokter di garis depan mengenali manfaat klinis Veklury berdasarkan bukti kuat dari berbagai studi acak dan terkontrol,” tulis pernyataan resmu Gilead.

Meskipun dokter dan rumah sakit tidak diwajibkan untuk mengikuti saran WHO, rekomendasi tersebut dapat membatasi penggunaan remdesivir. Namun, obat itu tetap banyak digunakan di rumah sakit, termasuk di Amerika Serikat (AS). Obat itu diizinkan dan disetujui untuk digunakan di lebih dari 50 negara.

Bahkan Remdesivir adalah salah satu obat yang diberikan kepada Presiden AS, Donald Trump ketika dinyatakan positif mengidap virus corona pada Oktober 2020. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh National Institutes of Health menemukan bahwa remdesivir mengurangi lama rawat inap di antara pasien dengan penyakit sedang sekitar empat hari, dari 15 menjadi 11.

Ahli Paru di Northwell Health di New York, dr. Hugh Cassiere, mengatakan remdesivir dianggap bekerja dengan menghentikan replikasi virus, kemungkinan akan berdampak lebih pada awal perjalanan penyakit.

“Jika Anda mulai menggunakan remdesivir sejak dini, Anda akan mengharapkan hasil yang lebih baik,” kata Cassiere.

Dokter Ken Lyn-Kew dari National Jewish Health di Denver setuju bahwa terus mempelajari remdesivir adalah hal yang penting. Tetapi dia tidak begitu antusias menggunakan obat tersebut untuk pasien yang menderita penyakit stadium lanjut.

“Data menunjukkan itu benar-benar tidak bekerja dengan baik pada pasien yang dirawat di rumah sakit,” kata Lyn-Kew.

Kesecioglu mengatakan tidak ada cukup data tentang kapan remdesivir mungkin efektif atau untuk mencegah penggunaan rutinnya dalam perawatan intensif. Itu tandanya dokter harus menggunakan remdesivir hanya sesekali, bukan sebagai pengobatan standar untuk pasien Covid-19.

Sekira 10 bulan setelah pandemi, perdebatan terus berkecamuk di industri medis tentang obat mana yang terbaik untuk merawat pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit. Menurut data yang dibagikan Gilead dengan European Medicines Agency Remdesivir memiliki potensi efek samping pada ginjal.

Secara terpisah, FDA mengeluarkan otorisasi penggunaan darurat untuk remdesivir yang dikombinasikan dengan baricitinib Eli Lilly. Ini adalah pil yang digunakan untuk mengobati rheumatoid arthritis.

Dalam uji klinis pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit, pengobatan gabungan terbukti mengurangi waktu pemulihan dalam 29 hari setelah memulai pengobatan, dibandingkan dengan pasien yang menerima plasebo dengan remdesivir.*

(sumber: okezone.com)

News Feed