by

Setiba di Mekkah, Jamaah Umrah Wajib Karantina 72 Jam

Pekan ini Indonesia telah mengirimkan dua kloter jamaah umrah ke Tanah Suci. Setiba di Mekkah, jamaha umrah wajib karantina 72 jam.

Perlu diketahui, saat ini 75% dari total jamaah umrah yang berangkat merupakan pengelola dari sejumlah pengelola tour dan travel di Indonesia.

Pemberangkatan pertama berlangsung pada Minggu, 1 November 2020 dengan total jamaah 224 orang. Lalu disusul kloter kedua pada 3 November 2020 dengan total jamaah 83 orang.

Managing Director Dream Tour, Ryan Darmawan mengungkapkan, para perwakilan tour and travel itu sengaja diberangkatkan untuk melakukan survei. Mereka memastikan bahwa kondisi di Tanah Suci memang sudah benar-benar layak untuk disambangi jamaah Indonesia.

“Dari total 307 orang yang diberangkatkan ke Tanah Suci, jumlah jamaah atau pengguna jasa tour umrah malah hanya sekira 25%. Sisanya ya dari pihak tour travel, karena masih banyak evaluasi dan survei yang harus dilakukan demi meningkatkan layanan di masa pandemi Covid-19,” kata Ryan, Kamis 5 November 2020.

Lebih lanjut Ryan menjelaskan, kegiatan survei ini dilakukan mengingat program umrah di masa pandemi Covid-19 mengalami perubahan jadwal yang cukup panjang.

Bila sebelumnya program umrah rata-rata dilakukan selama satu minggu hingga 9 hari, sekarang total program mencapai 10 hari atau bahkan lebih. Tergantung dari hasil karantina.

“Jamaah yang baru sampai di Mekkah itu kan harus karantina selama 3 hari. Jadi setiba di sana, langsung diantar di hotel Mekkah, di karantina 72 jam atau 3 hari. Tidak boleh keluar kamar hotel. Dan makanan akan diantar langsung ke kamar masing-masing,” kata Ryan.

Pada hari kedua lanjut Ryan, jamaah akan menjalani swab test untuk mengetahui apakah mereka aman dan sudah bisa melaksanakan ibadah umrah. Kebetulan, pada keberangkatan pertama jamaah Indonesia pada 1 November 2020, seluruh jamaah dilaporkan sudah melaksanakan kegiatan umrah di hari kedua, tepatnya setelah shalat Isya.

“Selain karantina, memang ada pelayanan lain yang masih harus disurvei dan dimonitor karena pemerintah Arab Saudi benar-benar menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Misalnya, sekarang bus yang membawa jamaah itu hanya boleh diisi 20 orang, sementara sebelum pandemi bisa 40 orang,” tandasnya.*

(sumber: okezone.com)

News Feed