by

“Segantang Lada” Ibarat yang Tersirat dalam Pemikiran Politik Kepri

  • Oleh: Alpino Susanto, Ph. D, Rektor Universitas Karimun

Jargon dan nomor pasangan calon (paslon) pada pemilu di Kepri adalah upaya untuk meraih suara di pesta demokrasi kepala daerah. Suatu yang menjadi kebiasaan pada setiap pemilu, setiap paslon akan memberikan program yang mengedepankan komitmen yang akan dilakukan jika terpilih sebagai pemenang.

Kepri yang berjuluk Negeri Segantang Lada diibaratkan jumlah pulau-pulau yang terbentang di wilayah lautan yang luas, yang sulit untuk dihitung pasti keberadaan jumlahnya, sehingga pada masa kerajaan Riau Lingga dahulu, dipakailah wadah ‘gantang’ dan ‘lada’.

Pada setiap pulau yang dilalui akan disimbolkan dengan sebutir lada yang dimasukkan ke dalam gantang. Setelah perjalanan yang jauh mengelilingi lautan yang membentang luas, maka terkumpul segantang lada, yang mewakili banyaknya pulau. Konon begitulah ibarat permisalan negeri Kepulauan Riau berjuluk “Segantang Lada” yang bermakna jumlah pulau yang tersebar di lautan yang luas.

Politik itu bisa menghangat atau menyejukkan. Ibarat segantang lada yang bisa terasa hangat di dada, namun akan hilang menyejuk seiring berjalannya waktu. Kepri yang luas tidak mudah untuk ditaklukkan dalam waktu satu hari perjalanan. Sebaran penduduk yang terpencar pada pulau-pulau yang terpisah-pisah menjadikan komunikasi tidak selalu lancar. Masyarakat sudah terbiasa untuk menerima informasi dari mulu ke mulut. Apatah lagi di masa pandemi sekarang saat transportasi laut dibatasi dan pertemuan tatap muka cendrung dihindari. Namun, seiring bergesernya teknologi komunikasi antarindividu ke komunikasi berbasis internet, masyarakat mencari alternatif informasi melalui jejaring internet. Secara geografis, komunikasi berbasi internet, adalah yang paling efisien dan menungkinkan untuk dicapai dalam hitungan menit atau jam.

Jumlah lada yang disimbolkan dalam gantang tanpa angka yang pasti menyimbolkan sulit benar-benar memprediksi siapa yang memenangkan persaingan politik di Kepri. Prediksi akan siapa yang menang, dapat saja dikaitkan dengan politik dinasti yang akhir-akhir ini menghangat, keterkaitan dengan incumbent, putra daerah, kontribusi dan peran paslon kepada daerah sebelum pemilu, dan lain lain. Namun prediksi hanyalah prediksi, yang pada akhirnya jumlah pemilih pada paslon adalah yang menentukan siapakah yang keluar sebagai pemenang kepala daerah di era demokrasi ini.

Suasana pandemi saat ini menjadi alasan utama mengapa kampenye terbuka tidak mudah dilaksanakan seperti pemilu sebelumnya. Situasi ini menjadikan calon pemilih memantau program yang ditawarkan paslon melalui media sosial dan siaran daring debat publik paslon.

Jika Sultan Riau Lingga dikononkan mengibaratkan lada di dalam gantang sebagai jumlah pulau di Kepri yang tidak diketahui pasti jumlahnya pada masa itu, maka ketidakpastian suara siapa yang akan menjadi pemenang adalah ibarat yang selaras. Calon pemilih tidak selalu dapat ditemui oleh paslon selama masa pandemi ini. Keterwakilan potensi pemilih terhadap paslon mungkin saja diwakilkan dari banyaknya respon pemilih dalam media sosial, dan percakapan warung kopi. Penulis melihat naiknya kunjungan media sosial dalam memantau debat publik selama masa pandemi bila dibandingkan kunjungan di pemilu sebelumnya. Pemilih ibarat lada di dalam gantang, semakin banyak lada terkumpul semakin besar kemungkinan keterpilihan paslon.

Gantang adalah tempat mensukat menciduk barang-barang dapur. Semakin besar gantang semakin besar kemungkinan keterpilihan paslon. Jika gantang-nya kecil, maka harus semakin sering menciduk perhatian pemilih untuk tertarik kepada program-program yang ditawarkan paslon. Media sosial memberikan peran penting agar calon pemilih dapat terus diingatkan akan program program yang menarik paslon.

Sedangkan Lada adalah merica yang menghangatkan. Kedewasaan dalam bersikap setiap tim pemenangan dan relawan patut selalu diupayakan. Jika mengedepankan rasa hangat di dada di dalam masa kampanye dan debat publik paslon berlansung, maka pemikiran politik yang harus ditawarkan adalah program yang dapat diterima pemilik suara. Setiap paslon tentu memiliki basis suara, namun yang perlu dipikirkan lebih jauh adalah bagaimana menarik perhatian pemilik suara yang belum menentukan pilihannya hingga detik ini. Semua program perlu dipikirkan sebaik mungkin agar ianya menetapi hati pemilih.

Dengan kondisi yang diibaratkan segantang lada, yaitu ketidakpastian jumlah, ibarat lada yang menghangatkan, dan gantang yang berfungsi sebagai alat penyukat, maka setiap paslon harus berpikir keras bagaimana cara terbaik untuk menyukat suara di daerah pemilihannya memperebutkan kursi kepala daerah, kabupaten, kota dan provinsi.

Jika kemampuan berfikir yang digunakan adalah metode berfikir dari apa yang dikembangkan oleh Edward De Bono, yang biasa disebut Six Thinking Hats Strategy, maka ada 6 cara berfikir yang disimbolkan dalam 6 warna topi. Pertama adalah menggunakan Topi Putih. Cara berfikir dengan mengumpulkan data dan fakta pendukung yang ada, guna mengungkap trend dan informasi yang hilang diluar opini yang berkembang. Cara berfikir yang kedua adalah topi hijau. Cara berfikir dengan solusi dalam kreatifitas dan ide sebanyak-banyaknya. Alternatif apa yang dapat diambil, walaupun rasanya mustahil, rasanya aneh, namun biarkan ide mengalir. Terus paksakan otak menghasilkan ide, dan tulis ide tersebut untuk dipaparkan kepada calon pemilih sebagai solusi masa depan.

Ketiga adalah pemikiran topi kuning. Berfikir untuk menentukan manfaat positif dan kelebihan dari ide-ide yang telah didapatkan. Keempat adalah topi hitam. Ini adalah cara berfikir untuk melihat kelemahan dan kekurang ide-ide yang ada dengan melihat dari sisi resiko, keterbatasan dan pengaruh pada hal lain yang mungkin lebih buruk. Ini adalah cara berpikir kehati-hatian untuk menghindari suasana semakin buruk dan suram di masa depan. Saat menggunakan topi hitam disertai dengan pertanyaan: Bagaimana caranya agar kekurangan dari ide tersebut dapat dicegah atau ditanggulangi?

Kelima adalah topi merah. Tanpa memperhatikan fakta dan data, bagaimana perasaan terhadap ide-ide tersebut. Seringkali kenyataan tidak seperti fakta yang ada. Perasaan tanggungjawab seringkali membantu pengambil keputusan untuk memperkuat kebijakannya.

Keenam adalah cara berfikir topi biru. Ini adalah cara berfikir yang memilih pilihan terbaik dari pilihan yang ada. Mengambil keputusan dan tindakan dari pilihan yang ditentukan adalah cara berfikir topi biru. Karena ide sebagus apapun, jika tidak dilakukan dan ditindaklanjuti tidak akan bermanfaat.

Setiap paslon, tim sukses dan relawan dapat saja berpikir menggunakan semua jenis topi yang ada, namun belum sepenuhnya menjamin kemenangan akan diraih. Persaingan politik di Bumi Segantang Lada masih menjadi misteri yang akan terungkap setelah pemilihan benar-benar terjadi dan gantang siapakah yang dapat menampung lada paling banyak, maka dialah yang akan menjadi pemimpin di daerah.

Semoga pemilu di Kepri tahun 2020 ini berjalan sukses dan aman. Aamiin. ***

News Feed