by

Urgensi Pengelolaan Zakat oleh Baznas dalam Mewujudkan SDGs

  • Oleh: Juni Aziwantoro, SE, MM, STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Zakat merupakan bentuk rukun yang bercorak sosial-ekonomi dari lima rukun Islam. sehingga jika diperhatikan bahwa zakat bukan hanya memproses pada bidang Ibadah yang semata hanya untuk menunaikan kewajiban, namun juga meliputi aspek muamalah yakni yang menyangkut khalayak hidup orang banyak yang kurang mampu secara materi. Sinergisitas inilah yang selayaknya terbangun bagi umat khususnya di Indonesia dalam membantu menyelesaikan persoalan kemiskinan di Negeri ini.

Zakat (Sedekah) adalah salah satu instrumen terpenting dalam sistem ekonomi syariah dan berperan penting dalam menghilangkan ketimpangan di masyarakat. Umat Islam yang memiliki kekayaan surplus wajib membayar zakat, dan dana ini akan disalurkan kepada delapan penerima manfaat yang dikenal sebagai kelompok penerima zakat (asnaf) dengan prioritas yang diberikan kepada masyarakat miskin dan yang membutuhkan.

Salah satu aspek yang terpenting agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang berhak menerima (mustahik) maka diperlukan pengelolaan yang baik yakni dalam bidang hal manajemen pengelolaan zakat. Sebelum terbentuk lembaga zakat secara nasional, selama ini pola pengelolaannya masih melalui amil yang berada di Masjid, Musholla dan Surau, namun tingkat efektivitasnya masih terbatas dan bahkah lebih memprioritaskan pada pada zakat fitrah. Akan tetapi semenjak di Undang-undangkan secara tegas melalui UU Nomor 23 tahun 2011 jo UU Nomor 38 Tahun 1999 tentang pengelolaan zakat , maka keberadaan lembaga zakat semakin kuat di Indonesia dan bahkan dari segi pendapatannya dalam berbagai laporan didaerah cukup menjanjikan.

Hari ini bisa kita saksikan dari lembaga Zakat yang dibentuk oleh pemerintah yang dinamakan dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) bukan hanya terpusat pada 1 lokasi secara nasional, juga sudah tersebar di tiap daerah baik tingkat Provinsi maupun tingkat Kabupaten/ Kota. Hal ini lah yang membuat keberadaan lembaga zakat semakin dipercaya oleh masyarakat untuk mengeluarkan hartanya ke lembaga tersebut. Disamping itu kita juga bisa merasakan adanya lembaga Amil zakat (LAZ) dibawah naungan organisasi kemasyarakatan yang tujuannya membantu mempercepat pengelolaan zakat, misalnya telah ada Laziz dibawah naungan organisasi Muhammadiyah juga ada Laziz NU dibawah naungan organinasi Nahdatul Ulama. Serta keberadaan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) ditiap Masjid, Surau dan Musholla sebagai bentuk kerjasama dengan lembaga BAZNAS.

Peran BAZNAS dalam hal ini harus dilakukan secara optimal, dikarenakan salah satu tugas BAZNAS adalah membuat pedoman pengelolaan zakat yang nantinya akan dijadikan sebagai bahan acuan dalam pengelolaan zakat. Sedangkan salah satu fokus kinerja pemerintah dalam bidang pembinaan dan pengawasan pengelolaan zakat ialah mengevaluasi pelaksanaan kebijakan pengelolaan zakat nasional yang mengacu pada regulasi perundang-undangan maupun pedoman yang dikeluarkan BAZNAS.

Zakat yang dapat kita pahami bersama bahwa selama ini telah mampu berbuat untuk membantu masyarakat muslim yang dalam keterbatasan hidup yakni bagi 8 asnaf tersebut. Upaya ini terus dilakukan oleh amil untuk membantu masyarakat yang kurang mampu. Wujud ini merupakan bentuk keadilan dalam hal pengelolaan harta. Jika pada aspek yang lebih besar bahwa Zakat mampu mengentaskan tingkat kemiskinan secara menyeluruh. Sehingga ketimpangan didalam masyarakat tidak terjadi.

Sebagaimana diketahui bahwa persentase penduduk miskin di Indonesia yang dicatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) terus mengalami kenaikan pada Maret 2020 mencapai 9,78 persen. Jumlah ini meningkat 0,56 persen poin terhadap September 2019 dan meningkat 0,37 persen poin terhadap Maret 2019. Tren kenaikan ini bukanlah suatu hal yang positif sebaliknya bahwa tren kenaikan ini akan sangat berdampak pada cita-cita pemerintah dalam mewujudkan nilai-nilai yang tertuang dalam Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.

Pemerintah selaku pemegang kekuasaan tertinggi secara konstitusional telah berupaya mencari intrumen yang tepat dalam mempercepat penurunan kemiskinan tersebut. Berbagai kebijakan baik sektoral, moneter dan fiskal maupun kebijakan lainnya ternyata belum efektif dalam menurunkan angka kemiskinan yang signifikan bagi bangsa ini. Selain itu Gap antara tingkat kekayaan dan kemiskinan penduduk Indonesia yang besar menunjukkan ada permasahan dalam distribusi kekayaan maupun pendapatan di Indonesia. Permasalah seperti ini terus diupaya oleh pemerintah untuk menghindari hal-hal diatas.

Fenomena miskin ini sebenarnya bukanlah masalah Indonesia saja, akan tetapi dunia merasakan setiap daerahnya masih banyak penduduk miskin. Oleh karena itu, tahun 2000 dibentuk deklarasi yang dikenal dengan nama Millenum Development Goals (MDGs) dengan harapan dapat menjadikan kehidupan lebih baik, hal ini termasuk indonesia salah satunya yang ikut dalam deklarasi tersebut. Namun sejak akhir tahun 2015, instrumen yang digunakan dalam mengukur kehidupan lebih baik bukan lagi dengan MDGs akan tetapi dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) dikenal istilah tujuan pembangunan berkelanjutan. SDGs dinyatakan sebegai sebuah platform untuk bertindak dalam mengentaskan kemiskinan di daerah serta memastikan semua orang dapat merasakan perdamaian dan kemakmuran.

Pelaksanaan pembangunan dalam teori yang dikembang oleh Jim Ife bahwa ada 6 dimensi pembangunan, yakni a) Pembangunan sosial, b) Pembangunan ekonomi, c) Pembangunan Politik, d) Pembangunan lingkungan hidup, e) Pembangunan personal/spiritual, f) Pembangunan kebudayaan. Berangkat dari dimensi spiritual di atas, terdapat potensi besar dalam pencapaian target SDGs di tahun 2030 yang akan datang. Tidak bisa dinafikan jika ingin mencapai sebuah pembangunan yang berkelanjutan harus melibatkan sebesar-besarnya partisipasi masyarakat. Dan untuk menarik partisipasi masyarakat Indonesia yang demikian religious, maka unsur spiritual dalam pembangunan harus betul-betul diperhatikan. Jika pada strategi pada pencapaian MDGs lebih berfokus pada effort dari pemerintah. Maka tidak ada salahnya pada pencapaian target SDGs ini potensi terbesar dari masyarakat mulai dilibatkan. Sebutlah sebuah potensi luarbiasa bernama Zakat.

Potensi besar ini tentunya harus dikelola secara baik guna tercapainya tujuan yang dinginkan. Aspek yang dilihat bukan saja pada sisi banyaknya masyarakan yang memberikan zakat ke LPZ juga tentang strategi yang digunakan LPZ dalam mengelola zakat serta memberikan kepercayaan masyarakat kepada LPZ dalam membaya zakat.
Sebagai bagian dari lembaga filantropi di Indonesia, BAZ (Badan Amil Zakat Infaq dan Sedekah) dan LAZ (Lembaga Amil Zakat) bisa berkontribusi dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pengembangan berbagai program yang sudah dilakukan. Zakat bisa menjadi sumber daya alternatif dalam mendukung pencapaian SDGs dengan mengedepankan pendekatan yang inklusif dan program yang strategis, berorientasi jangka panjang dan berkelanjutan. Sementara itu, SDGs dapat digunakan sebagai alat ukur dan menjadi panduan program-program pemberdayaan yang dilakukan oleh berbagai lembaga pengelola zakat.

Aspek-aspek yang dikemukan diatas tentunya harus dilalui dengan pengelolaan yang baik dalam zakat, sebab diketahui bahwa apabila dilakukan sesuia dengan amanat UU Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan zakat pada pasal 2 maka tujuan utama dalam pengentasan kemiskinan akan sangat mudah tercapai.

Dalam SDGs sendiri selalu ditekankan kemitraan dan kolaborasi dalam pengentasan masalah kemiskinan. Pada saat ini beberapa lembaga Amil Zakat telah melakukan pemberdayaan masyarakat dengan ruang lingkup masing-masing wilayah. Apabila pengelolaan secara professional dengan nilai-nilai spiritual yang diterapkan dan dilakukan menyeluruh terhadap dana zakat yang berpotensi sebesar 217 triliun rupiah. Maka pencapaian target SDGs bukan hanya akan tercapai dengan ukuran penuruan angka kemiskinan, namun secara sistem akan menjadi sebuah gelombang perubahan yang sangat besar, yang membawa pada dampak positif bagi peningkatan kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia. ***

News Feed