by

Spritualitas Pilkada

  • Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag, MH, Kakan Kemenag Lingga

Sebentar lagi bangsa Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi memilih kepala daerah dan wakil kepala daerah. Dengan cara berbeda bangsa Indonesia telah mempersiapkan prosedur dan tahapan Pilkada karena dilangsungkan dalam kondisi pandemi. Walaupun demikian masyarakat tetap memiliki komitmen kuat menyambut kebijakan pemerintah dalam pelaksanaan Pilkada dengan semangat demokrasi yang tinggi.

Dalam kontek politik berbangsa, memilih kepala daerah merupakan hak-hak demokrasi yang dilindungi secara konstitusional. Memilih kepala daerah merupakan hak konstitusi bagi seluruh rakyat, karena pada dasarnya yang menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin lima tahun ke depan sangat ditentukan oleh ikhtiar dan pilihan rakyat. Karena kepala daerah adalah pemimpin bagi masyarakat, maka memilih seorang pemimpin merupakan kewajiban bagi setiap orang. Pemimpin adalah orang yang akan memandu, mengayomi dan melayani masyarakat dalam mencapai tujuan bersama, baik tujuan hidup berbangsa maupun tujuan hidup beragama.

Kedua tujuan ini tak dapat dipisahkan dalam kontek kehidupan berbangsa bernegara. Sebab itu, pemimpin harus memiliki kemampuan untuk menggerakan dan membangun kedua tujuan tersebut. Kemampuan tersebut dalam bahasa managemen saat ini disebut sebagai kualitas spiritual pathfinder (Sanerya Hendrawan: 2009).

Spiritual pathfinder merupkan kualitas seorang yang tumbuh dari rasa keterpanggilan pada tugas dan perannya sebagai pemimpin. Perasaan ini muncul dari dorongan dari dalam (internal motivation) sehingga membangkitkan komitmen peribadi (self commitment ) yang kuat terhadap tanggung jawab kepemimpinannya. (Bente Lowendhal dan Oldvind Revang: 1998).

Pentingnya memilih pemimpin yang memiliki spiritual pathfinder adalah karena pemimpin akan membangun dan mempersiapkan generasi penerus yang memiliki integritas dan kompetensi tinggi yang sanggup mengangkat harkat dan martabat bangsa yang saat ini sangat tidak membanggakan. Kita pantas berbangga bahwa para pendiri bangsa ini adalah figur-figur intelektual yang religius sekaligus aktivis pergerakan sosial. Mereka adalah pribadi-pribadi unggul yang tahan banting serta memiliki cita-cita mulia. Mereka tidak segan-segan masuk ke penjara demi memperjuangkan nasib rakyat dan prinsip-prinsip moral. Mereka adalah tokoh-tokoh pergerakan, tetapi sangat mencintai buku dan ilmu pengetahuan. Mereka siap menjalani hidup miskin demi kesejahteraan dan kejayaan bangsa. Mereka adalah pathfinder bangsa yang sejati.

Pilkada sebagaimana yang diamanahkan Undang-Undang Nomor: 32 tentang Pemerintah Daerah, merupakan usaha dan aktivitas politik yang senantiasa melibatkan team-work yang menggerakkan banyak orang untuk mencapai tujuan berdemokrasi. Karena itu sangat penting dibangun dalam semangat dan prinsif ikatan emosi bathin yang kuat. Ikatan emosi inilah tempat berfungsinya kekuatan-kekuatan perasaan kedekatan Tuhan dalam setiap aktivitas manusia. Inilah kemudian yang kita maksud dengan spiritualitas dalam artikel ini. Spirtulitas merupakan kecerdasan emosi yang dapat membangun kebenaran dalam system perilaku dan dapat mendorong produktivitas kerja yang bersifat moral yang tinggi.

Banyak para ahli managemen berpendapat bahwa saat ini dimana terjadi pergeseran relasi struktur tata kerja yang semula bersifat hirarkhis-pertikal cenderung beralih pada networking-horizontal. Dan bahkan lebih dari itu, bahwa hubungan yang bersifat formal-sistemik tidak cukup kuat untuk membangun team work yang solid jika tidak disertai dengan ikatan emosi bathin yang kuat, sehingga komunitas kerja merasa diterima dan dihargai oleh orang lain.

Pandangan seperti ini diperkuat oleh hasil penelitian para ahli yang kemudian banyak diterbitkan seperti karya Robert K.Cooper dan Ayman Sawaf, Emotional Intelligence in Leadership and organization ( 1977 ). Disebutkan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energy, informasi, koneksi, dan pengaruh yang manusiawi. Di dalam emosi itulah berkumpulnya kekuatan spiritual dalam bentuk emosi agama, emosi cinta, yang dapat mengubah dunia kita.

Oleh sebab itu dalam kontek Pilkada serentak mendatang, sudah sewajarnya negeri ini kembali membangun emosi spiritual dalam formal-legal structural yang selama ini dapat disebut berantakan. Dalam berbagai pandangan ataupun yang kita rasakan bahwa bangunan politik demokrasi yang dibangun belum kuat diikat dengan hubungan batin dan semangat spiritual serta dijiwai dengan saling menghargai dalam etika social yang santun. Padahal aktivitas demokrasi harus menunjukkan sikap dan etika berkeadilan serta jujur, kalau tidak maka masyarakat cenderung menilai politik dalam Pilkada sebagai medan kehidupan yang penuh intrik, permainan kotor, yang memerlukan pemain yang bermental baja dan kalau perlu mempunyai nyali untuk membunuh teman sendiri. Pendek kata Pilkada adalah medan bisnis kekuasaan dan jabatan.

Tentu hal itu tidak kita inginkan terjadi lagi. Sebagai bangsa yang berperadaban dan berketuhanan kita menginginkan pilkada mendatang dilakukan dengan demokrasi politik yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan serta memiliki prestasi moral yang tinggi. Baik dari segi peroses berdemokrasi maupun kualitas pemimpin yang akan dipilih. Dengan demikian cita politik yang kita bangun diharapkan dapat menjawab tantangan pergeseran nilai yang merendahkan martabat bangsa selama ini dan dapat menjadi langkah baru pembangunan masyarakat yang dicita-citakan. Yaitu suatu masyarakat yang bermartabat mulia dengan menjunjung tinggi cita-cita demokrasi menuju bangsa yang mandiri dan maju. Aamiin.***

News Feed