by

Merdeka Belajar

  • Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag.,MH., Kakan Kemenag Lingga

Belajar adalah salah satu cara untuk mengetahui dan meningkatkan kualitas diri atau seseorang, baik secara pribadi (otodidak) ) maupun kelompok (kelas ). Melalui belajar, manusia akan banyak tahu. Belajar adalah cara megembangkan diri untuk mengetahui sesuatu untuk menguasai ilmu pengetahuan.

Lalu, bagaimana manusia belajar? Anak didik belajar dan siapa saja yang ingin belajar tergantung kepada cara dan strategi yang digunakan. Oleh sebab itu dalam Sayembara Hari Guru Nasional 2020 Kemendikbud mengambil tema “Bangkitkan Semangat Wujudkan Merdeka Belajar”.

Tema ini sangat menarik, apalagi saat kondisi pendidikan nasional kita sedang mengalami banyak tantangan, terutama tantangan melemahnya semangat belajar akibat pengaruh peradaban globalisasi yang serba instan, cepat dan siap saji. Untuk mengetahui sesuatu tidak perlu repot-repot menyiapkan banyak waktu membaca banyak buku, tetapi cukup dengan bertanya dengan “mbah google”, semuanya dapat terjawab dengan cepat. Sementara itu , disisi lain akibat pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan arus peradaban manusia terus mengalir mengalami perubahan tanpa henti.

Dinamika kehidupan manusia dapat dilihat dari tingkat pendidikan yang mendasarinya. Karena manusia adalah makhluk dinamis maka kehidupan manusia cenderung berkembang dan berubah. Maka faktor pendidikanlah yang sangat urgen dan menentukan perkembangan manusia tersebut. Pendidikan sangat erat kaitannya dengan peradaban karena majunya peradaban sangat dipengaruhi oleh majunya pendidikan.

Dalam teori perkembangan manusia, para ahli psikologi berpendapat bahwa diantara faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan jiwa manusia dalam pendidikan adalah lingkungn dan bawaan sejak lahir sebagaimana dalam teori “Konvergensi”( penyatuan ). Aliran teori ini dikemukakan oleh Willian Stern ( Abdurrahman Assegaf: 2007 ). Menurut teori ini perkembangan individu atau seseorang sangat ditentukan oleh dua faktor kekuatan yang berpengaruh, yaitu faktor dasar pembawaan (nativisme) dan faktor lingkungan pendidikan (empirisme) yang mana kedua faktor ini secara convergent akan menentukan baik atau tidaknya perkembangan individu atau seseorang dalam pendidikan. Faktor inilah yang harus diberdayakan jika ingin pendidikan dapat berjalan dengan baik.

Pada dasarnya anak didik adalah manusia yang selalu mengalami perubahan. Karena manusia diciptakan memiliki potensi dalam fitrahnya yang dinamis, maka potensi yang di anugerahkan Tuhan dapat dikembangkan melalui pendidikan. Sebagai makhluk yang dinamis, manusia dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya, baik yang bersifat fisik-biologis maupun psikhis-psikologis. Kedua potensi dasar inilah yang menjadi obyek proses pendidikan yang harus di dikembangkan. Dengan arti kata bahwa mengembangkan potensi manusia adalah tugas pendidikan. Karena itu pendidikan harus kuat dan maju dengan ditopang oleh kebijakan pemerintah dan dengan implement tasi pembelajaran melalui strategi dan inovasi yang tepat.

Pendidikan adalah jendela peradaban untuk melahirkan dan membangun Sumber Daya Manusia ( SDM ) unggul, dalam bahasa agama disebut insan kamil ( manusia muliya ). Sementara peradaban itu lahir sangat ditentukan oleh system pengetahuan yang mendasarinya. Jika pengetahuan maju maka peradaban manusia akan maju , sebaliknya gagalnya pengetahuan manusia maka gagal pulalah peradaban manusia itu. Sebab itu fungsi pendidikan sangat strategis dan penting dalam membangun peradaban unggul masa depan. Akan tetapi system pendidikan tidak dapat berdiri sendiri tanpa diikuti oleh factor lain yaitu system lingkungan yang menjadi tempat dimana pendidikan itu berproses.

Saat ini lingkungan pendidikan kita sedang berada dalam poros globalisasi yang serba rumit, yang mana asimilasi antar budaya terjadi dengan mudah, sehingga dapat mempengaruhi system pendidikan yang sedang kita bangun. Begitu nyata pengaruh global dalam dunia pendidikan kita , sehingga berdampak kepada lemahnya minat belajar dan membaca anak-anak bangsa . Untuk itu kita harus segera memberdayakan system pendidikan yang ada dengan memperkuat strategi yang tepat dan cepat. Ditambah lagi dengan pesatnya perkembangan tehnologi komunikasi dan informasi yang telah menimbulkan peradaban milenial, sehingga membuka dan menyebabkan timbulnya factor baru yang dapat menghambat perkembangan pendidikan nasional. Untuk itu seyogianya kita harus melakukan evaluasi dan inovasi terhadap system pendidikan, agar pendidikan di Indonesia dapat bangkit menjadi jendela peradaban dunia yang maju. Dengan majunya pendidikan diharapkan akan melahirkan anak-anak bangsa yang bermutu. Sebagaimana yang kita katakana diatas bahwa, pengaruh globalisasi yang telah mengubah wajah dunia pendidikan menjadi singa persaingan mutu tak dapat dielakan. Pendidikan yang tak bisa bersaing akan tenggelam dalam kekalahan dan ketakberdayaan dan pada akhirnya akan ditinggalkan. Karena itulah pendidikan harus tanggkas mengurai permasalahan tantagan globalisasi dan cekatan menangkap peluang modernisasi.

Selain dari itu , pendidikan kita hari ini juga sedang berada dalam cengkraman ketakberdayaan akibat pandemic global ( Covid-19 ) yang melanda dunia. Maka upaya untuk dapat bangkit dari kelemahan dan ketak berdayaan menghadapi pengaruh lingkungan global tersebut, Indonesia harus mampu menemukan solusi dengan persfektif paradigma baru dengan melakukan inovasi pendidikan melalui rekayasa dan inovasi lingkungan pendidikan (environmental engineering education ) sehingga dapat berdaya dan berfungsi edukasi dan literasi bagi pendidikan sekarang dan masa depan.

Inovasi lingkungan pendidikan yang kita maksudkan dalam srtikel ini adalah rekayasa lingkungan dari lingkungan tak berdaya ( helpless environment ) kepada lingkungan yang berdaya (empowered environment ) agar dapat membendung pengaruh peradaban global yang sedang dihadapi. Strategi ini merupakan bagian penguatan yang harus dimuat dalam system pendidikan nasional, Karena lingkungan sangat mentukan keberhasilan pendidikan, maka lingkungan pendidikan ( educational environment ), harus dijadikan tempat atau wadah fungsional yang berdampak edukasi dan literasi bagi kemajuan ilmu pengetahuan anak. Dalam lingkungan inilah anak bebas dan merdeka megembangkan diri sesuai tujuan penciptaan manusia.

Bebas mengembangkan diri dimaksud adalah bebas melakukan pembelajaran melalui sistem yang terintegrasi dengan sistem pendidikan dan kebijakan yang tepat.

Lingkungan adalah ciptaan Tuhan, setiap ciptaan memiliki fungsi kebaikan untuk manusia , tetapi manusialah yang sesungguhnya merusak lingkungan sehingga merusak tatanan hidup manusia itu sendiri. Untuk itu kita harus menempatkan kembali fungsi lingkungan sebagai media dalam sistem edukasi dan literasi yang dapat menunjang proses pendidikan kita saat ini. Untuk mengendalikan lingkungan belajar agar berfungsi dan berorientasi media pembelajaran maka langkah strategis yang ditawarkan sebagai berikut ; Pertama; Menempatkan dan memfungsikan Guru sebagai kurikulum yang bergerak. Guru adalah miniatur anak , yang mampu mepresentasikan keunggulan.
Karena guru adalah orang yang sangat mempengaruhi proses pembelajaran, maka fungsi sang guru harus mampu men-designing lingkungan dengan melihatkan contoh toladan melalui tindakan perilaku yang baik. Disamping sebagai toladan, guru adalah role model dan idola dalam lingkungan pendidikan. Dialah yang ditiru dan digugu oleh anak didiknya. Kedua; Designing dan rekayasa lingkungan melalu pengelolaan pendidikan secara holistic dengan menempatkan lingkungan pembelajaran sebagai ekologi manusia ( human ecology ). Yaitu menjadikan lingkungan tidak hanya mempengaruhi asfek epistemologi, ontologi dan aksiologi yang memahami ekosistem dengan perangkat kecerdasan intelektual dan emosional antara manusia dengan alam fisik secara ekosistem-horizontal, akan tetapi mesti berdampak pula pada pengembangan kecerdasan spiritual melalui interaksi dalam tataran alam metafisik secara ekosistem-pertikal.

Artinya bahwa pembelajaran manusia tidak cukup hanya dimotivasi dengan faktor-faktor lingkungan fisik yang profan tetapi pembelajaran manusia mesti diikuti dengan motivasi lingkungan pendidikan yang bersifat non fisik yang sakral ( bermuatan spiritual keimanan ) Ketiga ; Memberdayakan lingkungan tehnologis ( technological environment ). Lingkungan tehnologis merupakan perangkat lingkungan yang sedang menguasai anak didik sa’at ini, baik perangkat berupa pranata sosial maupun perangkat tehnologi berupa hardware atau software. Maka untuk mewujudkan pendidikan yang berwawasan masa depan dan bermutu, harus dengan menjadikan lingkungan tehnologi sebagai media yang sarat nilai. Penggunaan lingkungan tehnologi dilakukan dalam sistem nilai yang dapat membangun peradaban baru yang bermutu, bukan lingkungan tehnologi yang merusak nilai peradaban dan masa depan.
Lingkungan tehnologi difungsikan sebagai media pendidikan untuk memperkuat motivasi belajar melalui rekayasa dan inovasi media pembelajaran. Keempat; Membangun mitra pendidikan secara terpadu dengan seluruh staekholder pendidikan, yaitu untuk mewujudkan lingkungan yang berwawasan edukasi dan literasi, serta suasana pendidikan yang menyenangkan sehingga wawasan lingkungan dapat menunjang proses pendidikan yang berkelanjutan. Seluruh elemen masyarakat, lembaga pemerintah dan non pemerintah ikut berperan dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang menyenangkan, agar dapat membangkitkan semangat belajar anak didik demi cita-cita dan masa depan.

Melalui empat strategi yang kita tawarkan diatas, paling tidak dapat memperkuat dan memberdayakan fungsi lingkungan pendidikan dalam menghadapi pengaruh poros globalisasi yang menjadi tantangan pendidikan hari ini. Akhirnya kita berharap semangat belajar anak-anak bangsa akan tumbuh dan berkembang dengan baik, dan menjadi motivasi internal dan eksternal dalam menumbuhkan kesadaran belajar yang semakin kuat demi membangun semangat kebebasan untuk merdeka belajar. Aamiin.***

News Feed