by

Jadilah Pahlawan untuk 2 Juta Warga Kepri

(Bagikan Masker Gratis 10 November)

  • Oleh : Zulkifli SH,M.Si, Plt Kabiro Humas, Protokol dan Penghubung Pemprov Kepri

Masih ada waktu 8 hari lagi untuk menjadi pahlawan. Ya, 10 November 2020 ini siapa saja bisa menjadi pahlawan untuk sesama di Kepri. Cukup dengan membagikan masker gratis bagi masyarakat.

10 November merupakan hari penting di Indonesia. Hari Pahlawan. Di masa pandemi Covid-19 ini, hari pahlawan tetap diperingati di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dengan berbagi masker.

Memang, masker bukan barang langka lagi saat ini. Sudah bertebaran dimana-mana. Mudah didapatkan. Tidak seperti awal-awal pandemi ini masuk ke Indonesia Februari 2020 lalu.

Saat itu masker hilang. Langka. Jika pun ada, harganya selangit. Bahkan ada yang memborong masker dan menimbunnya. Lalu dijual kembali dengan harga fantastis.

Ada yang ditangkap polisi hingga dirazia. Saat WHO mengumumkan virus Korona ini menjadi darurat kesehatan global dan meminta seluruh masyarakat dunia bermasker, alat pelindung mulut dan hidung ini makin sulit ditemukan.

Waktu itu, masker kain belum banyak. Tidak seperti saat ini banyak dijual di pinggir jalan. Di pasar. Bahkan di tempat bayar air listrik pun bisa ditemukan. Harganya pun sudah normal.

Sekalipun masker sudah banyak dan mudah ditemukan, bukan berarti jadi barang pajangan bagi warga Kepri. Tapi dipakai tiap hari.

Masker, terutama nonkain tidak tahan lama. Tentu sudah banyak yang rusak, hilang atau robek hingga akhirnya dibuang.

Berapa banyak masker yang dibagikan di Kepri secara gratis, data itu sulit ditelusuri. Karena beberapa bulan lalu bagi-bagi masker dilakukan dimana-mana. Banyak warga yang terbantu. Hingga saat ini masih ada kegiatan serupa meski jumlahnya makin sedikit.

Mungkin bisa jadi 4-5 juta pisis masker yang sudah dibagikan di Kepri. Atau bisa dua kali lipat dari angka itu. Artinya, jika dibagikan dengan penduduk Kepri yang berkisar 2 juta jiwa, maka satu warga sudah memiliki masker 3-4 pisis. Bisa jadi lebih.

Tentu kita tak bisa berhenti di angka itu. Karena masker bukan pajangan di gantungan baju yang dipakai saat acara tertentu saja. Masker itu saat ini sudah melebihi penggunaan ponsel.

Anak kecil misalnya tidak bawa ponsel kemana-mana. Terutama bayi. Tapi wajib pakai masker kemana-mana. Artinya, masker sudah menjadi barang wajib yang dibawa-bawa saat ini untuk semua kalangan baik itu bayi, anak-anak, remaja, dewasa hingga orangtua serta lansia.

Mari memprediksi angka saja. Jika 500 ribu orang warga Kepri beraktivitas setiap hari dari 2 juta jiwa itu, maka sebanyak itulah masker yang dipakai. Masker yang kurun waktu seminggu atau dua minggu kemudian sudah usang, rusak, robek lalu dibuang.

Untuk masker nonkain ada yang menggunakannya satu hari hingga dua hari saja lalu dibuang. Yang punya uang di kantong, ada yang pakai sehari saja lalu dibuang.

Lalu beli lagi. Namun, ada juga yang memakainya hingga seminggu meski sudah ada bekas jahitan untuk menyambung tali pengikatnya.

Beda dengan masker kain bisa lebih tahan. Bisa dicuci berkali-kali. Bahkan tali karet maskernya sudah kendor, tapi kainnya masih bagus.

Jika dipakai, hanya beberapa menit kemudian sudah turun dari hidung dan hanya menutupi mulut saja.

Ada juga masker kain yang masih terlihat bagus. Masih ketat menempel menutupi hidung dan mulut namun mereknya sudah hilang. Warnanya sudah pudar. Masih tetap dipakai. Yang penting aman dan enak dengan orang-orang di samping kiri kanan, depan belakang.

Masker kain inilah yang paling banyak bertahan saat ini meski kondisinya sudah begitu. Jika ada istilah motor butut, mungkin seperti itulah kondisi sebagian masker kain yang disimpan warga saat ini. Masker butut.

Kebutuhan masker masih tetap tinggi. Karena pedagang masker yang buka sejak Mei lalu masih bertahan di pinggir jalan hingga saat ini. Artinya, masker mereka masih laku.

Jika kembali pada 17 Maret 2020 lalu di Kepri, saat itulah pertama sekali diketahui hasil tes swab pria berusia 75 tahun di Tanjungpinang positif terpapar virus Korona. Itulah kasus pertama di Kepri.

Pandemi sudah muncul di Cina akhir Desember 2019 lalu dan mulai menyerang berbagai negara.

Di Kepri, pandemi ini sudah 7,5 bulan. Jika 500 ribu pisis masker dibuang setiap bulan, maka sudah 3,75 juta pisis yang dibuang selama7,5 bulan. Untuk masker kain masih memungkinkan mempertahankannya satu bulan. Kecuali untuk masker nonkain, sehari kadang sudah rusak dan berbau.

Jika masker dipakai dua pekan lalu dibuang, maka jumlah masker di Kepri sudah berkurang hingga 15 juta pisis. Angka ini perkiraan secara matematis. Karena tidak ada survei berapa lama masker dipakai warga sebelum dibuang.

Dan ternyata, masker itu dipakai hanya 5 jam saja. Bukan berhari-hari atau berminggu-minggu. Tapi itulah keadaan kita saat ini.

Masih pentingkah warga memiliki banyak masker? Pertanyaan yang harus ditelaah dengan hitung-hitungan juga serta harus dikaitkan dengan belum adanya kepastian kapan pandemi ini berakhir. Bahkan pakar pun tidak berani memastikannya.

Saat ini, yang paling dikejar ilmuwan virus adalah menemukan vaksin Corona. Sehingga laju pandemi ini bisa diputus. Namun bukan berarti virus ini akan lenyap.

Memang, kemajuan tentang vaksin ini sudah banyak. Sudah uji klinis meski belum dipatenkan. Diperkirakan November ini atau Desember nanti atau awal 2021 nanti vaksin itu sudah tuntas dan siap dilakukan vaksinasi massal.

Dirjend Polhum Kemendagri, Bahtiar Baharuddin memberi satu gambaran soal vaksin ini. Kata dia, jika Desember atau awal Januari 2020 vaksin ini sudah disuntikkan ke masyarakat, maka pandemi ini belum tentu berakhir tahun 2021.

Beberapa tahun belakangan ini, Indonesia berusaha membebaskan rakyatnya dari penyakit polio, cacar hingga Measles and Rubella (MR).

Vaksin ini untuk mencegah terjadinya penyakit yang ditimbulkan virus campak dan rubella. Butuh bertahun-tahun untuk memproduksi vaksinnya. Bahkan Indonesia sendiri tidak bisa menyediakan vaksinnya sehingga harus didatangkan dari luar negeri.

Itu pun, tak semua kalangan usia wajib divaksin saat itu. Usia 9 bulan hingga kurang dari 15 tahun. Tetap saja tak bisa disiapkan vaksinnya.

Untuk virus Korona, semua masyarakat di dunia khususnya di Indonesia akan divaksin. Jumlahnya sekitar 272 juta jiwa. Maka suntiknya dan keperluan lainnya harus disiapkan juga sebanyak itu.

Bagaimana pula jika satu orang harus divaksin dua kali, maka jumlah vaksin yang disiapkan pun harus sebanyak itu juga. Bisa jadi setahun atau dua tahun menyediakan vaksin sebanyak.

Sebelum situasi pandemi dinyatakan aman, maka semua orang masih wajib pakai masker. Warga jangan gagal paham tentang vaksin ini. Vaksin bukanlah obat Korona.

Vaksin merupakan cairan yang disuntikkan ke tubuh kita untuk mempercepat naiknya imun atau kekebalan tubuh manusia. Sehingga jika terpapar virus Korona tubuh bisa bertahan dan melawan virus ini.

Orang yang sudah divaksin pun tetap harus menggunakan masker. Karena mereka belum tentu bebas dari Korona. Sama dengan Orang Tanpa Gejala (OTG), tetap sehat bugar meski sudah terpapar Corona.

Itu artinya, masker sangat diperlukan satu hingga dua tahun ke depan. Bahkan mungkin tiga tahun ke depan terutama untuk yang usia lanjut dan mereka-mereka yang memiliki penyakit bawaan seperti diabetes, jantung, kolesterol, hipertensi.

Jika masker di Kepri sudah terbuang atau tidak layak pakai lagi 3,75 juta pisis hingga 15 juta pisis, sementara kebutuhan masker masih diperlukan 1-3 tahun ke depan, maka masyarakat Kepri akan terbebani lagi untuk membelinya nanti. Terlebih di tengah ekonomi yang terpuruk saat ini. Warga akan mengirit pengeluaran.

Karena itulah, gerakan berbagi masker 10 November yang dicanangkan Pejabat sementara (Pjs) Gubernur Kepri, Dr. Drs Bahtiar Baharuddin, M.Si butuh dukungan semua elemen bagi yang mampu berbagi.

Bahtiar mengajak siapa saja di Kepri ini yang mau jadi pahlawan rakyat agar berbagi masker saat Hari Pahlawan nanti. Dua juta warga Kepri membutuhkan masker agar aman dari virus ini saat beraktivitas.

Selain berbagi masker, sosialisasi akan dilakukan bagaimana menggunakan masker yang benar, apa manfaat menggunakan masker dan manfaat menjalankan protokol kesehatan lainnya.

Bahtiar ingin membangun satu kekuatan besar untuk berbagi masker, melakukan sosialisasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat agar terus bermasker jika kerja dan beraktivitas di luar rumah.

Mantan Kapuspen Kemendagri tersebut ingin Kepri ini lebih cepat pulih dari pandemi ini. Pria kelahiran Bone Sulawesi tersebut tidak ingin kasus baru terus bertambah lagi. Karena pandemi ini berbanding terbalik dengan pertumbuhan ekonomi. Makin tinggi kasus Korona, maka ekonomi akan semakin terperosok. Jika pandemi ini makin terperosok, maka ekonomi yang naik.

Kebersamaan, kesadaran, disiplin dan protokol kesehatan, itulah virus pengganti sementara ini sebelum vaksinasi massal dilakukan. Karena itulah, Bahtiar selalu mengaja semua kalangan yang mampu berbuat dan menyumbang masker agar serentak membagikannya 10 November nanti.

Bahtiar dan seluruh elemen masyarakat akan menjadikan momen ini menjadi pahlawan untuk menekan laju pandemi ini sekaligus menyiapkan stok masker warga dan mengganti masker mereka yang sudah usang dan ‘butut’.

Bukan hanya masker yang akan diberikan saat Hari Pahlawan nanti, namun hand sanitizer juga sangat diperlukan. “Ayo mari kita peduli ke sesama masyarakat kita,” imbaunya.

Bahtiar, meski hanya bertugas hingga 5 Desember nanti di Kepri, dan dia sangat peduli dengan kita semua. Tentu kita yang menetap di Kepri harus lebih peduli dari Pjs Gubernur kita yang setiap hari menyerukan disiplin bermasker ini.***

News Feed