by

Botan, Legenda Kedai Kopi Karimun Itu Telah Tiada

KARIMUN(HK)-Ada pameo mengatakan, ‘Belum sampai di Karimun kalau belum minum kopi Botan’. Agaknya, memang tak salah ketika muncul istilah tersebut. Kedai kopi Botan memang melegenda di Karimun. Nama kedai kopi ini, tidak hanya dikenal masyarakat setempat, namun juga termasyhur hingga ke Batam, Tanjungpinang bahkan di luar Kepri.

Banyak pejabat Karimun yang menjadikan kedai kopi ini sebagai pembuka aktivitasnya di pagi hari, sebut saja Bupati Karimun pertama, almarhum Muhammad Sani. Begitu juga penerusnya, Nurdin Basirun. Sosok yang satu ini, memang lekat dengan kedai kopi Botan, karena memang dirinya pecinta kopi. Pun mengawali pagi dengan duduk di kedai kopi.

Bukan hanya pejabat, semua lapisan masyarakat Karimun juga merasakan nikmatnya racikan kopi di kedai kopi ini. Kedai kopi Botan merupakan tempat berkumpulnya berbagai kasta, mulai dari penguasa, pengusaha hingga rakyat biasa.

Bagi perantau asal Karimun yang pulang kampung atau pejabat luar yang datang ke negeri berjuluk “Bumi Berazam” ini, pasti menyempatkan diri singgah di kedai kopi yang berada di Jalan Trikora Tanjungbalai Karimun tersebut. Kedai Kopi Botan salah satu kedai kopi tertua dan tersohor hingga saat ini.

Sayangnya, sudah 5 hari ini, kedai kopi Botan ditutup. Tak nampak lagi kesibukan di kedai kopi yang sudah mulai buka sejak pukul 4.30 WIB ini. Ditutupnya kedai kopi itu, karena sang pemilik kedai, Botan dan istrinya meninggal dunia. Karimun berduka dan kehilangan sosok legenda kedai kopi di Karimun itu.

Botan atau pemilik nama asli Pei San itu, meninggal dalam usia 76 tahun. Dirinya wafat pada Kamis, 21 Oktober 2020 pagi, hanya selang dua hari setelah istrinya duluan menghadap Tuhan-Nya.

Sebenarnya, seperti apa sejarah kedai kopi Botan, hingga namanya begitu harum seantero negeri. Ilham, jurnalis haluankepri.com pernah mewawancarai Botan, pada Jumat, 2 Maret 2012 lalu. Di bawah guyuran hujan usai shalat Jumat, kala itu Botan masih terlihat sehat dan bersemangat menceritakan awal kisah berdirinya kedai kopi yang menjadi warisan turun temurun keluarganya itu.

Botan berkisah, kedai kopi yang dijalaninya itu merupakan warisan dari bapaknya, Atong. Bapaknya mulai merintis usaha kedai kopi sejak tahun 1947 silam. Saat itu, botan kecil baru berusia 3 tahun.

Sebelum membuka kedai kopi itu, dulunya Atong membuka kedai kopi di gang kecil yang ada di samping Kelenteng Vidya Sasana yang berjarak sekitar 50 meter dari kedai kopinya sekarang. Kedai kopi di gang kecil itu sekarang sudah tak ada lagi. Lokasi itu sekarang dijadikan sebagai kawasan pasar malam.

Menurut dia, kedai kopi milik bapaknya yang ada di samping kelenteng itu merupakan tempat persinggahan bagi para peniaga yang datang dari Siam. Para peniaga itu, menambatkan kapal-kapal kayunya di Pelabuhan Boom Panjang (sekarang pelabuhan Sri Tanjung Gelam atau Pelabuhan KPK). Mereka hanya sekedar singgah di kedai kopi untuk melanjutkan peniagaan ke daerah lain.

Diceritakan, bapaknya kemudian menutup kedai kopinya yang lama dan pindah ke lokasi sekarang yang ada di Jalan Trikora. Usaha kedai kopi sudah menjadi bisnis dalam keluarga bagi Botan. Sepeninggal bapaknya, usaha itu dilanjutkannya hingga sekarang. Bahkan, usaha kedai kopi itu diwariskan pada anak cucunya.

“Sejak dulunya, keluarga kami hanya punya usaha kedai kopi. Mulai dari bapak hingga anak-anak saya. Sejak pagi atau sekitar pukul 4.30 pagi saya sudah membuka kedai ini. Sejak mulai buka hingga tutup pada pukul 15.30 siang, kedai ini selalu ramai. Lihatlah, orang-orang selalu mampir di kedai ini,” ujar Botan saat itu.

Awalnya, kata Botan, kedai yang ditempatinya saat ini milik orang Melayu yang disewa oleh bapaknya. Bangunan kedai itu pertama kali hanya terbuat dari papan. Namun, seiring berjalannya waktu, bangunan tersebut kemudian diubahnya menjadi semi permanen.

“Sekitar awal tahun 60-an atau sebelum konfrontasi Indonesia-Malaysia, barulah bangunan ini dibuat permanen setelah dibeli oleh bapak saya. Surat menyuratnya masih saya simpan dengan rapi. Benda lama yang masih tersisa adalah meja ini,” katanya sambil menunjukkan meja yang terbuat dari batu alam.

Lalu apa apa sebenarnya yang membedakan kedai kopi Botan dengan kedai kopi lainnya di Balai? Jika diperhatikan hampir tak ada bedanya. Mulai dari harga hingga rasanya. Hanya saja, yang membedakan cuma cara pelayanannya. Meski Botan adalah seorang pemilik, namun dirinya tak segan-segan turun tangan melayani pelanggan. Baginya, pelanggan adalah raja.

Selain itu, posisi kedai kopi Botan sangat strategis, letaknya persis di jantungnya Tanjungbalai Karimun. Kedai kopi itu berada di dekat perempatan Jalan Nusantara dan Jalan Trikora yang merupakan jalan lama di Tanjungbalai. Di sekitar kawasan itu, terdapat pelabuhan, rumah dinas Bupati Karimun, pangkalan Angkatan Laut dan pusat pertokoan.

Berasal dari Hainan

Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kabupaten Karimun, Eddy Asun mengatakan, Botan memang salah satu legenda kedai kopi di Karimun. Kedai kopi itu, termasuk salah satu yang tertua selain kedai kopi Mesir di kawasan pasar malam dan juga kedai kopi Cirebon di Jalan Nusantara.

Dikatakan, hampir semua pengusaha kedai kopi di Karimun berasal dari Hainan, salah satu pulau di daratan Cina. Paling tidak, kakek buyut mereka datang dari negeri tirai bambu tersebut. Tak terkecuali, keluarga Botan.

“Ada salah satu pulau di daratan Cina, namanya Pulau Hainan. Rata-rata orang suku Hainan memiliki usaha kedai kopi. Dimanapun mereka berada, kebanyakan memang membuka usaha kedai kopi, salah satunya keluarga almarhum Pak Botan ini,” ujar Eddy Asun sambil berbincang ringan dengan haluankepri.com, Jumat (23/10/2020) pagi.

Eddy juga salah satu pecinta kopi Botan. Dan tentu saja, dia sering nongkrong di kedai kopi itu. Menurut dia, cita rasa kopi Botan dan juga kopi lainnya di Karimun memang beda. Racikan kopi di Karimun memiliki ciri khas tersendiri.

“Rasa kopi yang disajikan di kedai kopi Botan maupun kedai kopi lain memang beda. Ada cita rasa tersendiri,” tuturnya.

Namun, kata Eddy, selain rasa kopinya yang khas, ada menu lainnya yang paling disukai di kedai kopi Botan tersebut, yakni roti telur bakar atau gorengnya. Dia tidak menemukan rasa roti telur seenaknya buatan kedai kopi Botan.

“Roti telur goreng maupun roti telur bakar buatan kedai kopi Botan memang tak ada duanya. Selain kopinya yang terasa nikmat, saya rasa roti telurnya itu juga terkenal enak,” pungkasnya.

Selamat jalan legenda kopi Karimun. Semoga damai di pangkuan Tuhan. (ham)

 

News Feed