by

Membaca Matrix Ilahi dalam Zona Akhir Zaman

  • Oleh: H. Muhammad Nasir, S.Ag., M.H, Kakan Kemenag Lingga

Fenomena alam seperti banjir, gunung meletus, longsor, gempa bumi, gerhana matahari dan lain sebagainya, yang terjadi akhir-akhir ini termasuk tragedi kemanusian, telah membangkitkan kesadaran religius umat beragama terutama di kalangan umat Islam. Bagi umat Islam dalam menyikapi kejadian itu selalu dipahami dalam kacamata iman, sehingga peristiwa yang terjadi selalu disimpulkan sebagai sebuah musibah dan cobaan. Dalam bahasa lain disebut juga sebagai bencana, baik bencana alam (natural disasters ) maupun bencana non alam (non natural disaster).

Menurut keyakinan dalam konsepsi kenabian atau Nubuwat (petunjuk dari Nabi Muhammad SAW), banyaknya bencana yang menimpa bumi atau alam semesta merupakan tanda-tanda datangnya hari kiamat. Diantara tanda-tanda yang disebutkan Rasulullah SAW, dalam Sabda-Nya: ‘Kiamat tidak akan tiba sebelum kalian melihat sepuluh tandanya. Pertama, matahari terbit dari barat, kabut, Dajjal, binatang melata, lalu tiga peristiwa gerhana bulan (yakni gerhana yang terjadi di sebelah timur, gerhana yang terjadi di sebelah barat, dan gerhana yang terjadi di semenanjung Arab). Lalu, datangnya Isa, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, dan terakhir ialah munculnya api dari Yaman di sebuah jurang Aden. Siapa pun yang berada di belakangnya, ia akan digiring ke padang mahsyar.” (HR Muslim).

Tanda-tanda yang disebutkan Rasulullah SAW tersebut, adalah tanda akhir zaman yaitu tanda dimana semakin dekatnya kiamat. Itulah keyakinan orang beriman tentang hari kiamat sebagaimana sebutkan dalam rukun iman (ber-iman kepada hari kemudian/ kiyamat).

Sebagian para ulama menjelaskan, hari kiamat yaitu hari dimana Allah SWT membangkitkan seluruh manusia untuk dihisab dan dibalas seluruh amalannya. Hari kiamat memiliki nama-nama yang disebutkan dalam Al-Qur’an, diantaranya yaumud din, al-Qari’ah, al-Ghasyiyah, ath-thommah dan masih banyak lagi. Salah satu nama yang paling terkenal adalah yaumul qiyamah yang diambil dari kata قِيَامٌ yang artinya berdiri, hal itu karena semua manusia akan berdiri di padang mahsyar pada hari kiamat.

Akhir zaman atau hari kiamat itu ada dan pasti terjadi, sebagaimana telah disebutkan dalam Al-Qur’an ( QS Al-Haqqah 13-16 ) dan Hadits Rasulullah SAW. Lalu kapan terjadinya? Hanya Allah SWT mengetahuinya bahkan Rasulullah SAW tidak mengetahui kapan dantangnya hari itu sebagai di jelaskan Allah swt dalam surat al-A’raf ayat 187 : Yang artinya “Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat, “kapan terjadi?” katakanlah, “sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada seorangpun yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru haranya bagi makhluk) yang dilangit dan dibumi, tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah ( Muhammad ), “sesungguhnya pengetahuan tentang (hari kiamat) ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”( Qs.al-A’raf : 187 ).

Tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui datangnya hari kiamat. Sampai-sampai Ibnu Qayyim al-Zauziyah mengatakan ,”bahwa sungguh telah berdusta secara terang-terangan orang yang mengaku-aku bahwa dirinya mengetahui datangnya kiamat”.

Para Ilmuan telah banyak mencoba mengkaji dan meneliti secara ilmiyah tentang hari kiamat, Matt Caplan, ahli fisika dari Amerika Serikat umpamanya, namun mereka tidak bisa menyimpulkan secara ilmiah kapan datangnya hari itu. Walaupun demikian mereka dapat membuat analisis pemetaan saat-saat dan tanda-tanda yang di akui kebenarannya secara ilmiah tentang hari kiamat. Pemetaan saat-saat tanda inilah yang kita maksudkan dengan Zona Akhir Zaman. Jadi Zona akhir zaman adalah analisis pemetaan ilmiah tentang hari kiamat.

Dalam hal ini , Dr. Artono Dwijo Sutomo ( 2009 ), mengemukakan bahwa kemungkinan terjadinya kiamat dimulai dengan hancurnya peradaban dan selanjutnya berproses menuju kehancuran dunia oleh perbuatan manusia yaitu; penggunaan senjata atau industri nuklir, senjata bio-kimia, mutasi genetika, perubahan ekosistem atmosfer bumi, perubahan sistem dari perut bumi serta kondisi sistem tata surya. Selain itu, terdapat teori lain yang berpandangan bahwa kehancuran ( kiamat ) dapat juga di baca melalui pemetaan dalam analisis teori Kalender Kosmik. Analisis teori ini dikemukakan oleh Carl Sagan (1996), seorang astronom terkenal Amerika. Teori ini dikenal juga dengan teori Bigbang ( sejarah peristiwa alam semesta ), dimana ia berpendapat bahwa ledakan besar ( Big Bang ) yang menjadi awal terjadinya alam semesta dapat dipetakan dengan merangkum usianya 13,8 miliar tahun menjadi hanya satu tahun saja. Dalam gambaran ini, big bang yang diklaim sebagai awal terbentuknya alam semesta terjadi pada detik pertama 1 Januari jam 00.00 dini hari, dan masa kini – zaman dimana kita hidup sekarang – terangkum pada detik terakhir 31 Desember dini hari. Dalam skala ini, setiap detiknya berarti 438 tahun, setiap jamnya berarti 1,58 juta tahun, dan setiap harinya berarti 37,8 juta tahun. Dengan demikian dalam konsep sekala alam semesta sudah berada pada zona kehancuran . Dan menjadi sangat nyata dengan apa yang disabdakan Rasulullah SAW, dimana Beliau diutus di depan gerbang kiamat atau kehancuran alam semesta.

Dalam kontek keimanan, kita diminta untuk tidak ragu dengan datangnya hari kiamat. Melalui keimanan orang-orang beriman meyakini bahwa Kiamat adalah hari kehancuran yang tidak ada seorang manusiapun yang sanggup menghadapinya, tetapi pasti akan kita hadapi. Kiamat adalah hancurnya kehidupan pana dan lahirnya kehidupan baqa atau kekal.

Kedua kehidupan itu saling bertentangan dalam sifat dan keberadaannya. Karena itulah manusia memiliki dua dimensi sifat yang menyatu dalam satu diri yaitu dimensi Zahir dan dimensi bathin. Dimensi zahir ada dalam zona alam pana dan dimensi batin ada dalam zona alam baqa. Pada hakikatnya kedua dimensi itu adalah zona kehidupan manusia. Kehidupan Zahir adalah kehidupan bersifat pana atau sementara, kehidupan bathin bersifat kekal dan abadi.

Disamping itu terdapat pula dua dimensi kehidupan yang mesti kita sadari dan tak dapat dihindari, yaitu kehidupan azali dan kehidupan non azali. Kehidupan azali adalah kehidupan yang dipetakan oleh Sang Maha Berkehendak yaitu Allah SWT, sedang kehdupan non azali adalah kehidupan yang di petakan oleh seluruh makhluk dengan ikhtiar yang diberikan Allah SWT dengan menggunakan potensi kreatif yang dimiliki dalam dunia semesta manusia. Manusia diberikan kekuatan dan kekuasaan melalui sifat-Nya yang nyata.

Artikel ini menunjukkan bahwa perjalanan hidup manusia dari awal sampai akhir merupakan penciptaan yang dikehendaki dalam wadah anugerah yang tak bertepi dan tak terhingga. Yang mana di dalam anugerah itulah Allah SWT, menetapkan kehendaknya dalam semesta ciptaan. Dalam kehidupan di alam semesta ini yang ada hanyalah kehendak Allah SWT. Kehendak Allah SWT, merupakan realitas yang tak terbatas di alam semesta. Realitas yang tak terbatas itu ada dan menjelma dalam setiap diri manusia yaitu Ruh dan jiwa kehidupan. Maka realitas itulah yang kita maksudkan dengan Matrik Ilahi dalam artikel ini. Dalam bahasa sederhana adalah hubungan kehendak Allah SWT dengan kehendak manusia dalam menapaki kehidupan di alam semesta pada akhir zaman sa’at ini.

Menurut Gregg Braden dalam bukunya The Divine Matrix ( 2018 ), Matrix Ilahi adalah yang menampung alam semesta, jembatan yang menghubungkan segala sesuatu dan cermin yang memperlihatkan pada kita apa yang telah kita ciptakan ( perbuatan ). Dengan Matrix Ilahi manusia mampu mengetahui tentang dirinya melalui penguasaan tehnologi bathin untuk hidup dengan cara berbeda dan untuk dekat dengan Tuhan Yang Maha Penguasa. Akhir zaman adalah penciptaan yang dikehendaki Allah SWT. Akhir zaman merupakan masa dan waktu yang menunjukkan zona ke-abadian. Akhir zaman adalah awal kemusnahan menuju kebangkitan, dan Akhir zaman adalah titik dimulainya kehancuran ( sangka kala ) yang berwujud ketakutan manusia akan azab Allah SWT akibat dosa yang dilakukan ( diciptakan sendiri ).

Manusia dituntut harus mampu melihat alam semesta ini sebagai sebuah ciptaan Allah SWT. Alam semesta memiliki awal zaman dan akhir zaman. Dalam teori fisika quantum, sebagai mana yang dikemukakan oleh David Bohm (1987), bahwa alam semesta merupakan satu system tunggal yang terkoneksi dalam cara-cara yang tidak kasat mata (gaib). Itulah Dia Yang Maha Hidup dan menghidupkan yaitu Allah swt sebagai pencipta. Untuk membedakan antara dua alam Bohm menyebut dengan Istilah implicate ( niskala) dan explicate ( sekala). Explicate ( sekala ) adalah alam semesta yang bisa kita lihat dan sentuh dan tanpak terpisah di dunia kita seperti batu lautan, hutan, hewan, dan manusia yang merupakan tatanan explicate penciptaan. Sedangkan implicate ( niskala ) adalah realitas terdalam yang terkoneksi dengan cara tidak bisa dilihat yang merupakan bagian dari kesatuan yang lebih besar. Beliau mengumpamakan dengan gelombang di tengah lautan luas . Kita bisa melihat pola pusaran, riak, gelombang, percikan, dan lain yang terus bergerak/ berubah seperti terpisah tetapi semua merupakan bagian dari air yang sama yaitu laut. Inilah yang disebut dengan independen relative bukan eksistensi independen yang mutlak. Artinya semua merupakan bagian dari air laut.

Kehancuran alam semesta atau kiamat, adalah eksistensi independen mutlak. Ia pasti terjadi dan tak dapat ditolak. Ia ( kiamat ) datang dalam kondisi kehidupan yang terombang ambing, kehdupan yang membingungkan dan secara moral keagamaan perilaku manusia berbalik menjadi sekutu kejahatan. Sebagaimana yang diingatkan Rasulullah saw’ dalam hadits yang artinya : “ Hari kiamat tidak akan tiba sehingga orang yang dapat dipercayai di dustakan, orang-orang berkhiyanat dipercaya, kemungkaran dan cercaan merupakan kebiasaan di tengah masyarakat, terputusnya tali silaturrahmi, dan tetangga yang buruk. Demi zat yang jiwa Muhammad ini berada pada genggaman-Nya, orang Mukmin itu bagaikan sepotong emas, ditempa menjadi apapun emas itu tidak berkurang nilainya, orang mukmin itu seperti lebah, makanannya baik dan menghasilkan yang baik. Lebah itu hinggap pada ranting bunga, namun tidak mersak bunganya dan juga tidak mematahkan rantingnya”. ( HR. Ahmad ).

Peta kehidupan umat manusia hari ini menunjukkan realitas tak terbantahkan sebagaimana peringatan Rasulullah saw, diatas. Kehancuran peradaban sudah nyata di hadapan mata. Perilaku manusia telah menunjukkan pola perusakan dan pelanggaran eksistensi kebenaran. Secara implicate / niskala, telah merusak hubungan makhluk dengan khaliq atau penciptanya. Nilai kebenaran di rusak dengan nilai kebatilan, membenturkan antara kehendak Allah swt dengan kehendak makhluk ( baca: manusia ), sehingga secara explicate makhluk menjadi berantakan tanpa aturan sehingga kekacauan terjadi dimana-mana ( musibah alam dan non alam ) tak dapat diatasi. Inilah titik terdekat kehancuran yaitu hancurnya sendi-sendi kehidupan moral dan kemudian hancurnya kehidupan semesta atau kiamat. Akhirnya kita berharap dengan banyaknya tragedy kemanusiaan yang semakin merajalela, bencana demi bencana dimana-mana, tren kebathilan dan kezaliman menjadi kebanggaan , semakin menyadarkan kita akan peringatan Allah swt. Allah SWT mengingatkan kita bahwa akhir zaman sudah tiba. Bersiaplah wahai manusia, kiamat segera akan tiba. Ya Allah ampunilah kami semua, Aamin.**

News Feed