by

BPOM Beri Lampu Hijau Remdesivir Jadi Obat Pasien Covid-19

Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) memberikan persetujuan obat Covifor yang mengandung Remdesivir digunakan untuk pasien Covid-19. Namun, obat tersebut mesti melakukan uji klinis dulu Oktober ini.

Dijelaskan Country Manager of PT Amarox Pharma Global, Sandeep Sur, obat Covifor sendiri sejatinya sudah melalui uji klinis yang ketat, tapi peraturan yang diberikan Badan POM untuk melakukan uji klinis lagi di Indonesia harus dijalani.

“Uji klinis tersebut akan dilakukan Oktober ini dan melibatkan 25 pasien Covid-19 dengan kondisi parah. Durasi penelitian ialah tiga bulan,” terangnya, Sabtu (3/10/2020).

Sebelumnya, Dokter Spesialis Paru RSUP Persahabatan, dr Erlina Burhan, SpP(K), menerangkan bahwa 25 pasien Covid-19 tersebut diambil dari tempatnya berpraktik.

Tapi, dr Erlina menjelaskan, ada beberapa karakter pasien Covid-19 yang tidak bisa mengikuti uji coba pemberian Covifor ini. Mereka itu adalah pasien Covid-19 yang punya riwayat alergi, ada kelainan ginjal dan liver.

“Selanjutnya, pasien yang sedang mengikuti penelitian obat lainnya pun tidak bisa mengikuti uji coba Covifor ini,” tambah dr Erlina. Persyaratan tersebut, tegas dr Erlina, sudah sesuai dengan protokol yang disubmitkan ke komite etik rumah sakit.

Tidak sembarang pasien dipilih, mereka harus memenuhi kriteria berikut ini;

1. Usia pasien di atas 18 tahun.
2. Sudah terkonfirmasi Covid-19.
3. Kondisi pasien dalam situasi kritis, dengan tanda saturasi oksigen di bawah 94 persen.
4. Pasien sedang menjalani pengobatan menggunakan ventilator.
5. Keluarga dan pasien menyetujui uji coba dengan menandatangani persetujuan diberikan obat.

Di awal penyuntikan, pasien akan diberikan dosis 100 mg. Setelah itu, pemberian dosis pun akan dinaikkan bertahap menjadi 250 mg. Adapun teknik pemberiannya adalah dengan injeksi.*

(sumber: okezone.com)

News Feed