by

INSA Batam Berikan Semangat Kepada KKP dalam Menjalankan Tugas di Tengah Pandemi

Batam (HK) – Indonesian National Shipowner Association (INSA) Kota Batam mengapresiasi dan memberikan semangat kepada petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Khusus Batam dalam menjalankan tugasnya di tengah pandemi saat ini.

Para petugas KKP itu adalah garda terdepan dalam membatasi penyebaran Covid-19 dari kapal-kapal yang datang ke Kota Batam.

“Hingga saat ini para petugas KKP Batam itu masih menjalankan tupoksinya melakukan pengawasan terhadap setiap kapal-kapal yang masuk ke Batam,” kata ketua DPC INSA Kota Batam, Osman Hasyim, Selasa (22/9/2020).

Disampaikan Osman, petugas KKP Batam itu dalam menjalankan tugasnya sangat beresiko untuk menjaga pintu masuknya kapal yang datang ke Batam, bahkan beberapa para petugasnya itu juga sempat terjangkit Covid-19.

Mereka itu dalam menjalankan tugas sedang menyambung nyawanya, oleh karena itu terhadap isu-isu yang mengatakan KKP ada melakukan permainan dalam rapid test kepada setiap kru kapal yang datang ke Batam itu adalah tidak benar.

“Biaya rapid test di KKP itu cuma Rp 200 ribu saja dan itu dikelola oleh koperasi, selain itu mereka itu membayar PNBP kepada negara, kalau di rumah sakit tidak ada bayar PNBP,” ucap Osman.

Menurutnya, saat ini KKP Batam itu butuh dukungan moril dari semua pihak, sebab mereka bekerja dengan potensi yang sangat rawan untuk terpapar, kalau semangat para petugas KKP itu hilang maka siapa yang akan mau mengantikan tugas mereka.

Pengawasan kesehatan orang masuk Batam akan longgar apabila semangat petugas KKP menurun dan penyebaran Covid-19 bisa makin meluas, sebab menyangkut kesehatan masuknya orang ke Kota Batam melalui pelabuhan atau kapal itu adalah tanggungjawab dari KKP.

“Orang yang turun dari kapal itu harus dipastikan bebas dulu dari Covid-19, kalau tidak bebas dari Covid-19, maka orang tidak boleh turun dari kapal,” tuturnya.

Dimasa Covid-19 ini, lanjut dia, karantinalah yang paling berat tugasnya, dan INSA selalu berkoordinasi dengan karantina, bahkan apa yang mereka butuhkan selalu di support.

“Seperti kekurangan masker, hand sanitizer, Alat Pelindung Diri (APD), dan berbagai macam lainnya,” ungkapnya.

Ditambahkannya, pihaknya sudah melakukan pengecekan terhadap beredar informasi besarnya anggaran biaya rapid test sampai dengan Rp 450 ribu.

“Setelah dicek dan kita mintai keterangan petugas disana, dan ternyata itu tidak ada tentang pemungutan itu, bahkan ada juga crew kapal yang terjun di laut. Masa iya karena informasi tersebut dan berbeda Rp 200 ribu sampai terjun kelaut?” bebernya.

Dengan adanya informasi itu, pihaknya sangat menyayangkan, karena mereka sebagai garda terdepan yang bisa tertular langsung dengan covid-19 mengalami drop.

“Kami yang sudah bekerja seperti ini, penuh dengan resiko, bekerja dengan benar, malah sekarang dituduh seperti ini,” kata Osman mengulangi ucapan yang dikeluhkan petugas KKP itu. (dam)

News Feed