by

Al-Qur’an di Tengah Badai Peradaban

  • Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag. MH, Kakan Kemenag Lingga

Sebentar lagi secara lokal maupun nasional, umat Islam Indonesia akan menyelenggarakan Musabaqah Tilawah Al-Qur’an (MTQ) yang merupakan agenda Nasional setiap tahun. Pada tahun ini ( 2020 M/1442 H ) MTQ dilaksanakan masih dalam suasana pandemic. Sebagai budaya yang telah mentradisi di tengah umat Islam, MTQ tentu saja telah banyak memberikan dampak terhadap sikap hidup beragama khususnya umat Islam di Indonesia. Selain itu, MTQ tentu telah banyak mengedukasi perilaku ummat dalam setiap lini kehidupan. Tidak saja dalam kehidupan personal pribadi, tetapi juga terhadap kehidupan komunal kemasyarakatan. Namun, kita menyadari dengan pergeseran paradiqma, akibat kemajuan Ilmu pengetahuan dan tehnologi, sikap hidup yang tercermin dalam peradaban manusia zaman ini mulai mengalami distorsi dan degradasi bergeser dari pesan moral Al-Qur’an, sehingga makna kehidupan sejati sulit diraih dan ditemukan.

Fungsi Al-Qur’an dimata umat Islam sangatlah penting, ia sebagai pedoman dan petunjuk kehidupan. Al-Qur’an adalah kitab suci yang diwahyukan dan diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, untuk disampaikan kepada umat manusia. Wahyu adalah Sabda Tuhan yang mengandung ajaran, petunjuk dan pedoman yang diperlukan umat manusia dalam perjalanan hidupnya, baik di dunia maupun akhirat.

Saat ini kita sedang berada dalam era milenial. Era peradaban baru ini, budaya manusia ditundukkan oleh teknologi yang serba canggih. Agama seakan-akan bukan lagi menjadi kekuatan yang melembaga dalam kehidupan masyarakat, melainkan tergantikan oleh kecerdasan otak manusia. Peradaban era baru dibangun atas dasar suatu perencanaan rasional yang bersifat ilmiah. Dialektika yang ada telah membawa ilmu sosial dan ilmu lainnya terus melebarkan pengaruhnya ke seluruh dunia, para filsuf sosial dan mazhab ikut bermunculan dan berkembang dimana mana hingga kini, yang paling terkenal adalah mazhab Frankfurt. Dari mazhab inilah diperkenalkan peradaban manusia yang dinggap maju itu, dengan cirinya yang rasional dan profane, mengandalkan eksistensi aqal manusia semata.

Setiap peradaban memiliki ciri, metode dan pilihannya sendiri. Tetapi peradaban Islam adalah peradaban dengan ciri aqidah tauhidnya yang bersumber dari wahyu yang menjadi pedoman kehidupan. Hal ini terbukti dari perjalanan sejarah perkembangan peradaban Islam masa lalu. Sebagaimana yang dikatakan oleh Malek Bin Nabi ( 1905-1973 ), bahwa Jazirah Arab sebelum turunnya Al-Qur’an ( Wahyu ), tidak lebih dari masyarakat Badawi ( jahiliyah ) yang hidup di gurun pasir. Waktu yang mereka miliki lewat begitu saja tidak bermanfaat. Sampai ketika Jibril membawa wahyu untuk Muhammad SAW disitu dimulai lahirnya peradaban baru yang pengaruhnya merubah wajah peradaban dunia.

Perjalanan menuju peradaban yang dicita-citakan Islam, sebagaimana tercermin dalam Al-Qur’an dimulai dengan peletakan dasar-dasar orientasi yang tercakup dalam Al-Akhlaq, pengembangan nilai-nilai idiologis dan system peradaban tauhid untuk membangun sumber daya insani, yang lebih menekankan faKtor spiritual dan intelektual untuk selanjutnya menuju kepada pembangunan ummat dalam kesatuan dan persatuan untuk tujuan yang muliya. Akhlaq pada hakikatnya merupakan konsekuensi dari iman dan syariah. Ini artinya bahwa aklaq merupakan manifestasi dari iman, dan iman seseorang bisa di ukur dengan kualitas akhlaqnya. Semua ajaran ibadah yang diajarkan Al-Quran memiliki target terciptanya akhlaq muliya dalam diri seseorang.

Peradaban Islam harus lahir dari petunjuk otentik wahyu dalam sejarah perkembangan manusia, dan sesuai dengan sifatnya yang berbasis Al-Qur’an. Ia dibangun oleh pandangan hidup qurani yang melihat manusia sebagai makhluk yang diciptakan Allah swt, untuk mengemban misi ukhrawi dan duniawi sekaligus. Misi ini sering kita sebut dengan misi kekhalifahan di bumi.Tidak hanya berorientasi materi atau duniawi-oriented tetapi juga berorientasi akhirat atau ukhrawi-oriented.

AlQur’an yang kita pelajari, yang kita baca, dan yang kita musabaqahkan menuntut adanya tindakan hidup yang kreatif dan produktif dalam bentuk ibadah dan amaliyah. Baik ibadah yang bersifat individual-vertikal maupun ibadah social-horizontal.Tindakan hidup inilah yang akan menjadi peradaban muliya yang memiliki ciri khas yang berbeda dengan peradaban lain yang lahir di dunia manapun. Itulah peradaban muliya yang akan dibentuk melalui MTQ, yang kita laksanakan kemudian kita istilahkan dengan peradaban Qur’ani.

Peradaban Qur’ani memiliki wawasan kemanusiaan sebagai makhluk terbaik dari ciptaan Tuhan. Sifat kemanusiaan yang amat menentukan dalam tatanan kehidupan adalah perdamaian dan kasih sayang. Maka secara inplisit kedamaian dan kasih sayang berwujud dalam bentuk ketenangan. Ia menjadi ciri dan bentuk kehidupan yang diamanahkan Al-Qur’an. Jika kita lihat akhir-akhir ini, banyak terjadi di berbagai belahan dunia atau Negara, bahwa kedamaian sudah mulai terusik oleh berbagai kepentingan, sehingga pertikaian dan saling membenci antar sesama bermunculan di tengah masyarakat.

Di berbagai belahan dunia, muncul aksi-aksi kekerasan dan perseteruan kekuasaan yang ingin mengintimidasi, memerangi dan merusak kedamiaman umat manusia. Seakan-akan realitas umat tidak lagi menyentuh pesan damai yang diperintahkan Al-Qur’an. Kondisi ini dapat timbul akibat factor-faktor eksternal dan internal umat itu sendiri. Faktor eksternal timbul karena interaksi umat dengan system di luar dirinya, umpama saja disebabkan oleh kondisi social , ekonomi dan politik yang tidak stabil. Sedangkan faktor internal adalah faktor yang berasal dari pemahaman dan pengamalan Al-Quran yang belum sepenuhnya di budayakan.

Menurut Ziauddin Sardar ( 1979 ), secara mendasar runtuhnya peradaban umat ini dan tak berdaya bangkit menuju masa depan, sangat dipengaruhi oleh beberapa indikator yang menghalangi kebangkitan peradaban umat yaitu : Pertama adalah pembaratan ( westernisasi ), yaitu usaha membaratkan dunia timur melalui dominasi terhadap produk-produk budaya kapitalisme dan komunisme yang diajarkan dengan slogan “ Barat yang terbaik”, sehingga meremehkan golongan tradisional umat di belahan dunia manapun. Kedua; nasionalisme, yaitu tuntutan sentimental terhadap nilai-nilai nasional dalam nada negatif, sehingga seakan-akan membela tanah air tetapi bersifat feodalisme. Ketiga. Individualisme, yaitu arus pemikiran pembelaan terhadap diri peribadi yang menentang cita-cita sosial kemanusiaan. Faham ini telah menabrak nilai keadilan social bagi seluruh manusia karena intinya tindakan apapun berpusat pada diri atau ego manusia.Keempat; ekonomisme, yaitu tindakan manusia yang memandang pada sisi keuntungan semata yang menebarkan pola hidup konsumerisme dengan mengabaikan produsenisme.

Kelima; Rasionalisme, adalah prinsif yang menyatakan bahwa aqal manusia itu Maha Tinggi dan seluruh kebenaran dapat disingkap lewat kerja aqal manusia. Faham ini megatakan bahwa manusia itu bukan alam, tetapi lebih tinggi dari alam. Sebab keunggulan ilmu pengetahuan dan tehnologi diagungkan mengalahkan ketentuan Tuhan. Keenam, sentralisasi; yaitu meningkatnya senteralisasi dan birokrasi yang dihadapi dunia, sehingga dapat mematikan potensi yang sangat diperlukan untuk membangun masa depan.

Kedelapan, Modernisme; yaitu ajaran Barat yang diselubungi oleh obyektifitas terminology ilmu pengetahuan dan tehnologi. Ia merupakan rancangan system yang memisahkan nilai-nilai kebenaran dalam kemoderenan dan bahkan dapat pula bertentangan dengan norma agama.

Dengan demikian , sudah saatnya umat ini kembali memperteguh keyakinan dan membangun kembali orientasi kehidupan dengan kesadaran dan sikap hidup Qur’ani sehingga peradaban baru di era milenial ini dapat bangkit kembali. Mari kita jadikan MTQ tahun ini, sebagai momen untuk menjemput kembali semangat memperteguh sikap hidup qurani, menuju peradaban muliya yang modern dan maju. Aamiin.***

News Feed