by

Waqaf dan Solusi Krisis Ekonomi

  • Oleh: H. Muhammad Nasir, Kakan Kemenag Lingga

Diantara syariat Islam yang memiliki fungsi-fungsi ekonomi adalah waqaf. Ia merupakan syariat ibadah yang memiliki nilai material dan spiritual sekaligus. Sebagai fungsi ekonomi , waqaf harus diberdayakan utamanya untuk meningkatkan ekonomi umat dan bahkan jika perlu dapat menjawab tantangan persoalan keumatan khususnya ancaman krisis ekonomi yang sedang melanda akibat pandemic covid-19 yang terus merambah. Tentu saja kondisi demikian menuntut adanya jalan keluar, berupa sikap hidup yang super hemat dan produktif, pemanfaatan uang secara investatif, pilihan strategi-futuristik, serta keahlian hidup yang dapat menunjang meringankan beban hidup dalam masyarakat. Untuk itu waqaf adalah salah satu jawaban yang menjadi sumber peningkatan perekonomian yang dapat di kembangkan.

Secara mendasar, perhatian pemerintah terhadap pengelolaan dan pemberdayaan waqaf di Indonesia sudah cukup baik. Ini ditandai dengan lahirnya Undang-Undang Waqaf Nomor. 41 Tahun 2004 tentang waqaf. Disamping waqaf merupakan pranata keagamaan yang tidak hanya berfungsi ekonomi tetapi juga berfungsi social kemasyarakatan, maka sangat mensedak dan perlu dilakukan penguatan, pengembangan dan pemberdayaan waqaf dengan strategi pengelolaan yang tepat , agar waqaf dapat berfungsi dan berdaya guna secara efektif dan efisien untuk membangun kesejahteraan umat. Melihat kompleksitas dan dinamika perkembangan umat yang terus maju, pengelolaan waqaf tidak cukup hanya dengan dukungan legal-formal pemerintah ataupun badan hukum lainnya, atau dengan tersedianya SDM dan kelembagaan yang independen, tetapi sangat penting dari itu, waqaf harus dikelola melalui strategi pengembangan dan pemberdayaan secara komprehensif. Pengembangan dan pemberdayaan waqaf tidak cukup hanya dengan system administrasi dan sumber produksi dan konsumsi yang memuaskan melainkan harus dengan keterpaduan dalam proses pemberdayaan yang holistic dengan konsepsi etik dalam trend kemakmuran dalam Islam, sebab kalau tidak harta waqaf hanya akan menjadi fitnah ( QS. At-Taqhabun, 64 : 15 ) dalam kehidupan Umat.

Memberdayakan waqaf melalui managemen holistik merupakan upaya tehnologi pemberdayaan dari tehnologi tradisional ke teknologi modern. Diantara langkah-langkah yang dapat dikembangkan adalah pertama; pemberian peluang atau akses yang lebih besar kepada asset produksi benda waqaf yang bersifat sumber dana untuk modal usaha yang digunakan secara berkesinambungan, kedua; memperkuat posisi transaksi dan kemitraan waqaf melalui usaha ekonomi kerakyatan untuk selanjutnya membangun kebersamaan dan kesetiakawanan dengan rasa percaya diri dalam menghadapi era keterbukaan ekonomi.ketiga; Meningkatkan layanan pendidikan dan kesehatan melalui program produktif untuk mewujudkan sumber daya keummatan menuju peradaban muliya dan modern, keempat; Menciptakan pemerataan hasil-hasil waqaf untuk pembangunan ummat dengan memperkuat ekonomi usaha kecil dengan basis ekonomi kerakyatan untuk kesejahteraan lahir bathin.

Selanjutnya upaya lain yang dapat memperkuat ekonomi kerakyatan melalui waqaf, disamping peran penting pemerintah, juga harus diperkuat dengan political will para pemangku kekuasaan baik eksekutif, yudikatif dan legisatif serta peran aktif masyarakat. Usaha ini harus diarahkan untuk memperkuat kerjasama dengan lembaga-lembaga swasta dengan berbagai sektor diantaranya sektor informal, perkoperasian, industri kecil, perkreditan, kesehatan, penyediaan air bersih , perbaikan lingkungan dan lain sebagainya.

Dengan demikian waqaf sekurang-kurangnya dapat menjadi lokomotif perekonomian berbasis kerakyatan yang diharapkan mampu menggerakkan sendi-sendi perjuangan dalam kontek keummatan masa kini, yakni memperkuat peradaban dalam tataran ruhaniyah, intelektual, kesehatan dan tataran ekonomi umat. Sebab itu , dalam kontek perjuangan ekonomi , disamping upaya yang dilakukan dalam bentuk strategi, juga harus dilakukan dalam bentuk penyadaran ummat akan tanggung jawab bersama akan syariat perintah waqaf. Tanggung jawab inilah yang selama ini terpinggirkan. Padahal sebagaimana yang di ingatkan oleh Imam Ali Bin Abi Thalib, bahwa ”Sekiranya kefakiran itu berwujud seorang manusia, sungguh aku akan membunuhnya”.

Inilah konsekuensi, bahwa dengan situasi ekonomi umat saat ini, kita harus mampu keluar dari himpitan kesulitan krisis ekonomi, diperlukan perjuangan yang besar dan gigih dari setiap komponen umat. Setiap peribadi dan lembaga ekonomi ditantang, untuk lebih keras bekerja, berkreasi dan berwirausaha, bekerja sama, komunikatif dalam berinteraksi, lebih skill ful dalam memfasilitasi jaringan kerja, dan lebih professional dalam mengelola potensi-potensi dan kekuatan-kekuatan riil ekonomi umat. Akhirnya kita berharap, agar pengelolaan waqaf dapat mengurangi beban krisis yang sedang menimpa umat, dan umat semakin menyadari bahwa keterampilan berwirausaha dan keahlian hidup sangat dibutuhkan untuk menunjang penguatan ekonomi menuju peradaban dan kesejahteraan umat saat ini dan masa yang akan datang. Aamiin.***

News Feed