by

Membangun Agama dengan Pendekatan Super Metodologi

  • Oleh: H.Muhammad Nasir. S.Ag, MH, Kakan Kemenag Lingga

Hampir semua agama menyadari betapa dunia modern saat ini dikuasai oleh kekuatan-kekuatan dominan yang memaksakan pandangan-pandangan keagamaan dan perilaku keagamaan mengikuti pola-pola hidup baru berbasis tehnologi yang sulit dikendalikan. Kondisi ini diperkuat lagi dengan tantangan dunia global yang telah banyak menyita pikiran, tenaga, dan waktu untuk mengikuti kehendak modernisasi yang serba canggih. Globalisasi juga telah melahirkan generasi milenial yang serba modern dan menantang. Dunia tanpa batas dan tanpa sekat adalah menjadi ciri pergaulan masyarakat di belahan benua manapun. Generasi milenial menjadi generasi baru yang akan memikul beban perjuangan pembangunan peradaban masa depan. Mau kemana generasi ini akan menuju dan apa yang mereka bawa dalam perjalanan hidup ke masa depan masih dalam tanda tanya besar.

Membangun masyarakat ideal merupakan cita-cita mulia semua bangsa. Tidak ada satupun institusi ataupun bangsa yang menginginkan pembangunan generasi umat beragama terhambat apalagi terkendala. Di era milenium ketiga saat ini, membangun agama merupakan hal yang sangat penting dan prioritas karena tantangan umat beragama semakin berat. Kalau kita simak perkembangan agama sekarang, secara historis – sosiologis, agama-agama besar yang berkembang, mereka lahir pada satu masyarakat regional yang terkotak-kotak, menuju masyarakat dunia yang terbuka akibat perkembangan demografi serta revolusi teknologi tranformasi dan informatika. Karena itu, perkembangan agama terus menggeliat, peradaban manusia berjalan maju, sehingga manusia semakin menyadari bahwa dengan daya dan kemampuan serta potensi kreatif yang dimilkinya, agama harus dibangun dan diperkuat untuk membaca dan mengendalikan tantangan yang dihadapi.

Agama harus dibebaskan dari pengaruh distorsi pemikiran yang mekanistik dan manipulatif akibat cara kerja ilmu pengetahuan modern yang penuh dengan inspirasi kekuatan ego manusiawi. Oleh sebab itu, Arnold dalam bukunya The Corupted Sciances (1992), berpendapat, agama yang cocok untuk dunia modern adalah keberagamaan kaum sufi atau esoterisme Tao, karena keduanya dinilai humanis, inklusif dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip antropis dan hukum alam. Agama kaum sufi atau esoterisme dalam pandangan para filosof tidak lain adalah agama yang memperjuangkan antropik-spiritualisme, yaitu yang menempatkan manusia sebagai subyek senteral dalam jagat raya, tetapi inheren dalam kemanusiaanya tumbuh kesadaran spiritual yang senantiasa berorintasi kepada Allah SWT, Tuhan yang menciptakannya. Kesinilah pembangunan agama (baca: Islam ) diarahkan disamping membangun fungsi-fungsi keagamaan lainnya yang dapat memperkuat tatanan kehidupan milenial yang sedang dihadapi.

Untuk menuju arah tersebut diantara strategi pembangunan agama yang kita tawarkan adalah Islamic Super Total Quantum Brain yang disingkat dengan STQB. Pendekatan strategi STQB pertamakali dikembangkan oleh Agus Efendi ( 1998 ) seorang ahli komunikasi bisnis. ISTQB merupakan gabungan dan keterpaduan dari berbagai keunggulan strategi yang berbasis nilai-nilai tradisional dengan keunggulan dunia modern seperti Super Motivation ( R.Spitzer : 1995 ), Total Quality Magament ( Jhon S, Aokland : 1995 ), Quantum Learning ( Bobbi Deporter dkk : 1992 ), dan Brain Builder : Richard Leviton : 1995 ). Pendekatan inilah yang kita disebut dengan Super Metodologi. Kita tidak menguraikan hal ini satu persatu. Tetapi yang jelas seluruh strategi ini merupakan pendekatan dan upaya membangun kehidupan manusia kearah yang lebih baik termasuk kehidupan umat beragama.

Sebagai sebuah pendekatan, ISTQB merupaka upaya pembangunan agama dengan kolaborasi terpadu dalam beragai kekuatan yang tersedia dalam sentra kehidupan masyarakat milenial. Pendekatan ini merupakan upaya membangkitkan energy kesadaran dari dalam diri umat, kemudian untuk dijadikan modal dan motivasi internal dalam mengharungi medan perjuangan hidup. Karenanya membangun agama akan lebih bermakna fungsional karena orintasi pembangunan lebih ditekankan kepada pemberdayaan umat dengan pandangan tauhid yang spiritualitas, yang terbuka terhadap setiap Zeit Geist ( ruh zaman ) .

Dalam pendekatan ini, sumber daya umat beragama dapat dikembangkan dan diberdayakan secara maksimal, bahkan bisa mencapai hasil yang ekstraordineri, melalui the powr of high motivation. Karena pada dasarnya manusia sesungguhnya mempunyai potensi motivasional yang tidak terbatas, dan motivasi itu hanya dapat berfungsi jika ia dibangkitkan dan dikembangkan melalui cara yang tepat.

Agama yang hidup dan berkembang di era milenial kini, merupakan keyakinan yang wajib diperjuangkan dan dipertahankan. Dengan agama manusia mampu memberi makna dan menjawab tantang dalam hidupnya. Agama adalah sumber penyejuk dan petunjuk jalan kehidupan, bukan menjadi beban kehidupan apalagi dianggap sebagai ancaman kehidupan, nauzubillah. Oleh sebab itu, anggapan yang dikembangkan atau yang menganggap agama sebagai ancaman tentu sangat keliru, dan hal itu timbul diantaranya adalah akibat krisis motivasi spiritual yang belum berkembang secara baik dan benar. Padahal motivasi spiritual agama, adalah potensi untuk bertindak dan mengarahkan perilaku yang inheren dalam sebuah sistem kontrol perilaku ( Ross Buch : 1988 ). Ia merupakan penentu akhir bagi terwujudnya fungsi pengetahuan dan keterampilan, yang pada akhirnya akan menimbulkan kesadaran yang kuat dari dalam dirinya. Itulah kesadaran agama , yang mana dengan kesadaran itu manusia bisa menentukan arah dan jalan hidupnya, karena dalam kesadaran itu pula tersimpul kesadaran ruhiyah ( kesadaran nurani ) yang sangat fundamental.

Pendekatan ISTQB merupakan strategi pembangkit motivasi kesadaran manusia secara utuh dan terpadu, yang tidak hanya kesadaran spiritual tetapi juga kesadaran social, moral dan kesadaran intelektual. Dengan kesadaran itu manusia akan memiliki kekuatan untuk menata hidup dan kehidupannya dalam segala asfek dan lini. Dengan kesadaran itu pula manusia akan mampu menjawab tantangan milenial yang dapat mengancam Iman umat beragama.

Dengan demikian sudah saatnya kita berusaha melakukan lompatan perubahan dengan strategi dan pendekatan yang tepat untuk membangun agama (baca: Islam) tentunya dengan kesungguhan yang tulus dari semua pihak. Era milenial bukan untuk ditakuti dan bukan pula untuk dijauhi, sebab ia hanya peradaban masa kini yang harus kita kendalikan dengan kekuatan spiritual agama sebagai basis kehidupan. Akhirnya semoga kita mampu mengendalikan generasi milenial dengan memantapkan motivasi dan kesadaran agama yang kuat sehingga menjadi panduan peradaban umat beragama saat ini dan di masa yang akan datang. Aamiin.***

News Feed