by

Sempat Keok Sebelumnya, Minyak Dunia Kini Lebih Bertaji

JAKARTA (HK)– Harga minyak dunia mulai terpantau stabil di New York setelah sempat anjlok pada Juli 2020 karena tren penguatan nilai dolar AS. Pelaku pasar juga masih terus mencermati kebijakan dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak atau OPEC.

Dilansir dari Bloomberg pada Kamis (3/9/2020), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman bulan Oktober 2020 naik 0,6 persen ke level US$41,75 per barel pada New York Mercantile Exchange hingga pukul 08.44 waktu Singapura.

Kenaikan tersebut terjadi setelah harga WTI turun US$1,25 per barel pada Rabu kemarin.

Harga minyak Brent untuk kontrak bulan November 2020 juga bergerak naik 0,3 persen ke US$44,55 per barel pada bursa berjangka Eropa ICE setelah sempat anjlok 2,5 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.

Pasar komoditas berjangka mengalami fluktuasi harga yang tinggi setelah penguatan nilai dolar AS pada pekan ini. Kenaikan nilai tukar membuat harga minyak dunia terkoreksi 2,9 persen, atau kontraksi terdalam sejak 30 Juli lalu.

Sementara itu, salah satu negara anggota OPEC, Irak, kemungkinan akan memperpanjang pemangkasan produksi minyak selama dua bulan.

Hal tersebut dilakukan untuk memenuhi janji karena dalam periode pemangkasan produksi April hingga Juli Irak, bersama dengan Nigeria, tidak memenuhi kuota pemangkasan produksi yang telah disepakati.

Reli harga minyak dunia tersendat pada US$43 per barel seiring dengan kenaikan jumlah kasus positif virus corona yang akan berdampak pada angka konsumsi.

OPEC juga tengah menguji permintaan pasar dengan perlahan mengembalikan angka produksi minyak, sedangkan pembelian minyak mentah dari China menunjukkan tren perlambatan.

Sementara itu, menurut Badan Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (US Energy Information Administration/EIA), cadangan minyak mentah AS menurun lebih dari 9 juta barel pada pekan lalu.

Hal tersebut kemungkinan merupakan dampak dari Badai Laura yang menghantam beberapa wilayah AS. Adapun produksi minyak AS menurun dibawah level 10 juta barel per hari untuk pertama kalinya sejak 2018. [*]

 

 

 

 

sumber:sindo

News Feed