by

Introspeksi Diri

  • Oleh: Agus Sopian

Dari Ibnu Abbas RA ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua nikmat yang sering dilalaikan manusia, yaitu kesehatan dan kesempatan.” (HR Bukhari). Hadis tersebut mengingatkan kita tentang pentingnya mensyukuri nikmat sehat dan kesempatan. Sebab, kebanyakan manusia sering lalai terhadap keduanya.

Belum lama ini kita telah merayakan datangnya bulan Muharram 1442 Hijriyah. Datangnya awal tahun Hijriyah ini menandakan bahwa usia hidup kita semakin berkurang. Ingatlah kembali segala perbuatan dan pekerjaan yang sudah kita lakukan setahun ke belakang. Renungkan apa yang telah menimpa pada hidup kita. Jadikan hal tersebut sebagai sebuah proses muhasabah (introspeksi diri) sebelum dihisab kelak di hadapan Allah SWT.

Al-Hasan Bashri mengungkapkan, manusia yang paling mudah melalui masa penghitungan amal perbuatan kelak pada hari kiamat adalah mereka yang semasa hidupnya senantiasa mengintrospeksi diri demi mendapat ridha Allah SWT. Karena itu, mereka akan terhindar dari penyesalan dan kesedihan diakibatkan amal perbuatan mereka.

Sebaliknya, mereka yang menyianyiakan waktu dan kesempatan mengintrospeksi diri semasa hidup di dunia akan merasakan beban berat saat perhitungan amal perbuatan di akhirat. Kemudian, mereka mengucapkan firman Allah SWT yang berbunyi, “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan tercatat semuanya.” (QS al-Kahfi: 49).

Umar bin Khattab pernah mengungkapkan, “Perhitungkanlah diri kalian sebelum kalian dihitung. Timbanglah amal perbuatan kalian sebelum amal perbuatan kalian ditimbang. Berhiaslah kalian (persiapkan diri) untuk menghadapi hari perhitungan yang besar.”

Bisa jadi, selama ini kita kurang bersyukur, padahal Allah telah mencurahkan kasih sayangnya tiada henti. Menutupi keburukan-keburukan kita dan mengampuni banyak hal yang mungkin mendatangkan siksa. Padahal, jika disiksa dengan satu dosa saja, pasti kita binasa. Jika Allah menyingkap dosadosa itu kepada manusia lain, betapa malunya kita. Bisa jadi, kita terlalu disibukkan oleh urusan dunia, padahal kita tidak pernah tahu kapan kematian menyapa. Sekarang berada di muka bumi, besok bisa saja kita berada di bawah bumi.

Ibnu al-Jauzi mengatakan, orangorang yang cerdik adalah mereka yang menyibukkan diri dengan segala hal yang menyebabkan dirinya dikenang meski badannya telah dilipat kubur. Pertanyaannya, amal apa yang sudah kita siapkan jika kematian benar-benar menyapa? Sungguh sangat disesalkan jika umur hilang percuma tanpa bisa mencapai ridha-Nya.

Orang yang memiliki kesadaran akan makna hidup selalu mencari tahu dan memperbanyak bekal untuk perjalanan abadi hingga mereka memperoleh keberuntungan yang berlipat ganda. Maka dari itu, gunakanlah setiap detik umur kita untuk senantiasa berbekal kebaikan sebanyak mungkin.

Bersegeralah sebelum kesempatan itu lenyap. Carilah ilmu juga hikmah. Berlombalah dengan waktu serta lawanlah nafsu. Sebab, saat semuanya terlambat, tak akan berguna lagi penyesalan kemudian. Wallahu a’lam.*

(sumber: republika.co.id)

News Feed