by

Merespon Krisis Global dengan Crisis Leadership (CL) dan System Leadership (SL)

  • Oleh: Dr. Eng. Ansarullah Lawi, Dekan Fakultas Teknik Universitas Universal Batam

Tahun 2020 mungkin merupakan tahun yang akan selalu diingat oleh penduduk dunia akibat situasi munculnya wabah COVID-19 yang dimulai dari Wuhan, Tiongkok, akhir 2019. Bagaimana tidak, situasi ini tidak hanya mengakibatkan krisis dari sisi kesehatan, tetapi juga krisis multi dimensi yang begitu mempengaruhi perekonomian negara-negara di seluruh dunia.

International Monetary Fund (IMF) memprediksi output ekonomi dunia menyusut hampir 5% atau kehilangan output ekonomi senilai US$12 triliun selama dua tahun. Dalam situasi seperti ini, peran model kepemimpinan dalam menangani krisis menjadi salah kunci utama untuk meminimalisasi kerusakan yang lebih besar yang dapat dihasilkan oleh krisis itu sendiri. Kepemimpinan disini adalah tentang mengatasi perubahan, menetapkan arah, menyelaraskan orang, memotivasi dan menginspirasi-menjaga orang untuk bergerak ke arah yang benar, atau sesuatu hal tentang antisipasi, visi, fleksibilitas dan pemberdayaan. Oleh karena itu, kepemimpinan bertujuan untuk memberikan visi dan arah dalam menanggulangi situasi yang saat ini mengarah ke VUCA; Volatility (pergolakan), Uncertainty (ketidakpastian), Complexity (kompleks), and Ambiguity (tidak jelas). Sesuatu hal yang mengisyaratkan masa tantangan tak terduga dan tidak stabil tanpa diketahui waktu berakhirnya.

Sangat penting bagi seorang pemimpin untuk memiliki skill Crisis Leadership (CL). Karena, seorang pemimpin akan dinilai pada saat dia mengambil keputusan di situasi krisis, sebagaimana menurut Napoleon Bonaparte sekitar 2 abad yang lalu, seorang pemimpin adalah pemberi harapan. Selain CL, System Leadership (SL) bisa menjadi pelengkap sebagaimana laporan dari King’s Fund sebagai hasil interview beberapa pimpinan berpengalaman (senior leader) di mana mayoritas berpendapat penerapan SL memberi peluang para pemimpin dalam usaha mitigasi dampak kerusakan yang global di saat kondisi krisis. Dari beberapa respon dunia terhadap pandemi COVID-19, terlihat bahwa CL dan SL dapat berjalan paralel saling melengkapi satu sama lain.

Untuk lebih memahami bagaimana peran CL dan SL dalam menangani situasi krisis, maka sebaiknya kita mengetahui dahulu definisi dan konsepnya.

Pada dasarnya Crisis Leadership atau CL adalah kemampuan untuk memimpin di bawah tekanan yang terjadi akibat krisis. Lantas apa yang membedakannya dengan manajemen krisis? Perbedaannya adalah pada dasar pemecahan masalah. Manajemen krisis berdasar pada protokol dan metode-metode yang sudah distandarisasi. Sementara CL didasarkan pada prinsip dan nilai seorang pemimpin itu sendiri. Selain itu manajemen krisis hanya merespon dengan solusi jangka pendek setelah mulainya krisis, sedangankan CL lebih proaktif dan memiliki persiapan untuk suatu peristiwa sebelum terjadinya krisis. Lebih lanjut, CL melihat bagaimana berbagai krisis saling terhubung dan dapat menggunakannya untuk meningkatkan organisasi dalam jangka waktu yang lama.

Sektor militer adalah salah satu yang memiliki sejarah yang cukup panjang terkait penanganan atau bagaimana merespon jika terjadi situasi krisis. Biasanya leader di militer dilatih dengan baik tentang cara merespon ketika peristiwa yang tidak terduga terjadi. Militer cenderung memandang krisis sebagai bagian dari rencana yang jauh lebih besar untuk pertempuran, propaganda, dan strategi. Mereka mendidik para komandannya untuk memahami bagaimana krisis akan berdampak pada lingkup departemen pertahanan dan pada akhirnya, Negara secara keseluruhan.

Berikut adalah delapan skill yang dibutuh oleh CL berdasarkan pengalaman para pemimpin-pemimpin militer; komunikasi, kejelasan visi dan nilai-nilai, kepedulian, panutan, karakter, kompetensi, keberanian, dan ketegasan. Dari semua skill tersebut, komunikasi, kejelasan visi dan nilai-nilai, serta kepedulian adalah yang paling krusial dibutuhkan.

Contohnya untuk komunikasi, pada situasi krisis, komunikasi yang dilakukan dengan baik dan dilaksanakan dengan benar di mana terintegrasi ke dalam setiap tahapan krisis dan langkah tanggap darurat, dapat membantu mengurangi kemungkinan dampak terburuk yang dapat terjadi.

Jika CL adalah kemimpinan di bawah tekanan akibat situasi krisis, maka System Leadership atau SL adalah kepemimpinan lintas organisasi dan geopolitik, di luar disiplin profesional individu, dalam berbagai budaya organisasi dan pemangku kepentingan, di mana seringkali tanpa pengendalian tata kelola secara langsung. SL tentang bagaimana seorang leader mampu mengkatalisasi, menginisiasi, dan mendukung perubahan proses pada tingkat sistem atau global.

SL menggambarkan suatu metode yang dibutuhkan ketika menghadapi masalah besar, kompleks, sulit dan tampaknya tidak bisa diselesaikan, di mana perlu adanya keajaiban di tengah banyaknya ketidakpastian, di mana tidak seorangpun atau suatu organisasi yang dapat menemukan atau mengendalikan solusinya, dan di mana untuk melewatinya sangat perlu untuk melibatkan sebanyak mungkin orang untuk menyumbangkan tenaganya, idenya, bakatnya, dan keahliannya.

Pemerintah Inggris melalui NHS (National Health System), atau jasa pelayanan jaminan kesehatan dan sosial, mengembangkan pendekatan SL untuk mengatasi isu kesehatan masyarakat dengan menggandeng sektor publik lainnya, swasta atau pihak ketiga, termasuk masyarakat sendiri. Pengembangan SL merupakan irisan dari empat bagian; efektivitas individu, hubungan & konektivitas, inovasi & perbaikan, dan pembelajaran & pengembangan kapasitas.

Kombinasi CL dan SL di Masa Krisis Multi-dimensi

Para leader di masa pandemi COVID-19 dihadapkan pada kondisi krisis yang tidak biasa. Mereka ibaratnya sedang menjalani ujian yang belum pernah ada sebelumnya. Sehingga kerusakan yang tidak biasa yang diakibatkan oleh pandemi ini menuntut cara kepemimpinan terbaik guna mengurangi dampak yang timbulkan. Kerusakan global akibat pandemi tidak saja dari sisi kesehatan, tetapi juga telah merambah ke ekonomi, sosial, politik, dll. Kepemimpinan akibat tekanan krisis atau CL, yang telah dilatih, disimulasikan, oleh beberapa leader, pada kenyataannya tidak cukup untuk menanggulangi pandemic COVID-19 yang kompleks multi-dimensi. Sehingga dibutuhkan improvisasi atau tambahan cara-cara alternatif terbaru yang tidak biasa. Kombinasi cara-cara yang memberi peluang hasil yang jauh lebih efektif dalam menghadapi kerusakan yang telah ditimbulkan oleh pandemi, yang bahkan lebih buruk dari perkiraan sebelumnya.

SL atau kepemimpinan sistem, yang terintegrasi dengan berbagai pihak, lintas sektor, lintas organisasi, menjadi kebutuhan untuk melengkapi CL. Dengan kombinasi 2 (dua) tipe leadership ini, masalah kompleks dan global yang dihadapi memungkinkan para pemimpin untuk saling berkolaborasi, menyamakan visi, demi satu tujuan, yaitu mitigasi dampak krisis global semaksimal mungkin.
Kolaborasi yang meskipun beroperasi dalam bidang yang sangat berbeda tetapi menggunakan beberapa taktik yang serupa, menggabungkan pemahaman mendalam tentang masalah sistemik yang ingin diatasi, kemampuan untuk melibatkan dan menyelaraskan beragam pemangku kepentingan untuk tujuan bersama, dan penekanan pada pemberdayaan aktivitas dengan kolaborasi jaringan organisasi seluas-luasnya.

SL bukanlah struktur organisasi permanen laiknya merger atau akuisisi pada organisasi bisnis, tetapi terdiri dari entitas kolaborasi sementara yang dibuat untuk menyatukan skill, pengalaman, dan kapasitas. Jadi semacam kolaborasi pemimpin untuk tugas khusus, guna mencapai tujuan dan cita-cita bersama.

Namun, tidak dapat dipungkiri, SL memiliki banyak sekali tantangan pada proses implementasinya. Tidak gampang menyatukan kekuatan para pemimpin organisasi yang masing-masing memiliki kekuatan ego internal atau desakan kepentingan politik. Pada skala global, contoh paling gampang adalah konflik dua kekuatan besar dunia, AS & China, alih-alih berfokus kepada penanganan krisisnya, keduanya malah saling tuduh sebagai biang keladi munculnya pandemi covid-19.

Jadi, bisa dikatakan bahwa pendekatan kombinasi CL dan SL sangat cocok untuk tantangan kompleks yang membutuhkan tindakan kolektif, di mana tidak ada entitas tunggal yang memegang kendali. Meskipun pendekatan ini memiliki banyak tantangan, memerlukan negosiasi tingkat tinggi, hasil yang mungkin masih ambigu, jangka waktu yang lama, namun pendekatan inilah yang paling baik untuk diterapkan pada masalah kompleks, krisis multi-dimensi, akibat dampak dari pandemi.

Karena dampaknya global, maka keberhasilan negara seperti klaim Selandia Baru dalam penanganan krisis Kesehatan akibat pandemi COVID-19, masih belum cukup mengeluarkannya dari dampak ekonomi dan sektor lainnya. Hal ini karena adanya saling ketergantungan antar satu negara dengan negara lainnya di dunia. Sehingga sudah semestinya dunia bersatu untuk memerangi pandemi covid-19 dengan menyatukan visi kepemimpinan antar negara, organisasi dari berbagai industri & sektor, serta masing-masing individu untuk bersama-sama merespons wabah global ini.***

News Feed