by

Memperteguh Jiwa Bangsa dengan Tawaddu’

  • Oleh: H. Muhammad Nasir. S,Ag.MH, Kakan Kemenag Lingga

“Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya. (QS.16:61)”

Musibah demi musibah yang menimpa bangsa kita bagaikan halilintar yang bersahutan. Mulai dari wabah covid-19, banjir, kebakaran, gunung meletus, tanah longsor, dan lainnya. Airmata kita sudah lama kering tidak ada lagi yang tersisa. Namun, bangsa kita masih saja membusungkan dada dengan prestasi korupsinya, pornoaksi, culas, perseteruan politik, ketidak adilan, menindas hak-hak miskin dan memupuk kebohongan publik yang semuanya merusak jiwa bangsa yang kita cintai ini.

Seandainya kita mau dengan rendah hati (tawaddu’) menginstropeksi, dan membuang baju kesombongan dan keserakahan, mungkin ada jalan kesuksesan bangsa yang kita raih. Mensucikan langkah kita lalu menangis, kita arahkan ke nafsu mutmainnah, memohon dengan khusu’ dan cemas, takut, dan harap, lalu bersimpuh untuk tawaddu’ di hadapan pencipta alam semesta. Masing-masing elemen bangsa mencoba untuk menjadikan seluruh sahabat sebangsa menjadi bagian dari tubuhnya, sehingga apabila diantara kita yang terluka hatinya, maka pada hakekatnya kita sedang berduka bersama.

Selayaknya kita menengok, menelusuri benang merah kehancuran bangsa-bangsa terdahulu yang di azab Allah SWT. Simaklah kejatuhan bangsa Tsamud, yang lupa diri karena sejahtera sehingga melupakan ediologi Tauhid, atau nasib mengenaskan bangsa Saba’ setelah menjadi berpuluh tahun menjadi negara kaya dan aman sentosa. Dalam ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid III di katakana bahwa Saba’ merupakan nama beberapa kerajaan di Yaman dan nama penduduknya kaum Tababiah. Ratu Balqis , sahabat Sulaiman termasuk bagian dari kerajaan Saba’ yang beriman. Mereka hidup di negerinya dalam kenikmatan, kesenangan, kelapangan dan keluasan rezeki baik berupa tanaman palawijah maupun buah buahan. Kemudian Allah SWT mengutus para Rasul menyuruh mereka agar memakan sebagian rezki-Nya dan mensyukurinya dengan jalan tauhid dan menyembah-Nya. Namun, mereka enggan. Mereka hidup dalam kondisi demikian hingga waktu yang di kehendaki Allah SWT. Kemudian merekapun disiksa dengan mengirimkan banjir dan perpecahan antar kerajaan dan para pemangku kekuasaan. Pengingkaran itu menurut Tafsir Ibnu Katsir, karena bangsa itu meninggalkan Allah SWT, dan menyembah matahari seperti yang dilaporkan burung Hud-Hud pada Sulaiman. (Kisah Nabi Sulaiman QS An-Namal: 22-24)

Bangsa kita perlu berjiwa besar untuk mengakui kelemahan dan kehkilafannya, kita tata hati dan jiwa, kita satukan tujuan, serta ikhlaskan semua langkah. Jadikan kerukunan atau ukhwah sebagai momen untuk menghidupkan jiwa-jiwa yang terpenjara. Kita jadikan penyesalan sebagai langkah maju memupuk semangat perubahan kearah yang lebih baik. Kita mesti bijak mengelola kekecewaan yang sudah terjadi dengan menggantinya dengan kekuatan dan motifasi untuk menyadari diri lalu berupaya sekuat tenaga untuk bangkit mencapai keberhasilan. Kekecewaan yang di kelola dengan baik akan menjadi kekuatan dahsyat yang memotifasi seseorang untuk membuat loncatan hidup (quantum leap ). Dengan demikin menurut DR. Komaruddin Hidayat, bahwa kekecewaan akan menjadi deposito mental sebagai pijakan meraih sukses pada masa depan.

Dengan sikap Tawaddu’ bangsa ini memiliki harapan dan peluang untuk maju. Karena semangat dan sikap tawaddu’ akan mendorong seluruh komponen bangsa mendeteksi kelemahan dan menginfentarisir kekuatan. Sikap tawaddu’ mengajak bangsa ini untuk saling mendengarkan. Sudah saatnya bangsa ini mendengar jeritan hati nurani rakyat, mendengar pesan moral sejarah yang mulai kehilangan jejak, dan mendengarkan jejak pengalaman masa lalu yang bernilai positif untuk memacu masa depan. Dengan kata lain, kesadaran sebagai warga negara mesti ditegakkan dan dibangun terus menerus, tanpa meremehkan identitas manapun yang ada di Nusantara ini. Mulailah sa’at ini, karena generasi sedang menunggu di belakang hari.

Dengan Tawaddu’, kita hilangkan kekhawatiran yang berkepanjangan untuk selanjutnya bangkit memacu diri untuk menjemput kemuliaan, sebagaimana yang dipancangkan oleh para pendulu dan pemimpin masa lalu. Kita jemput kembali kemuliaan berpolitik, kemuliaan dalam berekonomi, berbudaya dan beragama serta kemuliaan dalam berbangsa dan bernegara. Dalam kontek kemuliaan berpolitik umpamanya, kita bangsa Indonesia harus menyadari bahwa berpolitik itu merupakan tindakan yang mulia, tentu apabila kita kembali ke dasar perpolitikan yang sebenarnya. Sebagaimana Aristoteles ( 384-322) yang dianggap sebagai peletak dasar tradisi politik Barat secara eksplisit menyatakan, bahwa ilmu dan karier politik sejatinya sangat milia. Karena , pemanfa’atan semua kemajuan ilmu pengetahuan pada akhirnya akan ditentukan oleh politikus, pemegang kekuasaan tertinggi sebuah negara. Sebab itu Aristoteles berpandangan bahwa politik adalah seni dan ilmu tertinggi, karena berfungsi mengendalikan arah dan fungsi-fungsi kekuasaan. Selain itu, bahwa kekuasaan merupakan alat untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan rakyat.

Pandangan Aristoteles demikian, sejalan dengan misi dan tipologi kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, bahwa kekuasaan diabadikan untuk mencerdaskan, menyejahterakan dan mendekatkan umat atau masyarakat kepada Tuhannya. Akhirnya hanya dengan sikap tawaddu’, kesombongan bangsa ini dapat kita hilangkan. Dengan tawaddu’, Allah SWT berkenan menyapa kita dengan kasih sayang-Nya, dengan Rahmat-Nya dan dengan ampunan-Nya.

Mudah-mudahan di tengah wabah dan musibah yang melanda dunia umumnya dan Indonesia khususnya, akan semakin menyadarkan bangsa ini akan kekuasaan Allah SWT dan betapa kecilnya manusia dihadapan-Nya. Tawaddu’ adalah jalan penyesalan yang mengikis kesombongan bangsa ini di hadapan Allah swt, Tawaddu’ merupakan sikap mulia dan sebagai bukti jiwa bangsa yang besar.

Mari kita menjadi bangsa yang bertawaddu’ dan mentawaddu’kan masyarakat. Jika perlu kita patenkan melalui suri tauladan para pemimpin kita sampai menjadi budaya berbangsa dan bermasyarakat. Kalau sudah membudaya kita yakin akan tercipta “surga mini” di negeri nusantara ini, dengan martabat mulia serta menjunjung tinggi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia di bawah naungan ridha Allah SWT. Aamiin. ***

News Feed