by

Spirit Hijrah untuk Moderasi Berbangsa dan Beragama

  • Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag. MH, Kakan Kemenag Lingga

Setiap 1 Muharram, kita umat Islam Indonesia memperingati dan merayakan tahun baru Hijriyah sebagai momentum sejarah yang mengandung makna penting bagi umat Islam. Untuk tahun ini jatuh pada 20 Agustus 2020 ketika dunia dilanda pandemi covid-19.

Tahun baru hijriyah merupakan momentum penting dalam sejarah peradaban Islam. Begitu pentingnya momentum ini sampai-sampai Umar Ibnu al- Khattab menjadikan tahun Hijriyrah sebagai tahun kebangkitan Islam menuju peradaban baru. Dalam sejarah peradaban Islam Hijriyah dimulai sejak Rasulullah SAW pindah dari kota Makkah ke kota Madinah. Sejak itulah dimulai pergerakan baru Islam dengan menyusun strategi pembangunan masyarakat melalui dasar-dasar aqidah dan syari’at secara terpadu dan seimbang. Kemudian kedua dasar itu menjadi pedoman bersama peletakan nilai-nilai peradaban modern dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Peristiwa hijrah merupakan tonggak sejarah yang syarat dengan nilai. Baik nilai-nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan dan nilai kemasyarakatan. Keterpaduan nilai- nilai itulah yang menjadi sumber inspirasi moral dalam menata dan mengembangkan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara bagi peradaban manusia. Sebab itu hijrah merupakan semangat reformasi dan bahkan revolusi untuk perubahan. Diantara semangat revormasi dan revolusi yang ditawarkan dalam peristiwa Hijrah adalah memperkokoh dan memantapkan sikap dan perilaku berbangsa dan beragama yang wasathiyah atau moderat.

Wasathiyah yang berasal dari kata “wasath” berarti, adil, terbaik atau pertengahan, sedangkan moderat dari kata moderation, moderasi, dan sering digunakan dalam diskusi dengan istilah moderator yaitu orang yang menjadi penengah jalannya diskusi. Wasathiyah atau moderat merupakan karakter umat Islam yang sangat menonjol sebagaimna yang disebut dalam al-Quran dengan “Ummtan wasatha” (Al-Baqarah: 143) yang artinya: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan (pertengahan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.( Qs. Al-Baqarah 143).

Sikap dan perilaku berbangsa dan beragama yang wasathiyah atau moderat merupakan cerminan watak yang mencintai kemajemukan dan keragaman. Watak ini akan menumbuhkan sikap keterbukaan dengan sesama dan mendorong seseorang untuk bekerja sama dalam mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Tentu dengan prinsip yang tegas dan jelas, yaitu bekerja sama dalam hal-hal yang menjadi kesepakatan untuk diselesaikan secara bersama dengan bersikap toleran terhadap perbedaan yang ada sebagaimana dalam konsep usuliyah dikatakan “nata’wanu fima ittafaqna wa ya’ dzaru ba’dhuna ba’dhan fima ikhtalafna” ( Dr. Mukhlis M. Hanafi. MA : 2017 ).

Watak dan sikap wasathiyah atau moderat inilah yang telah terbukti secara normative-ideologis dapat memelihara teguhnya harmonisasi kehidupan berbangsa di Indonesia sampai saat ini. Kita tahu bahwa kehidupan berbangsa dan bermasyarakat seperti Indonesia, adalah kehidupan yang dibangun atas kebersamaan, baik bersama dalam keragaman maupun dalam perbedaan.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk dan plural. Terdapat banyak agama, suku, dan bahasa yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. Keragaman demikian merupakan potensi perekat yang selama ini di junjung tinggi yang diikat dan tersimpul dalam symbol ke-bhinnekaan yaitu “Bhinneka Tunggal Ika”.

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti beraneka ragam budaya, etnis dan agama, namun tetap bersatu dalam naungan rumah bangsa Indonesia, merupakan patri . Kita satu sebagai sebuah bangsa, namun beraneka ragam dalam suku, budaya dan agama, kesatuan dalam keragaman ( unity in diversity) dan beragam dalam kesatuan. Inilah pandangan hidup bangsa Indonesia yang kita anut dan kita pelihara sampai hari ini.

Oleh sebab itu, sejak awal kemerdekaan, bangsa Indonesia telah memahami bahwa ke-bhinnekaan bangsa Indonesia adalah bersifat dinamis dan visioner yang memiliki nilai kebangsaan dan kemanusiaa. Bukan hanya semata menunjuk pada realitas antropologis dan geografis bahwa penduduk Nusantara ini tersebar di berbagai pulau dengan ragam bahasa, budaya dan agama. Lebih dari itu , juga tekat untuk bersatu memajukan dan mensejahterakan anak-anak bangsa dengan tetap menghargai identitas masing-masing etnis dan agama.

Namun belakangan, prinsip-prinsip ke-bhinnekaan seakan-akan mengendur, dan semangat kebersaaan seakan-akan terpecah menjadi kubu-kubu kekuatan yang sulit dikendalikan. Masing-masing kelompok kekuatan politik, ekonomi dan budaya, kelompok intelektual dan birokrat , dan antara kelompok masyarakat kecil dan elit sulit untuk menyatukan pandangan, sehingga standar capaian pembangunan bangsa seakan-akan tidaklagi dirujuk secara pasti. Dalam kondisi seperti itu tentu kita sepakat bahwa kita harus kembali memperkokoh ke-Bhinnekaan bangsa ini dengan menghayati dan mengimplementasikan makna dan nilai-nilai moral yang terkandung dalam peringatan Tahun Baru Hijrah yang kita laksanakan.

Momentum Hijrah harus menjadi edukasi kebangsaan, untuk mengembalikan semangat baru dalam menata dan merawat rumah Indonesia yang kita cintai ini. Merawat Indonesia dengan sikap hidup harmoni dan kompromi dalam satu komitmen bersama adalah suatu keniscayaan yang tak dapat diabaikan. Kita harus kembali menyatukan titik dan cara pandang bahwa pancasila adalah sebagai landasan bersama ( ‘kalimatun sawa’ ) untuk menyelesaikan persoalan bangsa yang kita hadapi. Apa yang kita hadapi hari ini , baik ancaman dunia kesehatan kita akibat Pandemi Copid-19 yang belum kunjung berakhir, maupun ancaman resesi ekonomi , pendidikan dan sebagainya , kesemuanya dapat kita atasi apabila seluruh potensi bangsa ini kembali memperkuat dan menyatukan cara pandang dalam pendapat yang berbeda. Potensi bangsa kita yang terserak akibat pertikaian orgumentasi dan konklusi harus dipungut kembali. Keluasan dan keluwesan jiwa bangsa harus di pupuk agar dapat menerima kelebihan dan kekurangan orang lain.

Dengan demikian momentum Hijrah tahun ini, kita harapkan, nilai-nilai moral yang terkandung dalamnya, dapat kita jadikan edukasi kebangsaan dan sekaligus sebagai sikap hidup berbangsa dan beragama, dan dapat pula membangkitkan kembali semangat kebersamaan dalam perbedaan, yaitu dengan memperteguh wasathiyah atau moderasi berbangsa dan beragama sekaligus. Hal itu sekurang-kurangnya dapat mendorong bangsa ini untuk bangkit kembali dari keterpurukan yang sedang kita hadapi saat ini dan Indonesia maju segera dapat kita raih, aamiin. Allahu “alam bissawab.***

News Feed