by

Hijrah dan Dialektika Peradaban Modern

  • Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag. MH, Kakan Kemenag Lingga

Menyambut tahun baru Hijrah setiap tahunnya, dalam khazanah ke-Islaman merupakan momentum sejarah yang sangat penting dalam proses kebangkitan peradaban manusia. Apalagi dikaitkan dengan isu merosotnya peradaban dunia modern terhadap keterpurukan budaya dan moralitas agama.

Tahun baru Hijrah mengandung semangat perubahan langkah baru peradaban Islam, dalam usaha membangun sendi-sendi kehidupan umat berbasis aqidah dan syariah. Sebagai sejarah dan peradaban, tahun baru hijrah sarat dengan nilai-nilai kehidupan, terutama tentang makna dan tujuan hidup manusia.

Tahun ini, tahun baru Hijrah 1 Muharram 1442 H jatuh pada Kamis, 20 Agustus 2020 M. Umar Ibnu-al-Khattab menetapkan kelender tahun baru Islam dari peristiwa Rasulullah SAW, bersama rombongannya hijrah dari Makkah ke Madinah, sebagai awal kebangkitan Islam. Hijrah yang secara harfityah berarti migrasi, keluar untuk meninggalkan, gerak perpindahan, secara umum dapat kita tafsirkan sebagai segala bentuk perbuatan untuk melakukan perubahan menuju ke suatu keadaan yang lebih baik.

Hijrah merupakan peristiwa sejarah yang memiliki nilai-nilai dan semangat ketuhanan dan kemanusiaan sekaligus. Dari sisi nilai Ketuhanan bermakna bahwa hijrah merupakan perintah Allah SWT kepada sang Rasul untuk menyelamatkan aqidah dan syariah. Sementara dari sisi makna kemanusiaan, hijrah merupakan peradaban babak baru kehidupan manusia. Begitu besar nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa hijrah, maka secara dialektika historis peritiwa ini merupakan langkah dasar lahirnya peradaban modern yang maju.

Hari ini kita sedang berada di era modern dengan segala perkembangannya. Menurut Agust Comte, perkembangan manusia atau masyarakat modern berjalan secara linear dari tahap teologis, metafisik sampai kepada tahap terakhir, positivistik (Syamsul Arifin:2000). Namun, para ahli ilmu pengetahuan banyak yang mengakui bahwa peradaban modern sekarang, tidak dibangun dari etos agama, bahkan sebaliknya dimulai dari penolakan secara radikal terhadap agama (Syamsul Arifin: 2000).

Padahal agama dan manusia tidak dapat dipisahkan dalam kehidupannya. Manusia membutuhkan agama karena agama menjadi petunjuk jalan kehidupannya. Dari pandangan ini dapat di katakan bahwa peradaban modern hari ini adalah peradaban sekuler yang telah kehilangan signifikansi historis bagi keseimbangan kebutuhan manusia.

Sejarah perkembangan modern telah banyak mereduksi hakikat kemanusiaan yang mengakibatkan sejarah manusia berkembang dalam ketidakpastian arah, seperti yang ditunjukkan oleh beberapa krisis mondial selama ini. Dalam catatan sejarah, peradaban demikian telah dimulai sejak abat pencerahan yaitu pada abat ke-15 yang kita kenal dengan zaman renaissance. Dari sinilah manusia mulai kehilangan amunisi kejiwaan, semangat ketuhanan dan kemanusiaan mulai redup dan tidak lagi berjalan secara seimbang. Sehingga para ilmuan banyak yang menyimpulkan telah terjadi kegersangan ruhani dan kehampaan spiritual yang sangat meresahkan, akibatnya manusia seakan-akan kehilangan orientasi makna hidup.

Kondisi ini secara terusmenerus telah membelenggu potensi kebebasan manusia akan keyakinan agamanya. Karena peradaban manusia berorientasi dan terpusat pada kemampuan rasionalitas semata. Kosmologis dianggap sebagai realitas yang mempunyai kekuatan supranatural. Akibat dari itu muncul praktek keagamaan yang menyesatkan, penyembahan benda-benda kosmologis yang semuanya diyakini sebagai Tuhan. Pada akhirnya agama merupakan cerminan dari rasa takut manusia kepada sesuatu yang mengandung misteri dan menakutkan serta mencekam.

Dalam pandangan ini yang kita maksudkan adalah bahwa hijrah merupakan phenomena pembebasan manusia dari keterpurukan belenggu faham jahiliyah modern untuk kembali melahirkan revolusi faham keagamaan (baca: Islam) pembebasan manusia dari ikatan mitologi, karena pada dasarnya manusia itu merdeka, dan juga sekaligus melahirkan revolusi pemikiran yang pada akhirnya menimbulkan revolusi ilmu pengetahuan dan tehnologi. Karena itulah momentum hijrah akan membimbing manusia pada puncak peradaban modern yang maju dan berkebudayaan.

Sebagai bentuk reformasi, hijrah menempatkan Iman sebagai landasan kehidupan modern yang maju. Hijrah adalah semangat perubahan, reformasi bahkan revolusi untuk menjungkirbalikan kebathilan yang merajalela dan menjajah kehidupan manusia. Reformasi Islam dimulai dari kesadaran diri atau keinsyafan luar biasa, untuk meninggalkan segala tirani dan kebathilan. Sedangkan reformasi jahiliyah (renaissance), menurut Toto Tasmara, hanyalah retorika untuk mengganti posisi semata-mata, menganti merek atau label, sedangkan isi dan substansi tidak berubah. Sebab itulah Allah SWT telah memberikan petunjuk dalam QS Al-Muddatsir 4-5) yang artinya: “ Dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah ( fahjur, berhijrah, dari ) segala ( perbuatan ) yang keji ( rujus ).” (QS: Al-Muddatsir 4-5).

Ayat ini memberikan isyarat bahwa dalam mempersiapkan perubahan , hijrah hendaknya dimulai dari diri sendiri yakni melakukan hijrah bathin yang diawali dengan kesadaran diri yang sangat kuat, untuk membersihkan diri dari keterbelenguan faham –faham tirani (sekularisasi, liberalisasi dan faham sesat lainnya).

Hijrah merupakan langkah reformasi dengan semangat dan komitmen yang utuh yang terpatri dalam sikap mental yang kukuh. Itulah sebabnya hujrah tidak berdiri sendiri, melainkan bergandengan dengan iman dan jihad fisabilillah ( al-Anfal 72-74 ). Seorang yang beriman adalah mereka yang didadanya menyala semangat untuk selalu melakukan perubahan dan mereka bersungguh-sungguh ( berjihad ) untuk memperteguh komitmen imannya dan memperjuangkan kebajikan dalam kehidupannya.

Peradaban modern terlahir dari Rahim sejarah kehidupan manusia. Yaitu manusia yang memiliki komitmen dan semangat hijrah tanpa henti, yang terpatri dalam jiwanya untuk menempatkan agama (baca: Iman) sebagai dasar perubahan sehingga peran sosial agama dalam masyarakat sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Dari sinilah peradaban modern terbentuk. Sebagai bentuk tranformasi baru, semangat hijrah dapat menjelma menjadi gerakan revolusi modern, yang menempatkan nilai ketuhanan dan kemanusiaan dalam kontek modernisasi dan peradaban modern yang di dukung oleh kemajuan Ilmu pengetahuan dan tehnologi.

Mudah-mudahan momentum tahun baru Hijrah tahun ini , dapat menjadi pendorong semangat modernisasi yang berperadaban tinggi berdasarkan nilai keimanan yang kokoh dan didukung oleh tehnologi maju yang mumpuni. Aamiin. ***

News Feed