by

Pembangunan Agama dalam Tatanan Baru

Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag.MH, Kakan Kemenag Lingga

Pola hidup baru dalam suasana pandemi global saat ini sesuatu yang menarik apalagi bila dikaitkan dengan sikap hidup beragama dalam masyarakat. Secara prinsip, dalam pola hidup manapun kehidupan beragama tidak dapat dipisahkan dengan norma-norma atau nilai-nilai baru yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dan dalam suasana apapun umat beragama itu berada. Tatanan baru merupakan fenomena yang tak dapat dielakkan. Kehidupan di era ini merupakan bentuk perubahan yang membutuhkan kesiapan dan kesabaran, terutama dalam melakukan pembiasaan dari perilaku hidup lama kepada tatanan hidup baru.

Membiarkan agama dalam situasi penuh stigmatis, tentu saja tidak menguntungkan bagi masa depan umat beragama. Mengantisipasi permasalahan era baru kehidupan beragama dalam masa pandemi covid-19, tentunya membutuhkan perhatian khusus dan serius untuk mencari solusi dan aksi yang tepat dan cepat.

Dalam kontek masyarakat saat ini, seluruh sendi penghidupan “dipaksa” merangkak untuk bangkit mempertahankan misi kehidupan, termasuk kehidupan beragama. Fakta ini menuntut adanya upaya pemberdayaan yang sistematis dan terus-menerus untuk melahirkan dan memulihkan tujuan pembangunan agama dalam masyarakat. Untuk itu solusi dan aksi yang dapat ditawarkan adalah dengan menerapkan beberapa paradigma pembangunan, yang diharapkan mampu membangun dan memperkuat tatanan kehidupan beragama, diataranya:

Pertama: Pemberdayaan. Paradigma ini adalah upaya penguatan secara teknis dan sistematis yang bersifat perubahan dan pertukaran secara cepat. Dalam upaya ini pemberdayaan dan pengembangan Sumber Daya Manusia menjadi titik sentral utama. Dalam istilah lain umat beragama diberikan peluang untuk memperluas horizon pilihan mengedukasi diri dan kelompok secara mandiri dan terpadu. Secara implementatif pilihan mengedukasi diri bagi masyarakat pada masa pandemi adalah tindakan nyata yang menawarkan alternatif model pemecahan masalah dalam kehidupan beragama. Banyak potensi umat yang terpendam selama ini, yang dapat di dorong kembali untuk bangkit. Diantara potensi umat beragama yang dapat kita dorong adalah kehidupan spiritual dan social secara bersamaan. Dalam hal ini umat beragama diberikan kesempatan untuk memecahkan persoalan yang terjadi melalui petunjuk agamanya.

Pemecahan masalah bagi pengembangan dan pemberdayaan umat beragama yang demikian itu diterapkan melalui model empiris perilaku individual dan kolektif (keumatan). Hal itu ditunjukkan dalam dimensi karya nyata dengan titik tekan pada pemecahan masalah yang dihadapinya.

Kedua: Komitmen dan percaya diri. Paradigma ini merupakan dinamika berkelanjutan untuk memperbaiki diri secara terus-menerus dengan memiliki kepercayaan diri yang utuh untuk memperjuangkan persoalan ke-ummatan masa kini dan masa yang akan datang. Sekurang-kurangnya persoalan ke-ummatan yang menjadi tantangan saat ini adalah dinamika ruhaniyah, dinamika intelektual dan dinamika ekonomi.

Ketiga unsur ini dapat dilakukan melalui beberapa upaya diantaranya adalah, a) komitmen terhadap matra ruhaniyah. Hal ini merupakan unsur penting dan paling utama dalam keyakinan agama. Tanpa unsur ruhaniyah pergeseran nilai dalam masyarakat akan mudah masuk dan melanda umat beragama akibatnya terjadinya degeradasi moral dan bahkan dapat mengguncangkan kesadaran umat beragama itu sendiri.

b). Peningkatan daya intelektual atau pendidikan agama. Intelektualias atau pendidikan agama sangat penting dalam upaya peningkatan Suber Daya Umat beragama. Kita harus berjuang untuk bangkit memajukan pendidikan di tengah wabah Covid-19 yang belum kunjung berakhir. Umat beragama harus keluar dari persoalan pendidikan yang masih banyak hambatan dan tantangannya. Baik dari sisi kurikulum yang masih perlu di sempurnakan, maupun dari sisi implementasi praktek pembelajaran. Kalau tidak, jelas akan dikalahkan oleh budaya negative yang terkooptasi dari budaya luar. Untuk itu perjuangan yang harus lahir untuk upaya ini adalah meningkatkan nilai-nilai kebenaran ilmiah dan kemoderenan berbasis agama.

Kemudian dalam kontek tanggungjawab sosial agama, harus mengedepankan jargon teologi sosial, sebagaimana yang diungkapkan oleh Agus Efendi: 1999, yaitu: Bahwa malas belajar adalah dosa besar, peningkatan daya intelektual harus merupakan gerakan semua lini ke-umatan, setiap dukungan terhadap gerakan peningkatan intelektual harus dipandang sebagai jihad besar yang harus diakselerasikan, harus siap menghadapi gelombang re-enginering yang berorientasi pada system managemen keunggulan dengan meninggalkan tatacara lama yang tidak efektif lagi, diperlukan gerakan aksional penggalian dan penghimpunan kekuatan-kekuatan ekonomis secara by design.

Ketiga: Memperdayakan ekonomi keummatan. Dalam kondisi ekonomi sedang melemah dan bahkan mengalami resesi ekonomi akibat pandemi global, maka telah menyebabkan pula lesunya tatanan ekonomi nasional, yang dapat berimbas pada runtuhnya ketahanan moral agama. Untuk itu ekonomi umat beragama, umpama saja dalam Islam seperti Zakat, wakaf, Infaq dan sadaqah harus bangkit. Jangan jadikan situasi ekonomi kita hari ini sebagai bahan polemi dan diskusi atau ditangisi. Tetapi mesti diberdayakan dengan solusi yang tepat dan cepat sesuai dengan kerangka ekonomi ke-ummatan .
Untuk keluar dari himpitan ekonomi ini sudah saatnya kita kembali menggalakan wira usaha keumatan disamping memperkuat sumber-sumber ekonomi seperti zakat, waqaf, infaq dan sadaqah dalam Islam.
Setiap warga masyarakat harus memiliki kesiapan untuk berkereasi, bekerja keras, komunikatif dalam berinteraksi, meningkatkan skillful dalam memfasilitasi jaringan kerja dan lebih profesional dalam mengelola potensi-potensi dan kekuatan-kekuatan ekonomi ummat. Disamping itu umat beragama juga dapat mengembangkan potensi pangan, perkebunan, sawah, dan peternakan dan lainnya terutama bagi umat yang berada di desa-desa yang memiliki lahan cukup untuk berusaha, disamping upaya peningkatan ekonomi makro secara nasional.

Untuk bisa bangkit melaksanakan usaha tersebut tentu harus di tunjang dengan penguasaan terhadap life skill atau keahlian hidup, keterampilan berwira usaha dan pemberdayaan ekonmi kerakyatan dengan di dorong oleh pemerintah secara serius dan tepat sasaran.

Untuk itu, meskipun badai pandemi global sedang melanda, kita harus tetap bersemangat untuk maju. Maka sudah saatnya kita umat beragama harus bangkit berjuang dengan paradigma baru dalam tatanan hidup baru atau New Normal di nusantara ini. Tentu semua itu dapat kita lakukan secara bersama-sama dengan bersatu padu dengan seluruh elemen bangsa dan masyarakat, demi maju dan tegaknya keyakinan agama yang kuat di negeri Indonesia yang kita cintai ini.

Semoga pandemi covid-19 segera berlalu dan kita semua dapat kembali bangkit untuk Indonesia maju. Aamiin.***

News Feed