by

Kembali Fitrah dan Haji Mabrur

  • Oleh: Dr. H. Erizal Abdullah, MH, Kakan Kemenag Anambas

“Tidaklah seorang anak terlahir, tetapi dilahirkan dalam keadaan fitrah maka kedua-dua ibu bapanya (memiliki andil) membuat Yahudi, Nasrani, atau Majusi (H.R. Aswad Ibn Syari’)

Secara bahasa, perkataan fathara yang bermaksud “mewujudkan kali pertama tanpa contoh sebelumnya”.

Fitrah (masdar) terdapat sekurang-kurangnya tiga pendapat, keyakinan dari dalam diri tentang keEsaan Allah; Agama yang lurus, (Islam); dan awal penciptaan (Awal Al-Khilqah).

Terkait dengan ibadah haji, ungkapan fitrah ini tersirat dalam sabda baginda Rasullah SAW, diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah SAW pernah bersabda: “Barangsiapa berhaji ke Baitullah tanpa berkata keji, tanpa bersetubuh, dan tanpa berbuat kefasikan (selama ihram), maka dia pulang (tanpa dosa) bagaikan bayi yang baru lahir.” (Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadits: 1819). (Mukhtashar Shahih Muslim, hal.399)

Secara umum fitrah bermakna bersih, suci tanpa dosa, jika asas teorinya ini, maka ibadah haji, hanya untuk penebusan, seperti dalam tradisi agama tertentu. Seolah-olah selesai menunaikan ibadah haji itu, tidak lagi perlu menyimpan keikhlasan dalam ibadah, keinginan untuk membantu sesama dan lain-lain. Anggapan ini hanya akan membuat seseorang untuk berbuat dosa lagi, setelah pulang ke tanah air, karena berpendapat boleh disucikan lagi melalui haji. Jika demikian, walaupun individu itu mampu untuk pergi haji setiap tahun, seseorang tidak akan dapat mencapai apa yang diharapkan oleh orang banyak ke arah title “haji mabrur”. Oleh karena itu, kembali kepada fitrah sebagai gambaran kemabruran haji patut dijelaskan secara komprehensif.

Kata fithrah, dengan bentuknya seperti ini, hanya sekali disebutkan dalam Al-Qur’an, yaitu pada QS 30:30. “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Secara fitrah, manusia menyukai prilaku yang lurus, kata-kata yang benar, dan sifat-sifat mulia, serta membenci lawannya seperti berkata dusta, serta sifat-sifat yang tercela. Ini adalah terjemahan secara harfiah dari agama yang lurus. Oleh karena itu, jika ada orang yang sabar dalam menjalankan tugas, jujur dalam perkataan maupun perbuatan, taat kepada Allah SWT dan peraturan maupun Rasul-Nya, mempunyai kesadaran sosial, berlaku adil, tidak tamak, dan lain-lain, ia adalah fitrahnya (sifat semula jadi) yang dibawa sejak lahir. Maksudnya, yang bertentangan dengan sifat-sifat mulia bermakna bukan dorongan fitrahnya, pasti terdapat faktor-faktor lain
yang mempengaruhinya.

Faktor yang telah dikenal pasti oleh Al-Qur’an sebagai syaitan dan hawa nafsu. Oleh karena itu, orang-orang yang haji mabrur bermakna dia telah berhasil terhadap syaitan, yang dilambangkan dengan melemparkan jumrah, menyatakan permusuhan abadi antara dirinya dan syaitan. Juga dilambangkan dengan tawaf, yang bermakna peningkatan kesadaran mengenai kehadiran Allah yang
mengiringi dimana saja dan kapan pun. Kemudian dilanjutkan dengan Sa’i, yang bermula dari Safa dan berakhir di Marwah. Ini bukan saja sebagai lambang bagi usaha lahiriah manusia, tetapi pada masa yang sama, mengajarkan bahwa segala usaha yang bermula dengan kesucian (Safa) akan bisa mendapatkan kepuasan (Marwah). Beliau juga berhasil melawan hawa nafsunya sendiri, seperti yang ditunjukkan dengan berpakaian ihram. Oleh karena itu, pakaian adalah simbol status sosial, yang sering membuat seseorang bertindak sewenang-wenangnya, mau dibedakan dari yang lain, merasa yang paling diperlukan. Maka pada masa wukuf yang merupakan inti haji, semua ditanggalkan, dan beliau kembali lagi kepada fitrahnya, yaitu kesadaran sebagai makhluk Allah SWT.

Semoga yang sudah ke Tanah Suci bisa kembali ke fitrahnya dan menjadi haji mabrur. Aamiin.***

News Feed