by

Makna Ibadah Sa’i

  • Oleh: Dr. H. Erizal Abdullah, MH, Kakan Kemenag Anambas

Sa’i bermakna berlari kecil. Sa’i adalah salah satu rukun haji dan umrah yang dilakukan dengan berjalan kaki (berlari-lari kecil) ulang-alik 7 kali dari bukit Safa ke Marwah yang berjarak sekitar 405 meter.

Sa’i dilakukan selepas tawaf, ibadah tawaf melambangkan tujuan hidup manusia dan kemana dia mengarah. Setelah kesadaran itu timbul, barulah sa’i dilakukan. Objektif utamanya ialah untuk menggambarkan bahwa tugas manusia adalah berusaha semaksimal yang mungkin.

Sa’i adalah perjuangan Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim, untuk mencari air bagi putranya yang masih bayi, yaitu Ismail. Peristiwa tersebut telah memberikan simbol dengan sempurna mengenai perpaduan antara usaha di satu pihak, dengan berlari-lari kecil antara bukit Safa dan Marwah tujuh kali ulang alik, dan tawakal, ketika ia menyerahkan nasib putranya yang masih kecil, Ismail, kepada Allah dengan menyandarkannya di dinding Ka’bah. Hal ini memberikan pelajaran berharga, bahwa dalam menghadapi hidup ini, harus berjuang dan bekerja keras, tetapi, perjuangan dan kerja keras mustilah disertai dengan tawakkal.

Hasil usaha pasti akan membuahkan hasil, baik melalui usahanya atas bantuan Tuhan, maupun melalui anugerah Tuhan tanpa usahanya, seperti yang dialami oleh Siti Hajar bersama putranya Ismail ‘Alaihissasalam, dengan ditemukannya sumber air Zamzam, Allah SWT telah menjanjikan bahwa; … “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS 65: 2 dan 3).

Siti Hajar memulai usahanya dari Bukit Safa yang arti harfiahnya adalah “kesucian” dan “ketegaran”. Ini merupakan lambang bahwa untuk mencapai hidup, seseorang harus berusaha dan usahanya harus dimulai dengan kesucian dan ketegaran dan harus pula diakhiri di Marwah yang berarti “kepuasan, penghargaan, dan kemurahan hati.”

Berlari antara bukit Safa dan Marwah menggambarkan semangat perjuangan hidup manusia yang tak pernah mengenal putus asa, manusia tidak boleh menyerah dan pasrah pada alam yang kadangkala terlihat kejam. Dibalik kekejaman alam tersebut, ternyata menyimpan kasih sayang yang memberikan sumber kehidupan bagi manusia dengan munculnya air zam-zam. Kesungguhan yang dilakukan oleh Siti Hajar dalam usaha mencari air sebagai nyawa kehidupan, membuat ia ulang alik sehingga tujuh kali antara Safa dan Marwah, hal ini memberikan arti bahwasanya hari-hari yang kita lalui berjumlah tujuh hari setiap minggu, mestilah diisi dengan penuh usaha dan kerja sungguh-sungguh, karena Allah teramat senang kepada hambanya yang bekerja sungguh-sungguh.

Maulana Jalaluddin Rumi berkata: “Tebar bibit, barulah bertawakkal.”

Sebagaimana Nabi kita juga pernah bersabda: “Ikat Untamu, baru bertawakkal kepada Allah.” Tawakkal tidak boleh dilakukan tanpa perjuangan dan kerja keras. Kata Rumi: “Tawakal dicintai Allah, Tuhan telah meletakkan tangga di depan kita agar kita mendaki hingga puncaknya. Anda punyai tangan, mengapa enggan dilentang? Anda punyai kaki, tetapi mengapa dibiarkan lumpuh? Kalau kamu ingin
bertawakkal, bertawakkallah melalui pekerjaanmu, tebarlah bibit barulah bertawakal.”

Ali Syari’ati mengilustrasikan bahwa: Ketika kita berusaha hendaklah kita seperti Burung Rajawali yang dengan sayapnya yang lebar dan kuat membubung di udara tinggi, lalu mengintai mangsa
yang berada di bawah pandangannya. Islam tidak menghendaki umatnya bersikap pasrah, menyerah dan lemah. Islam menghendaki umatnya bersifat gagah seperti burung Rajawali atau kata Rumi seperti seekor singa, di mana hewan-hewan lain memakan sisa-sisa makanannya.

Meskipun demikian, ritual sa’i menyimpan rahasia lain yang belum terungkap dalam buku-buku manasik, dan ini berkaitan dengan nama Safa, tempat memulai sa’i dan Marwah tempat sa’i berakhir. Spiritual, Safa dan Marwah menandakan tingkat atau derajat spiritual tertentu. Dalam pandangan sufi, sa’i bukanlah sekadar perbuatan fisik, tetapi juga aktivitas rohani tingkat tinggi. Siapa pun yang bersa’i tetapi tidak disertai perjuangan dan pendakian spiritual seperti diatas, maka dianggap belum bersa’i.

Tujuh kali ulang alik dari Safa ke Marwah dan dari Marwah ke Safa mengandung pelajaran bahwa tujuh kali dalam seminggu hendaklah selalu dalam kegiatan sehari-hari kita beranjak dari kesucian menuju kebajikan, dan dari kebajikan menuju kesucian. Demikian kita lakukan setiap hari dalam seminggu. Kalau kita lakukan setiap harinya, diharapkan akan terjadi transformasi jiwa dan moral sebagai buah manis ibadah haji, sekaligus sebagai tanda tercapainya haji mabrur. Kalau tidak, ibadah haji kita tidak akan memberi pengaruh positif dalam kehidupan. Wallahu’alam.**

Tarempa, 03 Agustus 2020

News Feed