by

Melontar Jumrah di Mina

  • Oleh: Dr. H. Erizal Abdullah, MH, Kakan Kemenag Anambas

Jumrah atau jamrah adalah melontar batu kecil sebanyak 7 kali dalam ibadah haji pada 11, 12, dan 13 DZulhijjah (hari-hari tasriq). Ada tiga Jumrah yang dilontar, yakni, jumrah ‘aqabah, jumrah ‘ula, dan jumrah al-wustei.

Melempar jumrah ini dilakukan di Mina. Secara harfiah Mina berarti tempat menumpahkan darah, atau Muna bermakna tercapainya harapan. Di Mina atau Muna, jamaah haji melontar syaitan dan menyemblih binatang.

Syaitan adalah nama yang populer diantara nama-nama penggoda kepada kejahatan. Nama ini dikenal oleh ketiga agama samawi Yahudi, Nasrani, dan Islam. Syaitan berasal dari bahasa Ibrani, yang berarti lawan atau musuh. Atau boleh jadi berasal dari bahasa Arab Syaththa yang berarti tepi atau syatha yang berarti hancur dan terbakar atau syathana yang berarti melampaui batas.

Ketika syaitan dikutuk Allah SWT, ia bersumpah di hadapan-Nya: “Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,”

“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Q.S.7: 16-17)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, “Kemudian aku (iblis) mendatangi mereka dari depan”. Maksudnya: Iblis akan membuat manusia ragu akan permasalahan akhirat (Min baini Aidihim). “Dari belakang mereka” maksudnya membuat mereka cinta kepada dunia (Wa Min Kholfihim). “Dari kanan” maksudnya urusan-urusan agama akan dibuat syubhat (Wa ‘An Aimaanihim). “Dan dari kiri mereka” maksudnya dan manusia akan dibuat tertarik dan senang terhadap kemaksiatan (Wa ‘An Syama’ilihim)
Ada dua penjuru yang aman dari rayuan syaitan iaitu arah atas (lambang
kehadiran Allah SWT, dan arah bawah (lambang kesadaran manusia akan kelemahannya di hadapan Allah SWT) maka manusia musti berlindung kepada Allah SWT dan menyadari kelemahannya sebagai makhluk agar selamat dari godaan syaitan.

Godaan syaitan seumpama virus, seseorang tidak akan terjangkit olehnya selama dia mempunyai kekebalan tubuh. Imunisasi adalah cara terbaik untuk memelihara diri dari penyakit jasmani. Kekebalan jiwa diperolehi seseorang saat berada di arah atas atau bawah. Al-Quran menggaris bawahi: Orang-orang yang beriman, berperang pada jalan Allah; dan orang-orang yang kafir pula berperang pada jalan Taghut (Syaitan). Oleh sebab itu, perangilah kamu akan pengikut-pengikut Syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya Syaitan itu adalah lemah (QS:4: 76)

Disaat terasa ada godaan, Al-Quran memerintahkan untuk ber-ta’awuz memohon perlindungan-Nya. Itu juga sebabnya dalam berjihad ketika melontar jamrah di Mina, dianjurkan untuk menyebut atau mengumandankan kalimat takbir Allahu Akbar. Makna falsafah dari melontar inilah, yang semestinya tergambar ketika melontar jumrah. Karena perbuatan melontar adalah simbol permusuhan kita
terhadap syaitan, sekaligus tekat kita untuk melawannya.

Ritual melontar jumrah di Mina ini juga biasanya dikaitkan dengan perisitiwa Nabi Ibrahim. Ketika beliau sedang mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk berkorban dengan menyembelih putranya, Ismail. Pada masa Nabi Ibrahim hendak melaksanakan perintah Allah tersebut, syaitan telah berusaha menggoda dan memujuk Nabi Ibrahim untuk menggagalkan rencananya menyembelih putranya yang sangat ia cintai. Namun, ketika godaan itu muncul untuk pertama kalinya, Nabi Ibrahim berusaha mengusir syaitan tersebut dengan melontarnya, dan syaitan pun pergi menjauh. Itulah lontaran pertama. Kedua kalinya, syaitan datang lagi untuk meyakinkan Nabi Ibrahim bahwa perintah menyemblih ini di luar batas kemanusiaan.

Namun, walau bagaimanapun, Nabi Ibrahim telah mantap dengan keyakinannya yang penuh, untuk mengerjakan perintah Allah, dan karena itu harus segera dilaksanakan. Kerana perbuatan syaitan, Nabi Ibrahim melontar untuk kedua kalinya dengan batu, setelah beliau beranjak beberapa langkah menuju tempat penyemblihan. Di sinilah peristiwa lontaran kedua atau tengah-tengah
yang disebut dengan Jumrah al-Wusthei.

Namun syaitan tidak putus asa untuk terus menggoda. la kembali membujuk dan merayu serta mencoba meyakinkan Nabi Ibrahim untuk membatalkan niatnya itu. Maka untuk ketiga kalinya, Nabi Ibrahim melontar syaitan tersebut dengan batu. Inilah lontaran terakhir yang ia arahkan kepada syaitan kerana setelah itu, ia telah sampai ditempat penyemblihan. Inilah lontaran terakhir yang disebut dengan Jumrah `Aqabah. Selanjutnya Nabi Ibrahim melaksanakan tugasnya menyembelih Ismail yang kemudian Allah SWT mengantikannya dengan seekor kibas (kambing besar).

Dan kami tebus anaknya dengan seekor binatang sembelihan yang besar (QS: 37: 107)

Pelontaran itu melambangkan usaha untuk melenyapkan segala bentuk jiwa syaytheniyyah yang bersarang dalam hati manusia. Jelasnya, apa yang seharusnya kita lontarkan adalah semua nafsu rendah syaytheniyyah sehingga setelah itu hati orang yang berhaji akan bersih dari segala macam penyakit hati dan jiwa. Melalui peristiwa ini, diharapkan setelah kembali ke Tanah Air, para jamaah haji kembali dalam keadaan suci lahir-bathin, seperti bayi yang baru saja dilahirkan.

Pada saatnya, kesucian hati ini akan berkesan pada perilakunya yang baik dan tulus setelah pulang melakukan ibadah haji.

Walaupun pada lahirnya hanyalah melontar batu-batuan ke Aqabah, padahal pada hakikatnya yang dilontar dengan batu-batuan itu adalah wajah syaitan dan menghancurkannya. Syaitan tidak dapat dikalahkan kecuali dengan melaksanakan perintah Allah sebagai pengagungan kepada-Nya dengan semata-mata mematuhi perintah-Nya, tanpa memikirkan diri sendiri dan akal.

Melontar jumrah adalah lambang perang dengan syaitan dan sesungguhnya memerangai syaitan bukan saja pada ketika melaksanakan ibadah haji, tetapi sepanjang hayat. Kerana syaitan tidak pernah mati dan ada di mana-mana, di rumah, di pasar, di kantor, ketika bersendirian maupun di keramaian tidak ada tempat yang kosong dari syaitan. Inilah yang mesti dihayati dan diamalkan oleh seseorang yang sudah menunaikan haji. Wallahu a’lam bish-shawabi.**

News Feed