by

Makna Spiritual Berkurban

  • Oleh: Dr. H. Erizal Abdullah, MH, Kakan Kemenag Anambas

Kurban berasal dari bahasa Arab “qurban” yaitu suatu ritual atau ibadah dalam Agama Islam dengan cara menyembelih lembu/kerbau/unta pada Hari Raya Aidil Adha; Suatu kewajiban yang dijadikan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. (Rian Hidayat El-Bantany, 2014).

Perkataan kurban berasal dari “qurban” yang berarti “dekat”. Karena itu, tujuan berkurban adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. (Mulyadi Kertanegara, 2010)

Apa keutamaan ibadah kurban? Dari Aisyah ra, Nabi SAW bersabda, “Tidak ada suatu amalan pun yang dilakukan oleh manusia pada hari raya kurban yang lebih dicintai Allah SWT dari menyembelih hewan Kurban. Sesungguhnya hewan Kurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya sebelum darah Kurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima di sisi Allah, maka beruntunglah kalian semua dengan (pahala) Kurban itu.” (HR Tirmidzi).

Perintah berkurban diberikan kepada Nabi Ibrahim melalui mimpi yang terjadi berulang-ulang, sehingga Nabi Ibrahim menjadi sangat yakin mimpi ini merupakan perintah dari Allah SWT, yakni ia harus mengurbankan anak kesayangannya Ismail, yang sedang meningkat remaja.

“Maka ketika anaknya itu sampai (ke peringkat umur yang membolehkan dia) berusaha bersama-sama dengannya, Nabi Ibrahim berkata: “Wahai anak kesayanganku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku akan menyembelihmu; maka fikirkanlah apa pendapatmu?”. Anaknya menjawab: “Wahai ayah, jalankanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah, ayah akan mendapati daku dari orang-orang yang sabar (QS. 37: 102)

Mengurbankan Ismail sering dipahami sebagai mengorbankan segala apa pun yang sangat dicintai. Ismail adalah lambang kecintaan terdalam antara seorang pemiliknya (Nabi Ibrahim) dengan milik terkasihnya (Ismail) yang dengan tulus ia kurbankan demi memenuhi perintah Allah SWT.

Kebanyakan orang mengorbankan miliknya yang dianggap kurang berharga, Nabi Ibrahim adalah simbol peribadi yang ikhlas mengorbankan apa saja demi mencapai keredhaan Allah. Dalam pandangan para sufi, kurban memberi makna lain, yang dari sudut pandang spiritual mengandung makna yang sangat dalam.

Bagi mereka, berkorban yang sejati bukanlah mengorbankan hewan ternak yang biasa dilaksanakan oleh orang-orang yang mempunyai uang dan berniat. Tetapi berkorban yang lebih tinggi maknanya ialah mengorbankan segala nafsu hewan dan nafsu rendah yang ada dalam diri kita. lnilah bentuk pengorbanan yang lebih signifikan dan akan berdampak lebih besar pada kemaslahatan umat.

Bila kita cermati, banyak kekacauan yang terjadi di kalangan masyarakat, bermula dari mengikuti dorongan kejahatan kecil. Dalam situasi ini, apa juga godaan yang wujud didalam diri manusia ada dorongan positif dan negatif yang disebut Rasulullah SAW dengan Lalattun Malakiyyah yang mendorong kepada kebaikan dan Lammatun Syaitaniyyah yang mendorong kepada kejahatan.

Ada juga Nafs Bahimiyah (nafsu haiwan) yang mendorong kepada pemenuhan syahwat kebinatangan seperti tamak, tidak pernah puas, ingin menang sendiri dan lainnya.

Nafsu Bahimmiyah harus dikikis dari jiwa manusia, itulah dilambangkan dengan menyembelih binatang. Karena nafsu sering dipergunakan oleh syaitan untuk menjerumuskan manusia. Sifat-sifat yang demikian itulah yang harus dibunuh dan dikorbankan demi mencapai Kurban (kedekatan diri kepada Allah SWT), Allah SWT mengingatkan: “Daging dan darah binatang korban atau hadiah itu tidak sekali-kali akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepadaNya ialah amal yang ikhlas yang berdasarkan taqwa dari kamu. Demikianlah Ia memudahkan binatang-binatang itu bagi kamu, supaya
kamu membesarkan Allah kerana mendapat nikmat petunjukNya. Dan sampaikanlah berita gembira (dengan balasan yang sebaik-baiknya) kepada orang-orang yang berusaha supaya baik amalnya (QS. 22: 37).

Semoga Allah SWT murahkan rezeki kita untuk melaksanakan ibadah kurban setiap tahunnya, dan mendapatkan hikmah dari ibadah yang dilakukan, Aamiin.

Dari Abu Sa’id al-Khudri RA, Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Fatimah, bangunlah. Dan saksikanlah kurbanmu. Karena, setetes darahnya akan memohon ampunan dari setiap dosa yang telah kau lakukan. Dan bacalah: ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku–korbanku–hidupku, dan matiku untuk Allah Tuhan semesta Alam. Dan untuk itu aku diperintah. Dan aku adalah orang-orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah,’ Seorang sahabat lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah SAW, apakah ini untukmu dan khusus keluargamu atau untuk kaum muslimin secara umum?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Bahkan untuk kaum muslimin umumnya’.”

Wallahu’alam.**

(Tarempa, 30072020)

News Feed