by

Wukuf

  • Oleh: Dr. H. Erizal Abdullah, MH, Kakan Kemenag Anambas

Wukuf adalah kegiatan utama dalam ibadah haji, tak peduli berapa kali kita melakukan umrah, selama kita belum berwukuf di Arafah, maka kita belum bisa dipandang atau dinilai sebagai haji.

Rasulullah SAW bersabda, yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim: “Haji adalah berwukuf di Arafah”.

Pelaksanaan wuquf dimulai waktu tergelincirnya matahari 9 Dzulhijjah hingga terbit fajar 10 Dzulhijjah. Wukuf berhenti sejenak untuk melakukan introspeksi dan kontemplasi (merenung dan berfikir dengan penuh perhatian).

Di Padang Arafah inilah, Nabi Adam, nenek moyang manusia, meminta ampunan dari Allah SWT atas kesalahan atau pelanggaran yang beliau lakukan mendekati pohon terlarang. Di sinilah, Nabi Adam ‘Alaihissalam bertaubat memohon ampun atas segala dosa dan kekhilafannya. Ditempat inilah taubatnya diterima dan dosa-dosanya diampuni. Karena itu, sangat dianjurkan selama wukuf di Arafah kita melakukan muhasabah serta meminta ampunan Allah SWT dengan sepenuh hati atas segala dosa dan kesalahan.

Wukuf adalah replika padang mahsyar di Arafah. Makna falsafahnya adalah bahwa manusia bila tiba waktunya nanti, akan dikumpulkan di padang mahsyar menungu giliran untuk dihisab dan ditetapkan apakah ke neraka atau ke syurga. Pada saat wukuf di Arafah adalah saat yang paling utama untuk berdoa.

Ali Syaria’ti mengaitkan Arafah dengan makrifat, yaitu ilmu pengetahuan. Karana wukuf dilakukan di siang hari, maka makrifat adalah jenis pengetahuan yang harus terang benderang dan bukan jenis pengetahuan yang eksklusif yang bersifat rahasia. Ilmu pengetahuan harus dibangun diatas dasar yang kokoh dan dengan asas yang dalam dan logik-rasional.

Arafah artinya adalah mengenal, mengetahui, dan menyadari. Sedangkan makna wukuf adalah berdiam diri. Dengan demikian makna falsafah dari wukuf di Arafah adalah berdiam diri untuk bertafakkur, menadahkan tangan, berdoa, merenungkan, serta muhasabah akan eksistensi diri dihadapan Allah SWT dan dihadapan makhluk alam semesta, selanjutnya melakukan perubahan rohani secara besar-besaran.  Dengan wukuf di Arafah bagi orang yang melaksanakan ibadah haji, diharapkan menjadi arif dan sadar akan keberadaan dirinya, dari mana ia berasal dan kemana ia akan pergi, sadar akan tugas dan tanggungjawabnya, serta mengamalkan kesadaran tersebut dalam bentuk nyata dikehidupan bermasyarakat.

Kata Arafah memiliki karakter yang sama dengan ma’rifah, yang berarti tahu atau kenal. Menurut al-Qusyairi, ma’rifat berarti seseorang mengenal Allah SWT dalam arti yang sebenar-benarnya. Ma’rifat adalah pangkal agama, sekaligus pangkal kebahagiaan. Ma’rifat dapat dicapai melalui beberapa usaha yaitu: Pertama, menyucikan diri dan meningkatkan moral atau akhlaq. Kedua, memperkuat komunikasi dengan Allah SWT melalui zikir dan munajat kepada-Nya. Ketiga, mengosongkan diri dan fikiran dari selain Allah dan memusatkan diri hanya kepada-Nya.

Perkara ini seterusnya menjadikan kesadaran diri hilang dan berganti kesadaran ketuhanan. Pada saat ini, seseorang dikatakan telah mencapai ma’rifat. Orang yang mencapai ma’rifat disebut orang arif. Orang arif adalah orang yang hanya melihat Allah di balik segala yang ada. Dari orang arif hanya lahir kebenaran dan kebaikan. Orang arif adalah orang yang kata-kata dan perbuatannya mampu membangkitkan semangat menggapai kebaikan.

Wukuf di Padang Arafah adalah kesempatan emas bagi jamaah haji untuk berdoa meminta kepada Allah SWT dengan penuh kekhusu’an. Karana Allah SWT membanggakan ahli Arafah kepada para malaikat dan mengampuni dosa-dosa hambanya yang meminta ampun.

Bagi kaum muslimin yang tidak melaksanakan ibadah haji saat ini, bisa melaksanakan ibadah puasa Arafah dimanapun berada. Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162). ***

News Feed