by

KPPAD Kepri Prihatin Pelajar SMP Dijadikan Eksploitasi Seksual

Batam (HK) – Adanya perdagangan manusia atau trafiking human di Wisma Mitra Mall, kawasan Mitra Mall, Batuaji berbuntut panjang hingga diproses sesuai hukum yang berlaku.

Pasalnya, perempuan berinisial DN yang masih duduk di bangku SMP di Batuaji ini sengaja dijual ke pria hidung belang dengan upah Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu per shot time.

Hal itu terungkap saat tim opsnal Polsek Batuaji berhasil melakukan penyamaran dan penyelidikan ke TKP dan ternyata benar jika gadis belia tersebut sudah bersama pria hidung belang di kamar sedang indehoi. Bahkan sebelum melakukan aksinya, DN sendiri tinggal bersama pacarnya ML.

Kasus itu menjadi perhatian Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kepri.

Ketua KPPAD Provinsi Kepri, Erry Syahrial, mengaku prihatin dengan munculnya lagi kasus eksploitasi seksual di kalangan remaja di Kota Batam. Setelah sebelumnya, saat awal pandemi Covid-19 juga ada kasus serupa yang melibatkan bebebapa remaja.

“Ini menunjukkan bahwa kasus eksploitasi seksual terhadap anak mulai meningkat menimpa remaja dan pelajar. Ini harus diwaspadai dan dipahami oleh orangtua, guru, masyarakat dan anak itu sendiri,” ujar Erry, Rabu (29/7/20) siang.

Menurutnya, ada beberapa faktor anak bisa menjadi korban eksploitasi secara seksual. Faktor dari internal anak sendiri yang rentan. Kerentanan anak disebabkan oleh pemahaman anak yang kurang, kurang perhatian dan kasih sayang orangtua, pengaruh kelompok teman sebaya yang juga menjadi korban duluan, faktor ekonomi anak dan meniru gaya hidup hedonis serta lainnya.

“Akibatnya anak gampang ditipu, dibujuk rayu, diiming-imingi mendapatkan sesuatu oleh pelaku,” kata Erry.

Misalnya kurangnya pengawasan orangtua pada anak, bermasalah dalam pola asuh, faktor ekonomi dan lainnya. Dan faktor ketiga adalah dampak negatif dari meningkatnya akses remaja kepada media sosial dan teknologi informasi belakangan ini.

Teknologi menjadi sarana bagi pelaku kejahatan pada anak salah satunya eksploitasi seksual, pencabulan, trafiking dan lainnya.

Dipaparkan erry lagi, kehadiran teknologi memang mempermudah semua orang dan berguna bagi pelajar salah satunya sarana belajar daring atau online. Namun di sisi lain, pengunaan handpohone dan media sosial tanpa pengawasan pada anak remaja bisa disalahgunakan untuk hal-hal negatif dan membahayakan keselamatan anak.

Di dunia perlindungan anak, ternyata kehadiran teknologi 4.0 telah mendekatkan pelaku kejahatan dengan korban anak. Saat ini banyak muncul kejahatan pada anak berbasis teknologi atau dipermudah dengan adanya handphone, media sosial dan lainnya.

Dari hasil monitoring dan evaluasi kasus-kaksus anak yang terjadi di Kepri, Erry menyimpulkan bahwa saat ini peningkatan kasus anak banyak dipicu oleh kehadiran teknologi informasi dan internet.

Untuk itu, Erry menghimbau kepada para orangtua untuk memperkuat mental dan moral anak-anak lewat penanaman nilai-nilai yang siap menghadapi zaman Millenial ini. Orangtua harus memperkuat pengawasan pada pergaulan anak-naknya. Edukasi anaknya lebih dahulu sebelum memberikan handphone. (ded/r)

News Feed