by

Ibadah Qurban, Menyemblih Sifat Kebinatangan

  • Oleh: H. Muhammad Nasir, S.Ag, M.H, Kakan Kemenag Lingga

Menyembelih hewan qurban merupakan bentuk pendekatan kepada Allah SWT. Mustahil Allah SWT membutuhkan hewan-hewan itu. Allah SWT tidak berkepentingan pada sesuatu apapun, karena dia adalah Sang Khaliq yang tidak ada satupun yang menyerupai-Nya. Kalau demikian halnya bagaimana kita bisa menangkap makna di balik itu semua. Inilah diantara pertanyaan mendasar ketika kita membaca judul tulisan ini.

Dalam Ibadah qurban sekurang-kurangnya terdapat tiga dimensi pemaknaan. Pertama, qurban mempunyai dimensi sosisal. Qurban dalam dimensi ini merupakan tindakan bermakna dalam kaitannya dengan kemanusiaan. Dimensi ini merupakan akhlaq tertinggi yang menjadi motivasi yang sangat kuat untuk berbuat kebaikan bagi kehidupan pergaulan manusia di tengah-tengah masyarakat. Mereka yang memiliki nilai dan makna ini akan sangat peduli dengan jeritan dan rintihan kaum tertindas dan kaum miskin. Mereka rela memotong rezekinya sebagaimana memotong hewan qurban untuk dibagikan kepada saudaranya yang lain. Disamping itu mereka memiliki penghargaan yang tinggi terhadap nilai kemanusiaan. Hal ini tercermin dalam kepribadian mereka yang selalu menjaga amanah, menebarkan kebaikan dan memiliki rasa persaudaraan yang tinggi antar sesama manusia. Disinilah arti pentingnya sisi terdalam dari nilai akhlaq perintah qurban.

Kedua, dimensi spiritual yaitu hubungan langsung kepada Allah SWT, melalui keyakinan (keimanan) bahwa qurban merupakan jalan kedekatan kepada Allah SWT. Melaksanakan qurban berarti melakukan ibadah sebagai bentuk ketaatan melakukan perintah Allah SWT. Ketaatan berqurban merupakan jihad yang amat berat sebagaimana jihatnya Nabi Allah Ibrahim AS, yang diperintahkan mengorbankan Ismail AS. Karena Ibrahim lulus dari ujian berat ini, maka ketaatan Ibrahim AS kepada Allah SWT dinilai sebagai jihad al-akbar, jihad besar melawan godaan, jihad melawan kemauan dan egoisme diri yang selalu menguasai manusia baik secara individu maupun kelompok. Ketika egoisme diri atau kelompok menguasai manusia, ketika itulah manusia melupakan Tuhan, dan mengabaikan ajaran-ajaran-Nya yang justru dimaksudkan untuk meninggikan harkat dan martabat kemanusiaan itu sendiri. Kemunculan egoisme, ananiyah, seperti egoisme politik, egoisme kekuasaan, dan bahkan egoisme agama, yang sekarang cenderung meningkat dalam masyarakat kita, hanya akan mengantarkan kita pada kekalahan atau kehancuran.

Ketiga, dimensi moral interpersonal. Dimensi ini adalah simbolistik penyempurnaan sifat manusia dari sifat kebinatangan. Manurut Imam Al-Ghazali menusia memiliki empat sifat yang selalu memengaruhi manusia untuk berbuat kejahatan dan kebaikan sekaligus yaitu: Sab’iyyah (binatang buas), bahimiyyah (binatang rakus yang bersumber dari syahwat), syaithaniyyah (syetan) dan rabbaniyyah (Rabb). Sifat inilah yang menjadi atribut-atribut hati manusia. Artinya hati manusia menggabungkan empat sifat tersebut, sehingga manusia adalah makhluk yang memiliki empat kepribadian sekaligus. Kita tidak akan membahas dua sifat terakhir tetapi kita fokus pada dua sifat pertama.

Sifat sabi’iyah dan bahimiyah, adalah dua sifat kebinatangan yang ada pada diri manusia. Kedua sifat ini merupakan sifat tercela dalam pandangan moral agama. Sifat ini bersemayam dalam hawa. Menurut Ibnu Qayyim al-Jaiziyah, “Al-Hawa” adalah kecenderungan jiwa kepada sesuatu berupa hasrat – hasrat badaniyah (biological need) yang sangat kuat dari dalam diri manusia. Di dalam hawa tersimpan ambisi dan kemauan yang selalu bergerak untuk menguasai qalbu. Hawa selalu ingin mendominasi nafsu , sehingga kita mengenal istilah hawa nafsu. Sifat inilah yang selalu membawa manusia terjerumus kedalam kejahatan.

Saluran qalbu yang paling berbahaya adalah saluran hawa. Bahkan Allah SWT sendiri selalu memberikan peringatan dan meminta perhatian yang teramat serius kepada manusia agar memperhatikan angin panas dari hawa. Ia sering diartikan sebagai angin yang menghembus keras, kenikmatan artifisial instan, cita rasa bahagia yang sesa’at, kebimbangan, dan nafsu-nafsu rendahan lainnya. Potensi hawa selalu ingin membawa manusia kepada sikap-sikap yang rendah. Menggoda, menyeru dan menyesatkan tetapi sekaligus memikat dan memperdaya. Walaupun cahaya di dalam qalbu pada fitrahnya selalu benderang, tetapi justru karena manusia memiliki potensi saluran hawa ini, maka seluruh qalbu bisa menjadi rusak binasa karena keterpikatan dan bisikan yang dihembuskan setan kedalam potensi saluran hawa, pada akhirnya manusia tersungkur manjadi budak hawa nafsu yang bermuatan energy negative yang menutup kalbunya yang suci dan terperangkap godaan dan rayuan fatamorgana sang hawa. Jika sudah demikian maka manusia akan digerakkan oleh motivasi hawa nafsu yang menyesatkan.

Dengan penyembelihan hewan qurban, pada hakikatnya Islam ingin membunuh sifat-sifat kebinatangan tersebut dan seluruh kecenderungan yang ada pada hawa nafsu, sehingga kecenderungan bathin manusia selalu terarah dan terpelihara dari sifat hewaniyah (kebinatangan) yang menjerumuskan. Dalam hal ini Allah SWT telah mengingatkan manusia dalam QS 79: 40-41 yang artinya: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabnya dan menahan diri dari kenginginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya (QS 79: 40-41).

Demikianlah qurban semestinya dilakukan. Ibadah qurban akan membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam hawa nafsu. Sehingga manusia digerakkan oleh hati nuraninya yang suci dan cenderung kepada nilai-nilai kebaikan. Nilai itu menjadi perilaku dalam kehidupan nyata di masyarakat.

Nah, kita semua berharap di tengah masyarakat yang masih dilanda Pandemic Covid-19, dalam tatanan baru, ibadah qurban setidaknya mampu memberikan motivasi bagi setiap kita untuk menjadi manusia yang terpelihara dari sifat kebinatangan yang hanya akan merugikan hidup ini. Merugikan diri sendiri dan merugikan orang lain apatah lagi merugikan masyarakat dan bangsa ini. Semoga qurban kita tahun ini mampu membunuh sifat-sifat kebinatangan kita demi memperkuat solidaritas umat untuk berbagi menuju masyarakat berkeadilan. Aamiin. ***

News Feed