by

Berwisata ke Camp Vietnam? Insya Allah, Aman…

Ketika menyebut Pulau Galang, maka pikiran akan langsung terbayang pada sebuah camp yang pernah didiami oleh orang-orang Vietnam Selatan. Mereka yang juga disebut sebagai manusia perahu itu dengan jumlah mencapai ratusan ribu jiwa, sampai ke lokasi itu setelah melarikan diri dari tanah kelahirannya akibat terjadi perang saudara.

Dalam catatan sejarah, sekitar 1980, mereka ditampung di pulau yang kini masuk dalam Kota Batam itu. Kala itu, Komisi Tinggi Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) dan Pemerintah Indonesia membangun sejumlah fasilitas di Pulau Galang, diantaranya barak pengungsian, tempat ibadah, rumah sakit, dan sekolah di atas lahan seluas 80 hektare. Program camp pengungsian Vietnam ini berakhir pada 3 September 1996.

Sekarang, masyarakat mengenal tempat tersebut sebagai salah satu wisata sejarah kemanusiaan yang dikelola oleh BP Batam. Tempat ini menjadi objek wisata dan jejak peninggalan sejarah kelam yang menceritakan kisah pilu warga Vietnam yang menjadi korban perang saudara.

Ketika pandemi covid-19, Pemerintah membangun RS khusus infeksi (RSKI) di Pulau Galang ini guna menampung pasien yang terdampak. Namun, tempat Wisata Sejarah Kemanusiaan Camp Vietnam jaraknya jauh dengan RSKI sekitar 2 km.

Salah satu sudut di lokasi Camp Vietnam. (haluankepri.com)

Setelah sempat ditutup selama masa pandemi covid-19, kini kawasan Camp Vietnam telah kembali dibuka untuk umum dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Manager Komersial Hunian Gedung, Agribisnis dan Taman Badan Pengusahan (BP) Batam, Soetarno Dwi Karaya, mengatakan bahwa tempat wisata Sejarah Kemanusiaan Kampung Vietnam pulau Galang telah dibuka kembali untuk umum dengan protokol kesehatan, lantaran sesuai pertimbangan dan jaraknya juga jauh dengan lokasi RSKI .

Dijelaskannya, lokasi RSKI memang berada di atas lahan yang di peruntukan para pengungsi dulu. Total luas lahan yang diperuntukan dari Pemerintah Indonesia kepada PBB untuk menampung pengungsi di Camp Vietnam saat itu luasnya sekitar 700 hektare, namun hanya sekitar 80 hektar yang dimanfaatkan sisanya masih hutan.

“Wisata Cam Vietnam telah dibuka, hasil penelitian lokasi wisata sangat aman untuk pengunjung, karena terpisah jauh jaraknya dari RSKI Covid 19,” kata Soetarno.

Hal senada juga dikatakan Anggota Tim Gugus Tugas Penaganan Covid 19 dari BP Batam, Azahari. Dia mengungkapkan, untuk wisata Camp Vietnam saat ini telah aman dikunjungi masyarakat. Sebab lokasi wisata Camp Vietnam dengan Rumah Sakit Khusus Infeksi Covid 19 terpisah serta akses masuknya pun berbeda.

“Jarak wisata Camp Vietnam dengan RSKI sekitar 2 km dan rumah sakit sendiri lokasinya di luar kawasan wisata,” kata Azhari.

Selain itu, lanjutnya, sekeliling area Rumah Sakit Khusus Infeksi dijaga ketat oleh Tim pengamanan gabungan dari unsur TNI – Polri, sehingga pasien didalam tidak bisa berkeliaran keluar masuk dan masyarakat umum tidak bisa masuk secara bebas ke dalam kawasan RSKI itu.

Pembukaan lokasi wisata itu, sesuai pernyataan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahwa virus tidak dapat terbang jauh terbawa angin. Virus mematikan itu, hanya dapat bertransmisi melaui percikan liur dari jarak 1,5 meter.

“Pembukaan kembali lokasi ini juga wajib disertai protokol kesehatan, rombongan pengunjung dan pengelola tidak dibenarkan berdekatan,” tuturnya.

Wisata sejarah Kampung Vietnam ini aman bagi para pengunjung. Tak hanya itu, guna memutus rantai penularan Covid-19, seluruh situs sejarah Kampung Vietnam khususnya ruangan museum yang kerap dikunjungi wisatawan tak lepas dari semprotan cairan disinfektan. (hkc/adv)

News Feed