by

Transformasi Nilai-nilai Qurban

  • Oleh: Agustar, Eseis tinggal di Batam

Momentum Idul Adha senantiasa mengingatkan kita pada peristiwa dramatis, pengorbanan Nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah SWT untuk menyembelih anaknya Ismail, putera satu-satunya yang sangat dicintainya.

Menurut logika akal sehat, hanya orangtua yang tidak waras saja yang memiliki niat untuk membantai anak kandungnya sendiri. Lebih dramatis lagi, ketika sang ayah mengutarakan niatnya kepada si anak untuk segera menyembelihnya, si anak bukannya menolak apalagi melawan, tetapi malah bersedia bahkan memotivisir ayahnya untuk segera melaksanakan niat tersebut. Akhirnya, setelah ketaatan kedua hamba ini teruji, Allah SWT memerintahkan objek sembelihan harus diganti dengan seekor kibas. Sehingga Idul Adha disebut juga dengan Idul qurban, yang bermakna pengembalian atau penyampaian kembali.

Dari perspektif zaman yang serba instan dan era informasi ini, peristiwa dramatik tersebut seolah-olah kehilangan daya gugah, sebab banyak orang tidak lagi merasa tersentuh dan tafakur kagum pada peristiwa agung di atas, sehingga peristiwa tersebut kehilangan transformasi nilai dalam gerak jaman yang panjang. Barangkali sebagian diantara kita telah kehilangan daya imajinasi, atau kita tidak lagi memiliki kesadaran intelektual untuk mengapresiasikan sistem nilai yang terkandung dalam peristiwa bersejarah tersebut. Sehingga momen historis seperti ini sering berlalu sebagai ritualitas keagamaan belaka, tanpa disertai proses transformasi nilai pada segenap realitas peta koherensi kehidupan para pemeluknya.

Tanpa Hak Milik

Permasalahan esensial yang sering kurang dipahami oleh anak manusia adalah tentang eksistensi dirinya dan elemen-elemen yang dimiliki oleh diri tersebut. Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang paling tidak berpunya dalam kehidupan fana ini. Manusia hanya memiliki persepsi-persepsi tentang kepunyaan. Dengan persepsi-persepsi tersebut manusia menjadi begitu posesif, dimana apa yang ia miliki seolah-olah benar-benar menjadi haknya yang sejati. Kekuasaan yang ia genggam, pengaruh yang ia punyai serta harta benda yang ia miliki dipersepsikan sebagai sesuatu yang tunduk di bawa otorisasi eksistensinya. Akibatnya, manusia demikian defensif dalam mempertahankan “hak milik” tersebut sampai ke sejengkal waktu menjelang ajal menjemputnya.

Padahal, manusia pada hakikatnya tidak pernah, dan tidak akan pernah memiliki apa pun jua, termasuk memiliki dirinya sendiri dalam kehidupan ini. Manusia “memiliki” sesuatu dalam keberadaannya bukanlah karena haq-nya untuk memiliki sesuatu tersebut, melainkan karena ada “Sesuatu” yang meminjamkan sesuatu kepadanya. Sesuatu tersebut, yakni Yang Maha Empunya, Yang Maha Memiliki, memiliki hak seratus prosen untuk menagih atau meminta kembali segala milik-Nya, kapan pun dan dimana pun, serta dengan cara bagaimana pun. Dialah Allah SWT.

Hak Tuhan itu gugur apabila ada seseorang yang mampu menciptakan dirinya sendiri serta segala sesuatu yang diperlukan oleh dirinya tersebut. Sehingga apa-apa yang ia punyai, termasuk dirinya sendiri akan menjadi haq-nya yang sejati tanpa bisa digugat oleh siapa pun jua. Jika bukan demikian, maka status segala yang dimiliki anak manusia dalam hidupnya hanyalah “barang pinjaman” belaka.

Dari titik pemahaman ini kita bisa menghimpun pertanyaan-pertanyaan. Berdasarkan hak historis apa manusia dengan arogannya menganggap dirinya paling berkuasa, dan segenap isi bumi ini dianggap milik mereka, sehingga lantas mereka lahirkan sistem-sistem, instrumen-instrumen legitimasi untuk mengatur “hak milik” tersebut? Dan celakanya, aturan dan sistem-sistem yang dibikin manusia itu senantiasa cenderung diskriminatif, tidak adil dan memihak yang telah melahirkan polaritas, eksklusivisme dan kesepihakan dalam kehidupan manusia itu sendiri.

Betapa semangat egosentrisme kekuasaan, monopoli ekonomi, primordialisme politik, eksklusivisme sosial, telah mewarnai berbagai tataran kehidupan umat manusia saat ini. Manusia pun akhirnya saling cakar dan saling tumpas dalam berebut dan mempertahankan sejumput “hak milik” yang secara tak sadar telah mencelakakan mereka dari masa ke masa. Manusia menggelarkan seteru antar sesamanya tidak lain karena tuntutan ego kecilnya untuk menguasai sepetak konsesi-konsesi kehidupan, yang diperjuangkan baik secara individu maupun kolektif. Sehingga, kehidupan umat manusia dewasa ini telah berada pada jarak yang teramat jauh dari keseyogiaan pemahaman nilai-nilai yang seharusnya menjadi rujukan jalan kehidupan itu sendiri.

Dari konteks sistem nilai, Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah SWT, secara substantif bukanlah untuk menyembelih Ismail. Melainkan untuk menaklukkan dan memusnahkan egosentrisme, kesepihakan, serta rasa memiliki dirinya sendiri dan rasa memiliki anaknya. Artinya, yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail semata-mata hanyalah proses pengembalian hak Allah SWT selaku Yang Maha Empunya, karena memang kesejatian kepemilikan bukanlah hak mereka sebagaimana juga dengan manusia-manusia lainnya. Kalau objek sembelihan kemudian diganti Allah SWT dengan seekor kibas, hal ini merupakan sebuah metaforik penumpasan sifat-sifat kebinatangan yang begitu kental melekat dan bersemayam pada setiap diri seorang anak manusia.

Kegagalan Transformasi Nilai

Maka, momentum Idul Adha selayaknya dijadikan proses transformasi nilai qurban, berupa upaya setiap individu untuk “menyembelih” egosentrismenya, subjektivismenya, keberpihakan hidupnya serta eksklusivisme wawasan sosialnya. Apalagi disaat terjadi kompetisi publik seperti pemilu dan pilkada, betapa banyaknya diantara kita yang tidak bersedia melepas kesepihakan kelompoknya, egoisme alirannya, monopoli dan oligopoli kepentingannya, eksklusivisme primordialnya pada segenap lini kehidupan.
Malah yang mengapung ke permukaan kehidupan justru sifat-sifat tersebut semakin menyubur dalam konteks rivalitas berebut simbol-simbol primordialisme, pengaruh politik, singgasana kekuasaan dan interest kelompok. Hal ini jelas bertolak belakang dengan makna qurban, yang seyogianya bagaimana kita “menyembelih” sifat-sifat eksklusif, kemudian melahirkan pola laku inklusif dalam bermasyarakat.

Menumpas ego dan kesepihakan dalam kehidupan sosial dalam artian bagaimana kita mentransformasikan eksistensi diri dari “aku yang eksklusif” kepada “aku yang inklusif” melebur dalam dimensi kehidupan “kekitaan” bukan “keakuan” di tengah-tengah orang banyak.

Dimensi-dimensi seperti inilah dalam momentum Idul Adha yang harus diqurbankan. Ketaatan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya adalah kemenangan seorang manusia sejati dalam menaklukkan egosentrisme pribadinya. Sementara keikhlasan Ismail untuk ditumpas nyawanya, merupakan pergulatan seorang anak manusia untuk mengalahkan nafsu kesepihakan, subjektivisme dalam dirinya.

Tetapi, bukankah di sekitar kita, bahkan dalam diri kita masing-masing, begitu banyak “Ibrahim-Ibrahim” yang tidak rela untuk melepaskan simbol-simbol politiknya, subjektivisme kekuasaannya dan egosentrisme kepentingannya. Dan, betapa banyak pula “Ismail-Ismail” yang tidak ikhlas “disembelih” kesepihakannya dan eksklusivisme kelompok-kelompok sosialnya.

Sehingga alangkah naifnya kita ini, karena setiap datang Idul Adha kita selalu tenggelam dalam ritus kesibukan dan gegap-gempita berqurban, yang hanya untuk menyembelih kambing-kambing dan sapi-sapi sungguhan. Akibatnya, yang sungguh-sungguh tersembelih hanyalah batang leher binatang-binatang tersebut. Sementara itu, kita tidak berdaya mentransformasikan nilai-nilai qurban kecuali menyembelih hewan-hewan qurban semata.

Sementara “kambing-kambing egoisme”, “sapi-sapi ketamakan dan keserakahan” tetap hidup subur dalam diri kita, di altar suci kekuasaan kita dan di singgasana otoriterisasi kepemimpinan kita. Hal itu kita pertahankan secara mati-matian, dan kita baru akan tersadar ketika sejengkal waktu menjelang ajal tiba. Subhanallah. Selamat berqurban dan Selamat Idul Adha 1441 H. ***

News Feed