by

Apa Hikmah Ibadah Kurban?

Ibadah kurban memiliki beberapa hikmah besar dan pesan moral yang terkandung di dalamnya. Dalam konteks ini hikmah besar ibadah kurban terbagi menjadi tiga aspek yakni sejarah, spiritual, dan sosial.

Dikutip dari Lirboyo, Sabtu (25/7/2020), pertama, Aspek Sejarah.

Syariat ibadah kurban mengingatkan kembali kepada umat Islam akan peristiwa agung Nabi Ibrahim Alaihissalam dan putranya Nabi Ismail Alaihissalam. Lewat sebuah mimpi, Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah Subhanahu wa ta’ala untuk menyembelih putranya sebagai tebusan dari nazar yang pernah beliau ucapkan.

Rekam sejarah tersebut mempunyai hikmah dan uswah (suri teladan) bagi umat Islam. Bagaimana bentuk kepatuhan dan kesetiaan seorang hamba terhadap Tuhannya. Sebab kalau bukan didasari keimanan dan kesetiaan, sulit rasanya membayangkan Nabi Ibrahim Alaihissalam rela memenuhi perintah menyembelih putra yang telah lama diidam-idamkannya.

Di samping itu dalam peristiwa tersebut terdapat sebuah praktik demokrasi ketika pengambilan keputusan yang telah ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam. Sebelum menjalankan perintah Allah Subhanahu wa ta’ala, Nabi Ibrahim terlebih dahulu mengajak dialog dan memberikan kesempatan pada Nabi Ismail Alaihissalam untuk memikirkannya secara matang atas perintah tersebut. Kendati sebenarnya mempunyai otoritas mutlak dalam mengambil keputusan, Nabi Ibrahim memilih melakukan pendekatan dialogis dan persuasif agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

Kedua, Aspek Spiritual. Tidak dapat dipungkiri bahwa penyembelihan hewan kurban adalah ibadah yang dianjurkan dalam syariat Islam sebagaimana tercantum dalam Alquran dan hadis. Sebab sejatinya setiap umat Islam yang melaksanakan ibadah kurban tidak memiliki tujuan apa pun kecuali menjadikan ibadah tersebut sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala serta mengharapkan ridho dan ampunan-Nya.

Kemudian ibadah kurban juga memiliki hikmah spiritual dalam pembiasaan diri untuk bersikap ikhlas dalam melaksanakan amal salih.

Oleh karena itu, tidak heran betapa besar pahala dan balasan yang telah Allah Subhanahu wa ta’ala janjikan bagi mereka yang melaksanakan ibadah kurban. Salah satunya sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam hadis:

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، إِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا، وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ

Artinya: “Tiada amal ibadah manusia pada hari Nahr (hari menyembelih kurban) yang lebih disenangi oleh Allah Subhanahu wa ta’ala kecuali mengalirkan darah (menyembelih binatang kurban). Sesungguhnya hewan kurban datang pada hari kiamat dengan tanduknya, bulunya, dan kuku kakinya. Dan sesungguhnya darah binatang kurban akan jatuh (ke dalam tempat diterimanya amal) oleh Allah sebelum darah tersebut jatuh ke bumi.” (HR At-Tirmidzi)

Ketiga, Aspek Sosial. Dalam fikih, penyembelihan hewan kurban tergolong ibadah ghoiru mahdhoh. Dengan artian bahwa amalan tersebut tidak hanya menitikberatkan pada hubungan seorang hamba kepada Tuhannya, melainkan juga mempertimbangkan hubungan antara hamba tersebut dengan masyarakat di sekitarnya.

Selain memberi manfaat sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, ibadah kurban juga memberi manfaat pada sesama umat Islam terutama terhadap golongan fakir miskin dan kaum yang lemah (dhuafa).

Melihat hal tersebut, tidak terasa aneh bahwa dalam kajian fikih mengenai pendistribusian daging kurban dirumuskan dalam beberapa pemilahan. Pemilahan tersebut mencakup pendistribusian bagi orang-orang yang termasuk kategori kaya hanya sebatas ith’am (legalitas konsumsi).

Namun untuk golongan fakir miskin lebih leluasa, baik dalam hal menjual atau mengonsumsi ataupun yang lainnya, karena pemberian pada kelompok ini berstatus tamlik (pemberian hak milik).

Ibadah kurban sebagai salah satu syiar agama Islam merupakan ibadah yang mengajarkan umat untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala seraya mengikuti jejak historis Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Nabi Ismail Alaihissalam yang menjadi lambang ketaatan dan kesetiaan seorang hamba pada perintah Tuhannya serta ibadah yang mampu menarik kekuatan hubungan sosial dengan umat islam yang lain.

Dengan mengetahui beberapa aspek tersebut, diharapkan umat Islam semakin tekun dan bersemangat dalam menjalankan perintah anjuran berkurban serta mampu menerapkan dan mengamalkan substansi beserta tujuannya dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu a’lam.*

(sumber: okezone.com)

News Feed