by

Saling Memaafkan Bisa Cegah Penyakit

Saling memaafkan bukan hanya dapat menjaga silaturahmi antarsesama saudara. Namun, juga bisa mencegah berbagai penyakit yang sering tiba-tiba menimpa manusia.

Dikutip dari Buku Pintar Sains dalam Alquran Mengerti Mukjizat Ilmiah Firman Allah karya Dr. Nadiah Thayyarah, memaafkan dapat mencegah penyakit juga tertulis di dalam Alquran.

Di dalam Alquran terdapat banyak ayat yang menyeru manusia agar bersikap toleransi dan memaafkan kesalahan orang-orang yang berbuat salah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْنَا ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَآ إِلَّا بِٱلْحَقِّ ۗ وَإِنَّ ٱلسَّاعَةَ لَءَاتِيَةٌ ۖ فَٱصْفَحِ ٱلصَّفْحَ ٱلْجَمِيلَ

(Wa mā khalaqnas-samāwāti wal-arḍa wa mā bainahumā illā bil-ḥaqq, wa innas-sā’ata la`ātiyatun faṣfaḥiṣ-ṣaf-ḥal jamīl).

Artinya: “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik,” (QS. Al Hijr: 85).

Kemudian dalam ayat lainnya, Allah berfirman:

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

(Alladżīna yunfiqụna fis-sarrā`i waḍ-ḍarrā`i wal-kāẓimīnal-gaiẓa wal-‘āfīna ‘anin-nās, wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn).

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan,” (QS. Ali Imran: 134).

Kemudian Allah berfirman dalam Surah Al Furqan:

وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا

(Wa ‘ibādur-raḥmānillażīna yamsyụna ‘alal-arḍi haunaw wa iżā khāṭabahumul-jāhilụna qālụ salāmā).

Artinya: “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan,” (QS. Furqan: 63).

Demikian pula dalam sunah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam banyak hadist yang menganjurkan untuk memaafkan kesalahan orang lain dan menyingkirkan kedengkian dalam hati.

Ibnu an-Najjar meriwayatkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya:

“Sambunglah silaturahmi dengan orang yang memutusnya dan berbuat baiklah kepada orang yang telah bersikap buruk kepadamu. Katakan yang benar walaupun terhadap dirimu sendiri,”.

Dalam hadist lain disebutkan: “Tak ada takaran yang Iebih besar pahalanya di sisi Allah dari takaran amarah yang ditahan seseorang demi mengharap ridha Allah,” (HR. Ibnu Majah).

Sikap pemaaf dapat membuat manusia yang dianiaya atau dizalimi orang lain mampu hidup dengan tenang dan damai. Sebab, sikap ini menjauhkannya dari kegelisahan atau tekanan emosi serta akibatnya yang dapat merugikan kesehatan.

Memaafkan orang yang bersalah tidak berarti harus terus melanjutkan hubungan dengannya atau tetap menjaga perasaan terhadapnya, akan tetapi melupakan sikap buruknya dan menjauhkannya dari ingatan. Dengan demikian, akan hilang pula apa yang terpendam dalam hati.

Maksud menahan amarah dan memaafkan dalam hadist tersebut ialah memberi maaf saat mampu. Para perawi meriwayatkan dari Nabi dengan isnad yang baik, bahwa beliau bersabda:

“Siapa yang menahan amarahnya padahal ia mampu mengeluarkannya, maka Allah akan memanggilnya sebagai pemuka seluruh makhluk, memberinya pilihan berupa bidadari-bidadari cantik. Ia boleh menikahi siapa saja di antara mereka yang diinginkannya,” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dihasankan oleh al-Albani).*

(sumber: okezone.com)

News Feed