by

Masanya Industri Sawit Jadi Panglima di Tengah Gelombang Corona

JAKARTA (HK)-Pemerintah perlu serius mengurai segala hambatan yang dihadapi pebisnis sawit di tengah pandemi. Pasalnya, kontribusi industri sawit yang tidak kecil terhadap total ekspor nonmigas harus jadi pertimbangan pemerintah.

Sepanjang Januari hingga Mei 2020, ekspor CPO dan turunannya tercatat USD7,6 miliar. Berkontribusi terhadap ekspor non migas sebesar 12,5%. Secara nilai, ekspornya meningkat ketimbang dari tahun sebelumnya.

Tentu jumlah tersebut terbilang besar, sehingga wajar jika Hal itu disampaikan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono meminta kepada pemerintah kalau ekspor sawit bisa jadi panglima dalam perdagangan luar negeri atau internasional.

Dia berharap, pemerintah memprioritaskan penyelesaian atas berbagai hambatan di sektor perdagangan luar negeri. “Seluruh hambatan perdagangan harus menjadi tujuan utama untuk dicarikan solusinya. Misalnya, memperkuat G to G,” ujar Joko dalam Webinar yang diadakan Forum Jurnalis Sawit (FJS), bertajuk “Mendongkrak Pasar Domestik dan Ekspor Minyak Sawit Indonesia” di Jakarta, baru-baru ini.

Terkait Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) yang belum tuntas, Joko meminta pemerintah konsisten dalam memperjuangkan sawit Indonesia di kancah internasional. Termasuk dari sisi regulasi terhadap industri sawit dalam negeri, perlu ada kajian. Salah satunya terkait aturan logisitik yakni over dimension over load (ODOL). “No Palm Oil No CEPA, pemerintah sudah benar. Dalam hal ini, perlu konsistensi. Atau aturan ODOL,” urainya.

Sementara, Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun mengatakan, pasar ekspor produk sawit Indonesia didominasi India, UE, China, Pakistan, Bangladesh, AS, Timur Tengah dan Afrika.

Saat Pandemi Covid-19, kata Derom, permintaan akan minyak sawit dan produk turunannya, boleh dibilang longsor. Seiring penurunan minyak nabati non sawit. Semisal Juni 2020, permintaan minyak sawit di India anjlok hingga 56%. “Kelemahan produk sawit di Indonesia karena promosi dan iklan minim. Beda dengan produk lainnya,”  sebut Derom.

Terkait kebijakan pemerintah mendorong penggunaan biodiesel dari minyak sawit, dirinya optimistis dalam menatap pasar domestik. Namun, semuanya perlu waktu karena harus dikaji secara mendalam dengan melibatkan seluruh stakeholders. “Misalnya D100 yang diakui Pertamina bagus, dan sudah diuji tim ITB, kabar bagus. Namun harus didiskusikan dengan industri terkait,” tuturnya.

Meski permintaan dunia melemah karena pandemi Covid-19, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Kasan masih optimistis akan pulihnya ekspor minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dan produk turunannya. “Namun Kita perlu mewaspadai tren penurunan pangsa ekspor sawit Indonesia yang terjadi dalam 3 tahun belakangan ini,” jelas Kasan.

Menurut dia, total ekspor bulanan CPO dan produk turunannya, tercatat anjlok semenjak merebaknya Pandemi Covid-19. Apalagi bila dibandingkan Desember 2019, nilai ekspor minyak sawit dan turunannya mencapai USD15,98 miliar, atau 53,5% pangsa pasar dunia. “Nilai ini turun 12,32% dibanding pada periode yang sama tahun lalu. Sementara, tren ekspor sepanjang periode 2015-2019 tercatat melorot 0,04%,” pungkasnya. [*]

sumber:sindo

News Feed