by

Hijazi-Helmy Kuda Hitam di Pilwako Batam

Batam (HK) – Konstalasi politik menuju Pemilihan Walikota (Pilwako) Batam sangat dinamis dan terbuka lebar. Setiap partai politik dan figur potensi masih memungkinkan terjadi bongkar pasang, terlebih penetapan Pasangan Calon (Paslon) baru akan dilakukan pada 23 September 2020 mendatang.

Banyak pengamat dan diskusi warung kopi, diprediksi bisa muncul tiga Paslon di Pilwako Batam 9 Desember mendatang, terlebih dua Paslon sudah menunjukkan komitmen berpasangan, yakni pasangan incumbent HM Rudi-Amsakar Achmad (Ramah) dengan perahu politik NasDem dan Hanura dan Lukita Dinarsyah Tuwo-Abdul Basyid Has diusug PDI-P, Gerindra, dan PKB.

Lalu yang menjadi pertanyaan besar siapa pasangan ketiga, banyak pihak memprediksi Paslon tersebut adalah Ahmad Hijazi-Helmy Hemilton atau koalisi Partai Golkar dan Demokrat yang turut menggandeng sejumlah partai kecil lainnya. Terlebih Golkar sebagai partai besar diprediksi tak mungkin hanya menjadi pengusung apalagi penonton di Batam.

Dan menariknya, duet keduanya berpeluang jadi kuda hitam di Pilwako Batam.

“Tidak saja seru, pasangan Ahmad Hijazi-Helmy Hemilton atau Helmy Hemilton-Ahmad Hijazi bisa jadi kuda hitam,” ujar Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Riau Kepulauan (Unrika) Batam, Yustinus Farid Setyobudi kepada wartawan di Sukajadi, Selasa (21/7/2020) sore.

Menurutnya, dalam konteks politik dengan desain tergantung strategi bakal calon (Balon). Artinya, tidak ada jaminan incumbent yang jadi berikutnya. “Kita punya pengalaman Pilwako di Tanjungpinang, incumbent Lis Darmansyah-Maya Estianti kalah,” ungkap Farid.

Berkaca juga waktu Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta, incumbent Fauzi Bowo – Nachrowi Ramli (Foke-Nara) kalah dengan Jokowi – Basuki Tjahaja Purnama.

“Kurang kuat apa Foke-Nara, tapi kalah. Ketika bicara politik, tidak ada jaminan bahwa incumbent pasti duduk lagi. Meski diakui bahwa keuntungan incumbent karena dia punya fasilitas.

Terkait bakal calon pasangan Ahmad Hijazi-Helmy Hemilton atau Helmy Hemilton-Ahmad Hijazi, menurut Farid, pasangan ideal antara birokrat yang matang sekaligus ekonom, dan Helmy adalah tokoh milineal praktisi politik yang faham hukum.

“Pak Ahmad Hijazi itu mantan Kadisperindag Pemko Batam dan mantan Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Riau selama dua periode,” terang Farid.

Sedangkan Helmy Hemilton, lanjut Farid, tokoh milineal mantan Wakil Ketua DPRD Batam dan master hukum. Ke depan, nilai Farid, Batam butuh bukan hanya faham birokrasi, tapi juga harus faham apa kebutuhan Batam ini. Khususnya pemilih milenial punya kekuatan tersendiri di Batam dengan 40 persen lebih.

“Itu yang harus ditonjolkan dua pasangan ini. Kombinasi birokrat dengan orang hukum atau politisi pas sekali,” ulasnya.

Namun bicara partai, kata Farid pula, Golkar 7 kursi dan Demokrat 3 kursi sudah cukup mengusung. “Politik itu dinamis, kita tunggu sampai pendaftaran di KPUD 3-6 September 2020 baru diketahui berapa pasang. Kalau bisa secepatnya, biar masyarakat tak bingung calon-calon yang maju,” ujar Farid.

Ketua Badan Pembinaan Organisasi Kaderisasi Kepartaian (BP OKK) Partai Demokrat Batam, Rahmad Sukri Hasibuan membenarkan partai berlambang segitiga mercy ini, sedang menunggu surat rekomendasi penugasan dari DPP Partai Demokrat kepada Helmy Hemilton untuk mencari koalisi dan pasangan maju pada Pilwako Batam 2020.

Sementara salah satu tim Ahmad Hijazi yang tak mau disebut namanya, terjadi tarik ulur kepentingan di pusat untuk menggolkan Ahmad Hijazi sebagai bakal calon Wali Kota dari partai berlambang pohon beringin ini.

“Kalau Helmy dapat Demokrat, dan Pak Hijazi direstui pusat, insya Allah jadi pasangan ini,” pungkasnya.(r/ays)

News Feed