by

Apa Pahala Shalat Dhuha?

  • Oleh: Dr. KH. Syamsul Yakin, MA

Pahala salat Dhuha tidak hanya berupa dicukupi harta, tapi juga diampuni segala dosa. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang selalu mengerjakan shalat Dhuha niscaya akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Turmudzi). Selama ini salat Dhuha dilaksanakan agar seseorang diberikan keluasan rezeki.

Secara filosofis, hadits ini dapat dipahami bahwa untuk mendapatkan rezeki yang lapang, seseorang harus terbebas dari dosa-dosa terlebih dahulu. Agar terbebas dari dosa-dosa itu, Nabi SAW mengajarkan untuk salat Dhuha. Logikanya, Allah SWT akan memberikan begitu saja keluasan rezeki kepada orang yang tak lagi berdosa.

Secara praksis, shalat Dhuha merupakan bukti pengakuan seorang hamba bahwa sejatinya rezeki bukan berasal dari yang dia cari, tapi dari yang Allah SWT beri. Inilah cara orang beriman yang senantiasa melibatkan Allah SWT dalam berbagai urusan, termasuk dalam persoalan penghidupan. Tak ada daya bagi manusia untuk mencari rezeki.

Tatkala seseorang shalat Dhuha, sejatinya ia tengah memohon kepada Allah SWT dengan kasih dan cinta-Nya agar Dia “bekerja” untuknya. Artinya, ia memahami bahwa rezeki yang didapat bukan karena kerjanya, tapi karena pemberian Allah SWT. Apalagi, seberapa digdayakah tenaga dan ilmu manusia untuk mendapatkan rezeki?

Berdasar cara pandang ini, maka sejatinya rezeki bukan dicari tapi tinggal dijemput, karena memang Allah SWT telah menghamparkannya di muka bumi. Formulanya, kian dekat seseorang kepada Allah SWT, maka kian hebat rezeki yang didapat. Jadilah ia tak lagi mencari-cari harta, tapi harta yang mengejar-ngejar dirinya.

Dalam sudut pandang tasawuf, orang bertakwa yang tak lagi berdosa, ia tak lagi membutuhkan harta, kecuali sekadar agar kuat berdiri beribadah. Sebagian besar harta yang dimilikinya dibagi-bagikan kepada yang memerlukan. Dalam konteks inilah, Allah SWT melipatgandakan harta itu berlipat-lipat. Begitu seterusnya.

Berdasar informasi di atas, untuk mendapatkan harta yang lapang, bisa dimulai dengan banyak bertobat. Dan lagi-lagi kreteria orang bertobat adalah orang yang konsisten salat Dhuha. Nabi SAW bersabda, “Tidaklah seseorang selalu mengerjakan salat Dhuha kecuali ia telah tergolong sebagai orang yang bertobat.” (HR. Hakim).

Dalam Alquran orang yang bertobat dan memohon ampun akan beroleh bermacam rezeki. “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu. Dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu.” (QS. Nuh/71: 11-13). Seorang mukmin, kian bertobat jadi kian kaya.

Pahala yang diraih seorang hamba tergantung dari intensitas dan kuantitas rakaat salat Dhuha yang didirikannya. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang salat Dhuha dua rakaat, maka dia tidak ditulis sebagai orang yang lalai. Barangsiapa yang mengerjakannya sebanyak empat rakaat, maka dia ditulis sebagai orang yang ahli ibadah.

Barangsiapa yang mengerjakannya enam rakaat, maka dia diselamatkan di hari itu. Barangsiapa mengerjakannya delapan rakaat, maka Allah tulis dia sebagai orang yang taat. Dan barangsiapa yang mengerjakannya dua belas rakaat, maka Allah akan membangun sebuah rumah di surga untuknya.” (HR. Thabrani).

Semoga Allah SWT memberikan kemudahan kepada kita agar bisa konsisten melaksanakan shalat Dhuha. Karena ternyata kelapangan rezeki yang didapat dari salat Dhuha hanyalah “pahala hiburan”. Pahala yang sesungguhnya dari salat Dhuha adalah diampuni segala dosa dan akan dibangunkan sebuah rumah nan indah di surga. Aamiin. *

(sumber: republika.co.id)

News Feed